
Dani baru saja selesai salat subuh. Tubuhnya serasa remuk karena berhantaman dengan kursi mobil. Kecelakaan kemarin membuatnya agak was-was saat ingin menyetir sendiri. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Arsya. Menyuruh iparnya untuk ke rumah mengantarkan Aidha dan Salwa.
Secangkir kopi dihidangkan di meja makan. Mamah Yuli duduk di sisi kanannya dan menanyakan keadaannya. Ingin mendengar cerita lengkap dari Dani, karena kemarin tidak berani mengungkitnya.
Dani menceritakan seluruh rangkaian peristiwa kemarin. Saat ini dia tengah menunggu kabar dari kepolisian. Berharap tidak ada lagi kejadian mengerikan yang menghampiri keluarga mereka.
"Nanti siang setelah pulang dari pasar, Mamah dan Sita mau ke Bonang. Ketemu sama mak Nur." Mamah Yuli beranjak dan mematikan air yang telah mendidih.
Dani mengangguk, "Hati-hati, Mah. Buat sekitar seribu porsi, Mah. Dani banyak mengundang teman-teman."
Mamah Yuli mengangguk. Lalu pergi ke kamar sebentar dan menunjukkan baju seragam untuk acara pernikahan mereka. Yang laki-laki memakai kemeja batik lengan pendek, sedangkan yang wanita tunik berbahan brukat berwarna putih tulang.
"Sebagian sudah Mamah antarkan ke saudara. Ini untuk mertua kamu dan keluarga Disa." Mamah Yuli menunjuk sebuah karung besar.
"MasyaAllah ..., terima kasih, Mah. Dani malah tidak kepikiran sama sekali," ucap Dani begitu bahagia mamahnya memperhatikan setiap detail keperluan nikahnya.
"Sama-sama, Dan. Sudah setengah enam, mandi, siap-siap ke kantor. Kamu berangkat pakai apa?" tanya Mamah Yuli.
"Bonceng Reza. Oh ya, Mas Wakhid akan mengecat rumah kita, Mah. Kasihan dia sedang tidak melaut karena harus antar jemput Disa."
Mamah Yuli tersenyum dan mengangguk, rumahnya serasa akan diketuk oleh kata bahagia. Hawanya sudah sangat terasa, begitu senang dan menyejukkan.
"Boleh pak Kus ikut ngecat, Dan? Kasihan dia tidak punya pekerjaan," pinta Mamah Yuli.
Dani terdiam, dia tidak tahu menahu kabar mantan supirnya setelah dipecat. Lalu mengangguk, "Ya, boleh."
"Terima kasih, Dan."
Dani bersiap untuk pergi ke kantor. Anak-anaknya sudah rapi dan diantar oleh Arsya. Mas Wakhid datang untuk menepati janjinya mau membantu Dani mengecat ulang rumahnya.
Dani menunjukkan ruangan mana saja yang harus di cat terlebih dahulu. Menentukan warna yang cocok untuk tembok itu tampak lebih segar dan ceria. Dia berselancar sebentar di internet untuk memilih warna.
__ADS_1
"Biru dan putih saja, Mas. Untuk teras kasih warna itu cocok, kan?" tanya Dani.
Mas Wakhid melihat warna biru yang diinginkan Dani. "Kalau untuk bagian luar sebaiknya jangan biru. Hijau botol lebih bagus."
"Manut, ya sudah, ini uang untuk belanja sama Arsya nanti. Kalau kurang bilang saja, hutang dulu. He-he-he. Saya tinggal ya, Mas. Takut telat!" Dani menyalami calon kakak iparnya.
Mas Wakhid merasa tidak pantas saat tangannya dicium oleh Dani. Lelaki itu sopan sekali, mau menyalami tangannya yang kasar. Dani langsung berangkat bersama Reza. Arsya langsung bergegas ke toko bersama kakak Disa.
Mas Wakhid teringat akan sesuatu, mengenai video rekaman cctv. Saat akan mengejar Dani ternyata pria itu sudah menghilang. Dia kembali menghampiri Arsya dan berbelanja keperluan renovasi warna cat.
***
Sudah hampir seminggu setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Dani dan Disa. Lelaki itu sudah pergi pulang Semarang Demak sebanyak dua kali. Masih menunggu kejelasan tentang kasusnya. Sudah ada petunjuk tentang dimana keberadaan motor itu.
Semua persiapan pernikahan sudah mulai beres. Ternyata mereka bisa mengerjakan sendiri tanpa bantuan WO. Itu berkat kerjasama yang apik diantara Dani dan Disa. Banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bisa mencapai tujuan bersama.
Saat sedang membahas dekorasi bersama Disa dan teman Arsya, Dani mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Mengancam akan membuat pernikahannya tidak terlaksana.
Disa bertanya dari siapa telepon itu, tapi Dani malah menenangkannya. Menyuruh wanita itu tidak memikirkan yang tidak penting. Kembali membahas dekorasi pernikahannya.
