
Disa : (mengirim video saat Aidha dan Salwa sedang muroja'ah)
Dani menunggu video itu hingga selesai dikirim. Memutarnya, memperhatikan gerakan, bacaan, makhroj, dan tajwid dari kedua putrinya. Ada pesan lanjutan setelah video itu dikirim.
Disa : Tolong berikan semangat untuk Salwa. Tadi dia sering melamun dan terlihat murung, tidak seceria biasanya. Apakah di rumah dia sedang ada masalah?
Me : Terima kasih atas videonya. Salwa murung? Biasanya dia cerita ke saya kalau sedang ada masalah. Coba nanti saya tanya.
Disa : Sama-sama, Pak. Iya, saya perhatikan tadi agak murung. Apakah sedang ada masalah di rumah?
Dani langsung salto bisa berkomunikasi selancar itu dengan Disa. Dia pikir akan sulit mengajak wanita itu mengobrol. Meski yang diobrolkan masih seputar Aidha dan Salwa. Saat ini hanya itu alasan Dani.
Me : Coba nanti saya tanya dulu anaknya. Makasih kamu sudah banyak membantu saya dan anak-anak. Tanpa kamu, Aidha pasti masih bungkam dan marah. Harus bagaimana saya membalasmu?
Disa : Cukup temani mereka agar istiqomah menghapal Al-qur'an. Hanya anak-anak pilihan yang bisa istiqomah dalam melaksanakannya. Tentunya harus ada dukungan dari keluarga.
Me : Siap! Mereka juga butuh kamu.
Dani sengaja mengirim pesan dengan makna yang ambigu. Berharap wanita itu tahu perasaan di benaknya. Lama sekali Disa tidak membalas, membuat duda itu kalang kabut.
Me : Untuk membimbing mereka lulus tahfidz maksudnya. Kakimu bagaimana?
Dani mengirim pesan lanjutan agar Disa tidak salah paham. Hati duda itu ingin wanita berjilbab itu tahu perasaannya. Tapi sepertinya pihak seberang membatasi komunikasi mereka.
Disa : Alhamdulillah baik, terima kasih atas obatnya. Saya rasa cukup informasi yang bisa saya sampaikan. Assalamu'alaikum.
Baru saja komunikasi itu terjalin dengan lancar. Eh, ada peringatan dari seberang. Membatasi lagi dirinya dengan duda mapan itu. Dani harus banyak bersabar. Tidak mudah menaklukkan hati Disa. Banyak aral melintang yang harus dihadapi.
Me :Wa'alaikum salam. Maaf kalau Aidha mengatakan hal yang tidak ingin kamu dengar tadi. Dan membuat kamu selalu menutup diri dari saya.
Disa membaca pesan terakhir yang masuk. Dari nomor yang belum dia simpan dalam kontak. Merasa tidak enak hati karena terlalu kaku menghadapi si pengirim pesan.
Dia mengetik pesan lagi. Bermaksud menjelaskan situasi yang ada. Tapi kembali menghapusnya. Ingin keluar dari chat itu malah keliru menghubungi pengirim pesan.
Disa ingin mengakhiri panggilan itu, tapi tombol gawainya sulit sekali diajak kompromi. Bukannya terputus, malah loudspeaker yang dipencet. Panggilan tersambung, dan diangkat oleh seorang lelaki di ujung telepon.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapa suara lelaki yang tidak asing di telinga Disa.
"Wa'alaikum salam. Maaf, Pak. Tidak sengaja kepencet. Saya matikan saja. Assalamu'alaikum." Disa langsung berpamitan hendak mengakhiri sambungan komunikasi itu.
Tidak ada sahutan dari seberang. Membuat Disa terdiam. Keheningan mulai menyeruak muncul ke permukaan. Disa menekan tombol loudspeaker agar mati. Masih saling membisu.
"Pak," panggil Disa.
"Ya? Kenapa?" sahut Dani.
"Saya salah pencet, saya matikan ya, Pak?"
"Kenapa harus bertanya? Itu hak kamu," jawab Dani agak ketus.
Disa merasa sedih mendengar jawaban Dani yang agak kasar. Mereka terdiam kembali. Dia tidak tahu cara mengakhiri situasi rumit itu. Desiran lembut yang menggetarkan dada kembali menggoda Disa.
Getaran itu menggelitik hati Disa, hingga dia ingin tersenyum tanpa sebab. Sulit sekali jarinya memencet tombol merah itu. Terdengar suara di seberang berdahem.
"Apakah tadi Aidha meminta sesuatu dari kamu? Apakah berat? Maafkan dia jika itu membebanimu. Lebih terbuka untuk mengungkapkan sesuatu merupakan suatu yang baik, bukan?"
