Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Balas Dendam


__ADS_3

Bulan pernikahan telah ditentukan. Yaitu sekitar dua bulan lagi. Sita harus menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Hanya tinggal wisuda, dan fokus untuk urusan akadnya nanti.


Sudah diputuskan mereka akan melakukan akad dan resepsi di hari yang sama. Bertempat di rumah Mamah Yuli. Unduh mantu akan dilakukan seminggu setelah ijab terjadi. Waktu yang sangat padat itu harus mereka gunakan sebaik mungkin.


Reza menghubungi salah seorang kenalannya agar dicarikan WO. Sita menghubungi temannya yang berprofesi sebagai MUA. Mami Farah dan Papi Kusno sangat akrab dengan Mamah Yuli.


"Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Salwa, Bu." Mami Farah memandang sendu ke arah Salwa yang asyik bermain dengan Andra.


Rida dan Arsya jangan ditanya, mereka sudah kabur. Janji hanya tinggal janji, katanya mau menidurkan Andra terlebih dahulu, nyatanya Andra tidak tidur.


"Terima kasih, Bu." Mamah Yuli tersenyum hangat pada calon besannya.


Malam semakin larut, membuat rombongan dari Kudus harus pamit undur diri. Rumah menjadi lenggang kembali. Andra ditidurkan oleh Mamah Yuli. Dani duduk merenung sendiri di teras rumah. Kepalanya dipenuhi oleh masalah yang menimpa Salwa dan juga kejutekan Mak Nur.


Dia memejamkan mata sekejap. Bayangan Disa kembali melintas dalam pikirannya. Ia membuka mata lagi dan beristighfar. Bukan sedang memikirkan wanita itu, tapi seenaknya saja main lewat di dalam pikiran.


Dia teringat akan kata Mak Nur, yang mengatakan bahwa Dani tidak boleh mengganggu Disa sementara waktu. Ia mengirim pesan pada wanita itu.


Me : Assalamu'alaikum, Ust. Saya tidak jadi minta tolong anda untuk menemani Salwa ke psikiater. Biar saya dan Aidha saja yang mendampingi. Sementara ngajinya libur dulu, sampai keadaan anak saya pulih. Tolong jangan menghubungi Aidha untuk sementara waktu. Terima kasih.


Dani selesai mengirim pesan itu. Langsung mengantongi kembali ponselnya. Ada pesan balasan, dia tidak menjawabnya. Ia memilih masuk rumah, melaksanakan salat isya', lalu tidur.


Disa merasa ada yang aneh dari pesan Dani. Seperti sedang menjaga jarak dan membatasi interaksi yang ada, itulah yang ditangkap dari whatsapp itu. Tidak ada balasan dari lelaki itu. Membuat hatinya kecewa.


Me : Wa'alaikum salam. Kenapa begini, Pak? Ada apa?


Me : Tolong berikan konfirmasi atas pesan Anda.


Dua pesan itu sudah sejak tiga menit lalu terkirim, tapi tidak ada balasan. Membuat hati Disa gundah. Dia mengambil wudhu dan berdzikir agar lebih tenang. Namun, rasa penasaran begitu mengusik hatinya.


Dia ingin mengirim pesan ke Sita, tapi sudah didahului oleh sahabatnya itu. Adik Dani menceritakan tentang lamaran dadakan yang diterimanya. Membuat Disa mengurungkan niat untuk bertanya soal sang duda.

__ADS_1


Disa ikut senang atas lamaran Sita dan Reza. Dia berjanji akan membantu mereka dalam mempersiapkan pernikahan. Sita menawarkan Disa untuk menjadi bridesmaid, tapi wanita itu menolak. Dia lebih nyaman menjadi tamu undangan saja katanya.


***


Hari berlalu begitu saja. Ketidakhadiran Disa membuat ada sesuatu yang menghilang. Salwa begitu rindu dengan wanita itu, karena hampir seminggu ini dia tidak masuk sekolah. Dia sudah tidak demam, tapi sekarang berganti mengigau.


Dinta membantu Salwa dengan sangat keras untuk keluar dari rasa trauma. Perlahan namun pasti, ada perubahan yang terjadi. Salwa tidur dengan tenang, sesekali mengigau tapi hanya kenangan manis bersama Disa yang selalu keluar dari mulutnya.


Dani tahu hal itu karena setiap malam, dia dan Aidha salat malam di kamar Salwa. Anaknya merindukan sosok wanita itu.


"Maafkan Papah yang masih melarang kalian bertemu dengan ust Disa," terang Dani pada Aidha suatu malam.


