Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Rapi dalam Memori


__ADS_3

"Kalian ini bisik-bisik apa sih? Kok seru sekali!" tanya mamah Yuli penasaran.


"Ada deh ..., ha-ha-ha," jawab ketiganya kompak.


Mamah Yuli menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah anaknya yang sudah dewasa masih sama seperti anak kecil. Ketiganya hanya meringis, menampakkan barisan gigi masing-masing. Rida kembali menanyakan bagaimana perasaan kakaknya. Apakah dia bahagia karena hubungan Disa dan Aris bisa dibilang gagal?


"Sebenarnya kasihan sih dengar dia dihina begitu. Dipandang sebelah mata seperti itu rasanya pasti nyesek. Tapi ..., kok Mas lega, ya? Ada satu beban yang kayaknya lepas gitu dari hati. Well ..., aku senang sih. He-he-he," ucap Dani jujur pada adiknya.


"Pepet terus sih, Mas!" Sita menyemangati Dani untuk mendapatkan hati Disa.


"Tapi Mas ragu, bagaimana dengan Aidha?" ketiganya melihat Aidha dengan tatapan dalam.


Rida dan Sita sangat tidak bisa menebak isi hati Aidha. Dia tipe anak yang susah untuk membuka diri pada orang lain. Selalu menyimpan semua luka yang ada untuk dirinya sendiri. Itulah yang menjadikan Aidha gadis yang keras kepala dan dingin.


"Pasti ada jalan kalau memang sudah jodoh, Dan." Mamah Yuli tersenyum pada ketiga anaknya.


"Do'akan ya, Mah!" pinta Dani.


"Pasti, Nak. Isikharoh," ucap mamah Yuli.


"Iya, Mah."


Rida dan Sita tersenyum mendengar ucapan mamahnya. Dani mendekati Aidha dan Salwa yang tengah asyik bermain dengan Andra dan Arsya. Mereka tertawa karena tingkah gemas baby boy itu.


Kini Rida yang penasaran dengan asmara Sita. Bagaimana kelanjutan kisah adiknya itu dengan sahabat suaminya? Dia sudah cekikikan sendiri membayangkan rencananya. Jika keduanya berhasil, maka mamah Yuli hanya perlu memikirkan Fikri.


Kadang Rida kasihan melihat mamahnya. Banyak pikiran melihat anak-anaknya belum ingin berumah tangga. Padahal, jika dilihat dari segi umur, semuanya sudah siap. Segi materi? Dani sudah sangat siap. Entah apa yang membuat para saudaranya masih ingin melajang.


Jika Dani, Rida bisa memahami permasalahannya. Tapi Sita? Bukan sedikit lelaki yang ingin bersanding dengannya. Setiap ada keluarga yang datang melamar, jawaban Sita lewat telepon hanya satu. Sudah memiliki pilihan hati sendiri.


Kenyataannya, Sita tidak pernah mengenalkan seorang lelaki pada keluarganya. Satu yang menjadi kecurigaan Rida, apakah adiknya masih terjebak cinta masa lalu?


"Reza kemarin cerita sama mas Arsya. Katanya kalian ketemu?"

__ADS_1


Sita menoleh dan mengangguk, "Dia cerita apa aja?"


"Cie ..., penasaran nih, ya?" goda Rida.


Sita hanya tertawa sumbang. Kenapa pula dia harus penasaran? Hmm ..., sepertinya Sita memang masih ada rasa dengan Reza.


"Kalau Reza melamar kamu, misal nih, bakalan kamu terima apa tolak?" tanya Rida.


Sita tidak menjawab. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan galeri foto yang tersembunyi. Ia memasukkan sandi lalu memberikan pada Rida. Mata Rida serasa ingin lepas dari kelopaknya.


Tangan Rida dengan lincah menggeser setiap foto yang ada. Terjawab sudah kecurigaannya selama ini. Adiknya memang masih mencintai pria yang sama. Reza adalah orang yang selalu tersimpan rapi dalam memori Sita.


"Terus kenapa kemarin sikapmu dingin sama dia?" tanya Rida lagi.


"Jual mahal dong!"


Rida menarik jilbab adiknya. Ternyata Sita bisa juga bersikap seperti itu pada Reza. Karena dia tahu, dulu mereka seperti uler keket. Selalu nempel kemanapun mereka pergi.


"Dia nggak pernah cerita sedang dekat dengan siapa?" tanya Sita.


"Serius, Mbak?" tanya Sita lagi.