Sementara di Gunung Pati, Sigit melimpahkan kasus kecelakaan Dani ke polsek Demak. Hal itu karena, pemilik motor yang diduga pelaku adalah milik orang Demak. Polisi langsung melakukan pengintaian berkat informasi dari Sigit.
Aris adalah target utama mereka. Dia adalah pelaku yang sengaja menyebabkan kecelakaan pada Dani dan Disa. Hal itu diketahui Sigit saat mencari informasi tentang plat nomor motor. Kendaraan itu baru dibeli oleh seseorang bernama Roni dalam kurun waktu satu bulan ini. Lalu, pria itu menjualnya karena alasan biaya perawatannya mahal.
Saat diusut kepada siapa dia menjual, barulah identitas Aris terbongkar. Mereka melakukan penggrebekan saat siang hari. Dimana sang tersangka sedang tidur di tempat persembunyiannya. Ditahan tanpa adanya perlawanan. Dia langsung digelandang ke polsek.
Dani bergegas menuju polsek saat diberitahu kasusnya sudah memiliki titik terang. Pelaku sudah diamankan. Saat bertandang kesana, lelaki itu terkejut ternyata dugaannya selama ini benar. Ia mencoba menghubungi nomor yang pernah menerornya. Ponsel yang berdering ada di jajaran barang bukti tersangka.
"Ternyata kamu yang neror dan mencelakai saya?" Dani mencoba menahan emosinya.
Aris tersenyum kejam menanggapi ucapan Dani. "Memang kenapa? Kalau aku tidak bisa mendapatkan Disa, maka yang lain juga tidak boleh mendapatkannya!"
__ADS_1
Sebuah sandal jepit merk mendunia mendarat di bibir Aris. Dani dan yang lain menoleh ke arah lemparan itu berasal. Ternyata Sigit pelakunya. Semua menganga melihat gaya lemparan Sigit yang seperti burung bangau berdiri dengan satu kaki.
"Masih ada model lelaki seperti kamu. Harusnya kamu bukan di sel, tapi di rumah sakit jiwa!" Sigit berjalan berjinjit dan mengambil sandalnya.
"Iuh ..., kena darah ..., akika nggak mau pakai ini lagi! Belikan yang baru ...," rengek Sigit pada kapolsek Demak bernama Khoirul.
"Hadeh ..., punya teman begini amat! Iya nanti tak belikan yang baru," jawab kapolsek itu.
Ali dan Zafran langsung menarik rambut Sigit agar terlepas dari godaan Mbak Si. "Suka banget dia muncul pas aku lagi tugas. Hilang kan wibawa aku?"
"Udah dari dulu wibawamu hilang, Si!" jawab Ali dan Zafran kompak.
Dani semakin tidak mengerti dengan situasi yang ada. Sigit seorang polisi? Bukannya dia itu tukang ojek? Aris dibawa oleh penyidik untuk menjalani proses penyidikan. Sementara Dani bertemu dengan kapolsek dan para rekannya untuk diberi penjelasan.
"Bingung ya, Pak? He-he-he. Saya itu kang ojek yang lagi nyamar jadi polisi, eh kebalik! Bences yang lagi nyamar jadi kang ojek, eh salah lagi! Pokoknya saya polisi lah!"
Dani malah tertawa mendengarnya. Menurutnya, lucu sekali Sigit. "Intinya, dia ini polisi, kapolsek malahan. Dan dia yang sudah membantu Anda mengungkap pelakunya. Aris akan dijerat pasal berlapis karena mencoba mencelakai dan meneror."
"Terima kasih atas bantuan bapak polisi semuanya. Mulai Pak Zafran dan Pak Khoirul yang membantu anak saya, Salwa, lepas dari belenggu pedofil. Pak Sigit dan Pak Khoirul lagi yang membantu saya mengungkapkan kasus teror dan kecelakaan kemarin." Dani mengucapkan rasa terima kasihnya.
Dia mengundang para polisi itu untuk bisa hadir ke pernihakannya. "Bawa pasukan boleh?" tanya Ali bersemangat.
Dani tersenyum, "Boleh, Pak. Ajak semua keluarga Bapak. Saya kirim undangannya ke nomor Pak Sigit, ya?"
"Jangan panggil pak, Mas." Sigit tidak terima dengan sebutan itu.
"Iya, jangan panggil dia bapak. Panggil saja Mbak Si, langsung siap siaga dia!" Zafran melirik tajam ke arah juniornya. Ada saja tingkahnya dari dulu tidak pernah waras dari kata somplak.
"Ha-ha-ha. Saya panggil Mas Sigit. Semuanya terima kasih sekali, pokoknya saya tunggu kehadiran kalian di acara saya."
"Siap Mas Dani. Tenang saja, kami akan meramaikannya. Belum ada band pengiring, kan?" tanya Ali.
__ADS_1
Terjadi perbincangan hangat seoerti keluarga disana. Dani bersyukur pengganggu yang mencoba merusak hubungannya dengan Disa sudah tertangkap. Membuatnya semakin fokus untuk menyambut pernikahannya.