"Baiklah, sepertinya saya memang mengganggu dan mengusik Anda, Ust. Saya minta maaf. Assalamu'alaikum." Dani tidak menunggu jawaban dari Disa. Panggilan itu langsung berakhir.
"Wa'alaikum salam, maaf, Pak." Disa memasang wajah sedih.
Dia hanya ingin menjaga kehormatannya saja. Menjalin komunikasi dengan lawan jenia ada batasannya. Apalagi mereka belum terikat hubungan halal. Menjadikannya harus hati-hati.
Dani juga sedih di dalam kamar. Dia beristighfar. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Disa hanya sedang menjaga diri sendiri.
Seperti rencana tadi malam, Aidha sudah siap dan berdiri di depan kamar papahnya. Saat Dani hendak keluar, dia sedikit terkejut karena anaknya sudah standby. Mereka salat berdua, karena Salwa sulit sekali dibangunkan.
Aidha dipandu oleh Dani melaksanakan salat tahajjud. Saat memanjatkan do'a Dani berpesan pada anaknya agar bermunajat untuk diri sendiri terlebih dahulu.
"Minta sama Allah semoga sekolahmu lancar dan dimudahkan, Mbak," ucap Dani.
"Iya, Pah. Tapi Aidha mau do'ain ibu dulu. Setelah itu Papah dan keluarga kita, ust Disa, terakhir Aidha sendiri."
__ADS_1
Dani tersenyum dan mengangguk. Begitu tulus hati itu. Tidak pernah luput mendo'akan semua yang disayangnya.
***
Hari berganti, Sita memberitahukan Dani hasil pertemuannya semalam dengan keluarga Reza. Mengatakan bahwa orang tua calon pendamping hidupnya itu akan berkunjung di hari sabtu ini.
Dani mengangguk. Menyuruh Sita untuk menghubungi Rida. Dia tidak bisa menemui keluarga Reza, mengingat ada jambore nasional selama tiga hari. Ia menyuruh Arsya dan Rida menemani Mamah Yuli, agar ada sosok lelaki di rumah itu.
"Jangan merepotkan mamah, nih Mas kasih uang, beli keperluan untuk menyambut keluarga Reza. Muliakan tamu kita, Ta. Beli juga keperluanmu. Kalau mamah keukeuh ngasih uang, bilang semua udah dibayar sama Mas." Dani mengeluarkan dompet, mengambil sepuluh lembar uang seratus ribuan.
Sita menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih. Dani memang selalu royal pada keluarganya. Kadang Rida yang sudah menikah masih mendapatkan jatah dari dia. Alasannya untuk Andra.
"Jazakillah ya, Mas. Semoga rezekimu semakin bertambah. Gimana kabar mbak Disa?" tanya Sita.
"Berat, Ta. Kemarin mak Nur menyebut nama Aji. Kata Aidha sih. Kayak nggak asing sama nama dia gitu."
Sita berpikir keras menemukan nama itu. Namun dia tidak mengingatnya. Dia berjanji pada Dani akan mencari tahu sosok Aji. Nama itu sungguh tidak asing bagi mereka.
"Pasrah sama Allah, Mas. Biarkan semua mengalir seperti takdirnya. Qodarullah, aku bisa sama mas Za lagi, kan?"
Dani mengangguk. Aidha dan Salwa turun. Wajah mereka tampak masih mengantuk. Dani ingat pesan Disa semalam. Ingin mengetahui tentang permasalahan Salwa.
Sarapan mereka nikmati dengan tenang. Aidha mencoba mengerjap agar matanya bisa melek. Memang tidak mudah berproses menjadi baik. Banyak yang harus dikorbankan, salah satunya waktu.
"Sal, kamu sedang ada masalah?" tanya Dani.
Salwa tetap tertunduk dan menggeleng. Tidak mau menatap Dani. Membuat duda itu kebingungan. Membenarkan praduga Disa yang mengatakan anaknya sedang murung.
Sorot mata Salwa melirik ke kiri dan kanan. Bahasa tubuh yang sangat dipahami oleh Dani. Anaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Dia harus mencari tahunya.
"Kenapa wajahnya lesu begitu, Nduk? Kamu sakit? Papah antar periksa ke dokter, ya?"
Salwa menggeleng lagi. Sita dan Dani saling pandang. Semakin bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh gadis cilik itu. Setelah sarapan usai, Dani mengantarkan Salwa ke sekolah. Aidha tetap berangkat sendiri tidak mau diantar.
Setelah sampai di sekolah Salwa, Dani meminta izin untuk bertemu dengan kepala sekolah. Ingin menanyakan tentang keadaan anaknya di sekolah. Wali kelas Salwa juga dihadirkan disana.
__ADS_1