Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Jawaban Sita


__ADS_3

Reza datang untuk meminta maaf pada Sita. Tapi, calon istrinya tidak mau menemuinya. Membuat dia semakin bingung dan takut akan rencana pernikahannya. Mamah Yuli dan Dani menyuruh Sita bersikap dewasa. Menghindari calon suaminya sendiri bukan untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Dengan hati yang berat dan langkah yang terpaksa, Sita menemui Reza. Semua orang memberikan ruang bagi dua insan itu. Kecuali Dani, dia akan menjadi penengah jika ada keributan lagi. Setelah teh terhidang di meja, maka terjadilah perbincangan itu.


Awalnya hanya terjadi perbincangan satu arah. Hingga saat Reza membahas kejadian tadi malam, Sita langsung menyahut. Dia bilang tidak peduli lagi dengan apa yang Reza lakukan. Tapi, Dani menangkap sorot mata adiknya bukan berkata demikian.


Sita sangat ingin mengetahui apa yang terjadi malam itu. Ingin Reza membuktikan ucapannya bahwa dia dan Isna memang tidak ada hubungan apa-apa.


"Gini, Za. Sejatinya perempuan itu tidak akan percaya begitu saja, mereka butuh bukti. Jika memang kamu dan Isna tidak ada hubungan apapun, maka kamu harus bisa membuktikan hal itu. Misal ..., cari mantan Isna mungkin ...," ucap Dani menengahi pembicaraan yang hanya terjadi satu arah. Seperti jalur mudik saja diberlakukan one way.


Reza ingin melontarkan umpatan bagi Dani. Mencari mantan Isna? Yang benar saja! Dia saja tidak begitu kenal dengan lelaki itu. Kenapa tidak disuruh mencari bukti yang lain?


"Mas, aku nggak kenal lho sama mantannya Isna. Bagaimana caranya aku bisa dapat bukti?" tanya Reza membalikkan saran Dani.


"Itu urusanmu! Kalau kamu tidak bisa menunjukkan kebenarannya padaku, maka batalkan saja. Aku butuh bukti untuk penopang kepercayaanku," jawab Sita datar.


Dani menghela napas pasrah, tidak tahu harus berkomentar seperti apa untuk adik dan calon iparnya. Hanya bisa mendo'akan semoga ada jalan keluar untuk masalah ini. Waktu tinggal sembilan hari lagi, mampukah Reza mengungkapkan kebenaran dan menunjukkan pada Sita?


"Akan aku tunjukkan, Yang. Berjanjilah, saat aku mendapatkan bukti kamu tidak mengingkari janjimu." Reza menatap bola mata Sita sangat dalam.


Wanita itu hanya mengangguk. Lalu pamit meninggalkan kakak dan calon suaminya. Reza bingung harus darimana mencari buktinya. Akses kenalannya terbatas.


"Cari teman-teman Isna. Tanyakan siapa mantannya itu. Hadeh ..., apes banget sih nasibmu, Za. Lagian, Isna ngapain nemuin kamu secara tiba-tiba? Dia hubungi kamu nggak setelah kejadian kemarin?" tanya Dani.


"Bukan menghubungi lagi, Mas. Neror iya! Pusing! Kepalaku rasanya berdenyut, bantuin dong, Mas." Reza meminta bantuan Dani.

__ADS_1


"Iya, aku bantu. Do'a yang mustajab. He-he-he. Eh, mami Farah tahu kasus ini?" tanya Dani.


Reza menggeleng, dia sangat yakin orang tuanya belum tahu masalah ini. Jika sudah tahu, pasti mereka akan ribut dan memarahi dirinya. Lelaki itu pamit pulang, dia ingin menghubungi teman sekantornya terlebih dahulu. Salah satu rekannya dulu pernah bersahabat karib dengan Isna.


Dani menghubungi Rida untuk datang ke rumah. Dia ingin meminta bantuan temannya untuk mencari informasi mengenai Isna. Ia juga tidak ingin jika pernikahan adiknya gagal hanya karena kisah yang tidak jelas.


Rida dan Arsya langsung meluncur ke rumah. Andra yang sudah tidur dititipkan ke mamahnya. Dani menyuruh adiknya untuk mencari informasi tentang seseorang.


"Carikan aku informasi tentang Isna Baroroh. Dulu dia bekerja di Dindikbud Demak, sekarang di Dindikbud Klaten. Poin pentingnya adalah tentang semua mantan pacar wanita itu." Dani memberikan perintah bagi adiknya.


"Untung aku punya kenalan orang jualan serba ada. Sampai data orang juga dia jual. He-he-he. Bentar ya, Mas!" Rida langsung menghubungi seseorang. Dia mengatakan apa yang menjadi perintah kakaknya.