Rida mengangguk. "Iya, bahkan waktu mas Arsya kasih nomormu dia bilang, kira-kira kamu bakal ganti nomor lagi atau tidak jika dia sampai menghubungimu? Ta, Mbak kasih saran nih ya, lurusin dulu permasalahan kalian terdahulu. Jadi, jika nanti kalian memang mau lanjut ke hubungan yang lebih serius udah nggak ada yang mengganjal di hati."


"Iya, Sita paham kok Mbak." Sita meminta nomor Reza pada Rida.


Nomor itu tetap sama. Sita masih mengingat betul tiga angka di belakang itu. Dia pamit pada semua naik ke kamarnya. Ingin melakukan suatu hal sendirian. Rida menggodanya, membuat dia tersenyum cengar-cengir.


Sita membuka aplikasi ojek online dari gawainya. Memilih menu makanan. Melihat semua yang dijajakan di dalam teknologi canggih itu. Dia menentukan pilihan, yaitu kopi dan roti panggang. Cocok untuk teman santai maupun yang sibuk mengerjakan laporan.


Setelah checkout, dia langsung mengetikkan titik lokasi kemana makanan itu harus diantar. Lalu membayarnya dengan saldo yang sudah tersimpan dalam aplikasi itu. Dia tersenyum lalu membuka diarinya. Mulai menorehkan kalimat di atas kertas.


Untukmu, Reza Wisnu.

__ADS_1


Ya Allah, jika dia memang jodohku, maka lembutkanlah hati kami yang sama-sama mengeras karena ego. Dekatkan, dan mudahkanlah dalam menjalaninya. Aamiin.


Sita Zakiyyatul Mawachidah.


Sita kembali menutup bukunya. Lalu menuju kamar mandi. Ponselnya berdering, dia membiarkannya. Setelah selesai, dia melihatnya. Dadanya berdebar tidak menentu.


Gawai itu kembali berdering. Sita mengatur napasnya dan berdahem layaknya tenggorokannya sedang kering. Menggeser tombol hijau ke atas dan menampilkan wajah seorang lelaki dari ujung telepon. Reza adalah orang yang menghubunginya saat ini.


"Assalamu'alaikum," sapa Reza.


"Wa'alaikum salam, ada apa?" tanya Sita sok tidak peduli.


Reza menunjukkan tentengan kopi dan roti panggang yang ada di tangannya. Seolah bertanya, ini dari kamu? Tapi Sita memungkirinya.


"Namanya tertulis kamu, Ta." Reza menunjukkan struk pembayaran.


"Ya mungkin Sita yang lain kali," jawab Sita tetap mencoba tenang.


"Ya udah kalau masih nggak mau ngaku. Makasih ya ...." Reza berjalan keluar gerbang sambil video call.


"Udah, kan? Aku matiin. Assalamu'alaikum."


Reza tidak menjawabnya, "Bukain pintu rumah, Ta."


Perasaan Sita langsung kalang kabut mendengar permintaan Reza. Aduh, bisa gawat jika Reza berkunjung. Para kakaknya akan meledeknya habis-habisan. Sita menyuruhnya untuk pulang kembali ke rumah. Percuma, Reza tetap ingin berkunjung ke rumah.


"Kamu yang udah buka pintu hati buat aku masuk, sekarang sambut Mas Za dong, Ta!" goda Reza. Bualan itu berhasil membuat Sita bagai diterbangkan ke awan.


"Siapa juga yang buka pintu hati, serius itu bukan dari aku, Mas! Sana balik ke rumah. Mas Dani, mamah, mas Arsya dan mbak Rida ada di rumah lho," sergah Sita.


Reza tidak menjawab lagi perkataan Sita. Dia tetap berjalan masih terhubung komunikasi dengan wanita cantik itu. Ia berhenti di depan rumah Dani. Mendengar teriakan Sita yang mencekalnya agar tidak masuk ke rumah.


Panggilan video pun terputus. Reza meninju langit karena senang luar biasa. Rasa bahagia yang hinggap di hatinya membuncah. Satu perhatian dari wanita yang selalu membayangi hatinya, merupakan kode keras untuk terus maju.

__ADS_1


Secepat kilat Sita menuruni anak tangga. Hampir terjatuh karena tersandung gamisnya sendiri. Membuka pintu dengan cepat dan melihat pria yang menghubunginya cengengesan di depan gerbang.


Bayangin yg jadi Reza itu Dominic Roque. Dan yang jadi Sita si Mbak Nina Zatuluni


__ADS_2