Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Zifaf


__ADS_3

The somplak turun dari panggung dan mengembalikan pemilik tahta sebenarnya. Mereka senang akhirnya bisa membuat rusuh lagi. Anak dan istri mereka sampai geleng kepala.


"Kenapa bapak-bapak kita selalu begitu tingkahnya? Heran aku!" ucap Zia yang sedang mengambil nasi pindang.


Saat akan bergeser, tubuhnya menabrak seseorang. Membuat kuah pindang itu tumpah ke tangannya dan membuat panas. Dia merintih, Baim yang ada didekatnya langsung memberikan pertolongan pertama yaitu mengompres es.


"Hati-hati kalau ja ..., lan." Zia memelankan suaranya saat melihat wajah putih bersih dan bercahaya, bagai model iklan pembersih wajah ada di hadapannya.


"Innalillahi ..., maaf-maaf-maaf, saya tidak tahu." Lelaki itu meminta maaf pada Zia.


"Kamu nggak papa, Zi?" tanya Baim.


Zia malah terdiam sedang mengagumi wajah itu. Ciptaan Tuhan paling sempurna sedang membuatnya terluka, tapi sekaligus menyembuhkannya.


Sigit datang karena melihat anaknya didekati oleh pemuda tidak dikenal. "Ehm ..., ada apa, Nak?" tanya Sigit.


"Ini om, tangan Zia kena kuah makanan. Panas, gara-gara masnya ini!" terang Baim.


Sigit melirik tajam pada pemuda itu. Zia malah senyam-senyum tidak jelas. "Wahai pemuda, siapakah namamu?" tanya Zia sok sopan.


Sigit memejamkan matanya, sifat dari Muti akan muncul pada Zia. Saat melihat pria bening, dia akan menjadi wanita yang jinak. Sang gadis mengulurkan tangannya bermaksud mengajak pemuda itu berkenalan.


Namun, sang pemuda hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Sigit kagum akan pemuda itu. Apakah dia keluarga Dani? Atau saudaranya? Kenapa wajahnya sebelas dua belas dengan mempelai pria itu.


Pemuda itu adalah Fikri, dia pamit mengambil makanan lain. Zia bersungut-sungut karena tidak bisa berkenalan dengan pemuda itu.


"Wah ..., pemuda yang langka! Patut dijadikan mantu ini!" ucap Sigit berbinar.


Baim yang sedari tadi meminum es langsung tersedak. Apakah omnya sudah gila? Anaknya baru saja berusia lima belas tahun. Sudah memikirkan pernikahan? Entahlah, Baim geleng kepala dan meninggalkan kedua anak dan ayah itu.


***


Acara resepsi telah selesai. Semua tamu undangan banyak yang hadir memberikan selamat dan do'a bagi kedua pengantin. Aidha dan Salwa merengek minta tidur di rumah Mak Nur. Tapi, Mamah Yuli mengajak mereka pulang.


"Kalian mau punya adik, nggak?" tanya Sita. Disa dan Dani memukul bahunya.


"Ih, sakit ..., Aidha, Salwa dengarkan Tante, malam ini, kita pulang dulu. Biar papah dan umma kalian di rumah mbah Nur. Papah mau sarapan, makan siang, sekaligus makan malam. Kasihan sedari tadi mereka puasa dan belum dibatalkan lho, Nak!" Sita masih mencoba membujuk dua keponakan cantiknya agar mau oulang bersama rombongan keluarga.

__ADS_1


"Nanti dik Andra tidur sama kalian, deh!" timpal Rida.


Semua membujuk kedua anak itu agar mau pulang. Dengan berat hati dua gadis itu pulang bersama keluarganya. Dani dan Disa sebenarnya tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi?


Suasana sudah tampak lenggang. Mas Wakhid dan para saudaranya mulai membereskan pelaminan. Menyimpan kado di dalam kamar pengantin. Dani menemui satu dua tamu dan saudara yang masih bertahan disana.


Sedangkan Disa sudah masuk ke kamar dan mulai membersihkan make up. Dia tersenyum sendiri ketika bercermin. Masih tidak percaya bahwa hari ini dia sudah sah menjadi istri Dani. Pertemuan yang tidak disengaja, kehilangan jilbab, menjadi guru mengaji bagi Aidha dan Salwa adalah semua rentetan kisah cinta Dani dan Disa.


Dia melihat tangannya yang hari ini bersentuhan dengan kulit lelaki lain kecuali para kakak dan adiknya. Dia beranjak dan berganti baju dengan kimono berlengan pendek selutut. Seumur-umur dia tidak pernah memakainya. Karena itu adalah hadiah dari Rida saat pertunangannya dengan Dani, maka dia memakainya.


Bahan satin yang ada pada kimono itu membuat lekuk tubuh Disa terlihat. Dia bercermin dan kurang percaya diri. Saat hendak menggantinya, Dani masuk membuatnya terjingkat kaget.


"Kenapa, Dik?" tanya Dani.


"Ha? Nggak papa! Cuma mau ganti baju saja kok, Mas." Disa menuju lemarinya. Seketika ada pelukan hangat mendarat di punggung Disa.