Sang pencari informasi butuh waktu kurang lebih tiga hari karena yang diminta Rida agak pribadi. Tidak semua mantan Isna dipublikasikan oleh wanita itu. Membuat pencarian itu sedikit lebih lambat.


"Ta, kalau sampai Reza nggak bisa dapatkan bukti itu bagaimana? Yakin kamu bakalan siap jika pernikahanmu batal?" tanya Rida.


Sita yang sedang mengambil air minum diam tidak bergeming. Rida menarik tangannya dan menyuruh duduk di kursi.


"Membatalkan pernikahan bukan sekedar kata batal, Nduk. Banyak konsekuensi yang akan kamu terima nantinya. Kita lihat dari sisi buruknya, akan timbul pertanyaan dari semua pihak, pandangan negatif pada diri kalian, omongan yang menimbulkan fitnah ...," ucapan Rida dipotong oleh Sita.


"Sisi baiknya adalah aku mendapatkan ketenangan batin." Sita mengatakannya dengan wajah sangat datar, tanpa ekspresi.


"Memang! Itu adalah sisi baik yang akan kamu terima. Yakin bakalan bisa mendapatkan ketenangan kalau Reza sama orang lain? Mencintai bukan perihal melulu soal masa depan, Ta. Kalau kamu sudah berani mencintai seorang lelaki, kamu juga harus siap menerima masa lalu dia sepahit apapun itu. Terkadang ..., kita juga harus masa bodoh dengan kebenaran suatu hal, agar batin dan mental kita tetap waras. Mbak hanya mau kasih saran sama kamu, pertahankan acara pernikahanmu. Biarkan garis takdir Allah yang berbicara." Rida menggenggam tangan adiknya dan tersenyum.


Sita terdiam mendengar ucapan kakaknya. Benar juga kata Rida, mencintai bukan hanya tentang menerima kelebihannya, tapi harus sepaket dengan kekurangannya. Jika berani bermimpi masa depan, maka harus ada masa lampau untuk pembelajaran.

__ADS_1


Rida meninggalkan Sita untuk merenungkan diskusi singkat itu. Dia berserah pada keputusan Allah. Kembali lagi bertanya pada hatinya sendiri. Sanggupkah dia membuat semua orang kecewa karena keputusannya? Apakah dia bisa melihat para orang tersayangnya juga sakit atas pilihannya?


Kepala Sita berdenyut hebat. Dia memijat pelipisnya dan melirik ke arah kanan belakang. Seperti ada bayangan ayahnya. Saat dia menoleh, ternyata kosong. Ah, tidak! Dia merindukan sosok yang sangat mencintai dia dengan tulus dan tidak banyak menuntut.


Sebentar! Sosok yang sangat tulus dan tidak banyak menuntut itu ada pada diri Reza. Jadi? Apalagi yang membuatnya ragu? Sita langsung bangkit dan mencari keberadaan Dani. Meminta kakaknya memanggil calon suaminya.


"Ada apa, Ta?" Dani bingung sekaligus takut saat Sita meminta Reza datang lagi ke rumah.


Arsya berbisik pada istrinya, "Tadi kamu ngomong apa sama dia?"


"Nggak ngomong apa-apa, cuma nasihat aja, Mas." Rida juga menjadi was-was dengan apa yang hendak diutarakan Sita pada Reza.


Reza datang dengan berlari. Semuanya duduk untuk mendengarkan ucapan Sita. Rida mencegah adiknya saat hendak bicara.


"Ta, dipikirin lagi, jangan sampai nanti kamu menyesal. Apa kata semua orang kalau sampai acara kalian batal, Ta?" Rida mencecari adiknya dengan beberapa pertanyaan.


"Siapa yang mau batalin acara pernikahan, Mbak? Nggak! Aku nggak akan batalin." Sita membuat semua orang tercengang.


"Ha? Serius, Yang?" tanya Reza tidak percaya.


"Serius, aku sudah mutusin bahwa tidak akan mempermasalahkan urusan kemarin. Benar kata mbak Rida, mencintai bukan hanya menata masa depan, tapi harus melihat masa lalu untuk dijadikan bekal melangkah. Kamu adalah orang yang mampu menerima aku tanpa banyak menuntut, dan seharusnya aku juga begitu, Mas." Sita mengatakan rasa hatinya dengan begitu mulus.


Lega rasanya mengatakan hal itu. Reza sangat bersyukur hingga dia lupa dan ingin memeluk Sita. Arsya dan Dani mencegah hal itu terjadi.


"Belum halal!" ucap Dani dan Arsya bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2