"Kenapa Papah melakukan hal itu? Kasihan Salwa, Pah." Aidha sedikit menekankan kalimatnya.


"Ust Disa sedang menanti waktu untuk menjawab sebuah lamaran, Mbak. Papah nggak mau mengganggunya, tidak mau dianggap sebagai perebut," ucap Dani jujur.


"Sampai kapan?" tanya Aidha.


"Apa Aidha perlu ketemu sama orang yang melamar ust Disa? Agar dia mau melepaskannya untuk keluarga kita, Pah?"


Dani tersenyum dan menggeleng. Tangannya membelai kepala anak sulungnya. Begitu besar rasa cinta anak-anaknya terhadap wanita bernama Disa.


"Buat apa? Jangan terlalu memaksakan sesuatu, Mbak. Biarkan mengalir sendiri seperti adanya. Ayo berdo'a. Jangan lupa do'akan ibu." Dani mengakhiri percakapan malam itu.


Pagi hari, Mamah Yuli gembira bukan main. Dia baru saja mendapatkan kabar dari koperasi tempatnya menabung, bahwa ia memenangkan tiket umroh gratis. Keberangkatan akan dilaksanakan satu minggu lagi. Membuatnya harus cepat mendapatkan vaksin meningitis meningokokus.


Dani berjanji akan meminta izin agar bisa mengantarkan mamahnya, karena Sita sedang berada di Bandung untuk menyelesaikan administrasi dan pengambilan toga. Sedangkan Rida tidak bisa mengantar karena ada janji bertemu klien.


"Nanti kita berangkat pukul sepuluh, Mah. Anak-anak biar di rumah sama Mbok Yem. Nanti Mamah minta surat keterangan sehat dulu dari Puskesmas, ya?" terang Dani.


"Iya, atau kalau kamu sibuk, Mamah naik bus aja nggak papa, Dan." Mamah Yuli tidak enak hati jika harus merepotkan anaknya.

__ADS_1


"Jangan! Biar Dani antar, aku berangkat, Mah. Assalamu'alaikum," ucap Dani berpamitan.


"Wa'alaikum salam, hati-hati." Mamah Yuli mengecup kening Dani dan juga Salwa. Aidha berangkat menggunakan sepedanya sendiri.


Pukul sepuluh seperti yang sudah dijanjikan Dani, dia mengantarkan mamahnya untuk vaksin meningitis. Perjalanan agak macet. Membuat Mamah Yuli mengajak ngobrol anaknya.


"Kabar Disa gimana, Dan?" tanya Mamah Yuli.


"Ha? Mana Dani tahu, Mah," jawabnya enteng.


"Kamu melarang dia datang ke rumah?" tanya Mamah Yuli lagi. Kini Dani tidak bisa menjawabnya. Tidak berkutik ketika mamahnya sudah menjadi penyidik.


"Dia sedang dalam masa menjawab khitbah seseorang, Mah. Aku nggak mau ganggu, takut dikira merebut," ungkap Dani.


Mamah Yuli tertawa, "Siapa yang mengira begitu? Mak Nur? Kamu dilarang berkomunikasi dan bertemu dengan Disa?"


Dani hanya mampu mengangguk. Masih ingat betul ucapan orang tua itu.


"Jadi kamu balas dendam?"


"Balas dendam? Maksudnya, Mah?" tanya Dani bingung.


"Iya, apa namanya kalau bukan balas dendam? Kan kamu sama juga melarang Disa ketemu sama anak-anakmu," ucap Mamah Yuli lugas.


"Dan, jangan kamu balas perbuatan yang jelek dengan hal yang sama. Biarkan saja jika kamu tidak bisa membalasnya dengan perbuatan baik. Paham?" tanya Mamah Yuli. Dani hanya mengangguk.


Benar juga yang dikatakan mamahnya. Apa bedanya dia dengan Mak Nur? Hadeh ..., Dani baru menyadari hal bodoh itu.


Mereka sudah sampai di tempat vaksinasi. Terburu-buru turun karena hendak memasuki jam makan siang. Dani mendaftarkan mamahnya. Tidak lama kemuadian, Mamah Yuli dipanggil ke ruang vaksinasi.


Dani menunggu di ruang tunggu. Matanya melihat sekeliling dan menangkap sosok yang dikenalnya. Orang yang hampir seminggu lebih ini tidak bertegur sapa dengannya. Dia mendekati dan menyapanya. Ingin tahu apa yang dilakukan di tempat vaksinasi itu seorang diri.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Dani tulus.


__ADS_2