Sentuhan yang sangat baru bagi Disa. Tubuhnya sekarang lebih hangat. Bagaimana dia harus membalas sikap suaminya itu? Ini pengalaman baru untuknya.


Dani semakin mengeratkan pelukan itu. Menempelkan kepalanya di pundak Disa. Mencium aroma shampoo yang menyeruak dari rambut Disa. Ternyata istrinya berambut panjang, hitam, dan bergelombang.


Detik berganti menjadi menit. Tidak ada yang berubah dari mereka berdua. Masih dalam posisi berpelukan. Dani mengecup lembut tengkuk wanitanya. Membuat Disa langsung kaget.


Apalagi yang akan dilakukan Dani pada Disa? Wanita itu benar-benar kurang persiapan dalam hal itu. Sang mantan duda duduk di tengah ranjang, dengan cekatan tangannya menarik pinggang Disa agar jatuh ke pangkuannya.


"E-eh ...," ucap Disa dengan wajah sudah memerah.


Dani tersenyum melihat wajah malu istrinya. Dia kembali memeluk Disa, menjatuhkan kepalanya di dada. Terdemgar detak jantung wanitanya sangat kencang dan tidak beraturan. Membuat sang suami cekikikan.


"Kamu grogi, ya?" tanya Dani.


"Ha? Mmm ..., itu. Aku butuh minum, Mas!" Disa ingin bangkit dari pangkua suaminya, tapi dicegah oleh Dani.


"Biar Mas yang ambilkan. Kamu kan sudah lepas jilbab. Masih banyak orang di luar, Dik!"


Disa mengangguk ragu. Membuat Dani semakin gemas dengan istrinya dan mencubit pipi yang sedari tadi merona. Dani keluar dari kamar dan mengambil air minum untuk istrinya.


"Hmm ..., kira-kira bisa nggak ya malam ini? Kasihan, ini pengalaman baru baginya. Apa aku tunda saja, ya?" ucap Dani pada diri sendiri.

__ADS_1


Dia mencari air mineral dalam kemasan. Mengambil beberapa, dan berjalan lagi menuju kamar. Sebelum masuk, ia bicara lagi.


"Tapi ..., aku sangat ingin malam ini ..., duh, pusing!"


Dani masuk ke dalam kamar dan melihat lampu kamar sudah berubah menjadi lampu tidur. Dia memberikan minum untuk istrinya. Duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Mas ...," panggil Disa.


"Ya?" jawab Dani.


"Kita ..., salat sunnah dua raka'at dulu, yuk!" Disa mengajak suaminya untuk melakukan salat sunnah zifaf.


Dani tersenyum dan mengangguk. Keduanya keluar dari kamar dan mengambil air wudhu. Riski yang sedari tadi melihat kakak iparnya keluar masuk kamar, menjadi heran dan bingung. Kembali masuk bilik dan mendirikan salat sunnah dua raka'at.


Saat selesai salat, Disa menyalami suaminya dengan takdzim. Masih dengan tangan bergetar. Lalu Dani merebahkan diri ke atas pangkuan Disa. Istrinya tersenyum dan mengelus kepalanya.


"Nyamannya ..., Dik ...," panggil Dani.


"Dalem, Sayang." Disa menepati janjinya akan memanggil Dani dengan kata sayang ketika sudah sah menjadi suami istri.


"Alhamdulillah ..., senang hati ini mendengar sebutan baru itu. Kamu tahu arti zifaf, kan?" tanya Dani.


Disa mengangguk, "Zifaf artinya malam pertama, Mas. Kenapa?"


"Mmm ..., boleh Mas minta hak malam ini juga?"


Disa tertegun dengan kesopanan suaminya. Dia mengangguk malu. Dani segera bangkit dan melepas sarungnya. Membawa sang istri ke ranjang dan menidurkannya perlahan.


Dani mulai mencium kening istrinya. Lalu turun menjejaki mulut dan leher. Sangat manis dan lembut menurut Disa. Ini pengalaman pertamanya. Dia pasrah dan mengikuti instruksi Dani.


"Mas buka ya, Dik?" tanya Dani lagi.


Disa hanya mampu mengangguk dan memejamkan mata. Dani mulai melucuti semua yang menempel pada badan istrinya, dan mulai menikmati setiap gerakan tangan dan bibirnya. Sang suami juga melepaskan semua yang masih melekat pada tubuhnya. Menarik selimut lalu membaca do'a.


Mulai penyatuan, dan membimbing istrinya menapaki lembah nirwana. Mengajaknya berenang di samudra kenikmatan, berlayar menuju lautan lepas yang menyajikan keindahan yang kekal.


Disa menikmati perjalanan itu meski dengan mata terpejam, menahan sakit, dan dada berdebar hebat. Keduanya telah sampai di puncak gelora. Dani semakin mempercepat langkahnya, tidak menghiraukan napas Disa yang tersengal.

__ADS_1


Sesaat tubuh mereka menjadi kaku lalu terkulai lemas. Dani mengucap hamdalah karena masih bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami. Berterima kasih pada Disa dan mengecup keningnya.


__ADS_2