Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Berjuang


__ADS_3

Mas Wakhid dan Disa kembali masuk ke dalam mobil. Dani menoleh ke arah Disa, menyesal mengatakan hal tadi. Membuat netra indah itu saling bersua karena ketidaksengajaan. Disa langsung membuang pandangan ke sisi kiri mobil.


Ada perasaan yang mengganjal di hati kedua insan itu. Dani memberikan air minum dan menyodorkannya pada Disa. Mas Wakhid membiarkan interaksi itu terjadi, asal tidak melewati batasnya. Disa menerima air itu dan sedikit menyunggingkan senyum.


"Maaf," kata kedua orang dewasa itu secara bersamaan.


Jantung mereka mulai berbicara lagi. Suasana yang sangat jarang terjadi diantara mereka. Interaksi yang intens, merupakan sesuatu yang langka untuk mereka. Ya, karena mereka memang menjaga jarak. Berbincang hanya sebatas urusan Aidha dan Salwa.


Tapi malam ini, hati Dani berhasil mengubah pendiriannya. Dia tidak akan lagi membatasi jaraknya pada Disa. Malah ia sudah bertekad untuk mendapatkan hati wanita berjilbab itu. Pantang mundur sebelum ditolak!


"Saya yang seharusnya minta maaf, Pak. Tidak seharusnya marah dengan Bapak. Mohon ikuti cara berbisnis yang sudah saya terapkan. Bisa, kan?" tanya Disa memberanikan diri menatap mata Dani.


Lelaki itu menjadi panas dingin karena tatapan meneduhkan itu. Sangat hangat dan dalam. Segera dia mengangguk karena Disa mulai gusar dilihatnya seperti itu. Disa menghela napas lega.


"Saya juga minta maaf karena ngeyel dan membuat kamu jengkel." Dani menyunggingkan senyum termanisnya.


Gelenyar aneh mulai menelisik masuk ke rongga hati Disa. Membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Perasaan apa ini? Baru pertama kali dia rasakan hal seperti itu.


Getaran aneh itu membuatnya berkeringan dingin. Senyuman yang hanya sepersekian detik itu mampu menghipnotisnya. Dia terbuai dan mulai terbayang oleh sudut bibir yang terangkat ke atas. Disa segera memejamkan matanya, meremas gamis, dan beristighfar.


Mas Wakhid hanya menahan senyumnya. Menyaksikan cara mereka untuk saling bersua. Sungguh pemandangan yang menarik indra penglihatannya. Membayangkan bahwa dulu dia dan istrinya juga begitu.


"Ayo, jalan!" ucap mas Wakhid menyadarkan Dani bahwa dia baru saja mengamati diri Disa.


Dani segera menyalakan lampu sen, dan kembali ke jalanan. Bergabung dengan kendaraan lain. Tidak ada obrolan lagi, karena takut jika nanti terjadi pertengkaran lagi. Tapi Dani sangat ingin mengenal Disa.


"Ust, kenal sama Reza? Sahabatnya Sita." Dani mencoba mengulik lagi kisah cinta segitiga itu.


Disa mengangguk. "Ketemu Sita pas di Demak dimana? Kok mamah kayak orang agak lupa gitu sama kamu."

__ADS_1


"Saya memang tidak pernah berkunjung ke rumah. Kami sering ketemu di dalam majlis. Dan kebetulan, setiap Sita selesai yang menjemput adalah mas Reza." Disa menerangkan pertemuannya dengan Sita dan Reza.


Tidak terasa mereka telah sampai di rumah mak Nur. Suasana tampak sepi. Pintu rumah juga masih tertutup. Itu artinya mak Nur belum pulang dari pengajian. Disa mengucapkan terima kasih karena telah diberikan tumpangan.


Mas Wakhid masih tinggal di dalam mobil. Meminta maaf kembali atas kemarahan adiknya. Menjelaskan duduk permasalahannya. Entah ada apa dengan diri Dani. Hingga dia kegirangan dan mengucapkan hamdalah.


"Alhamdulillah," ucap Dani mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Mas Wakhid menganga mendengar ucapan Dani. Dia bersyukur karena Disa dicaci maki oleh orang tua Aris? Sepertinya otak Dani memang sedang konslet. Menari di atas kesedihan orang lain.


"Eh, maaf Mas Wakhid. Bukan maksud saya bersyukur karena kesedihan Disa!" ucap Dani terbodoh.


"Lalu kenapa mengucap syukur?" tanya mas Wakhid menahan senyumnya.


Wajah Dani menjadi merah padam. Dia takut mengatakan yang sejujurnya pada mas Wakhid. Itu artinya satu orang lagi mengetahui perasaannya pada Disa. Keringat dingin membanjiri telapak tangan dan dahi Dani. Padahal AC mobil menyala.


"Kamu suka sama adikku, ya?" tanya mas Wakhid tidak tahan disiksa rasa penasaran.


Jantung Dani serasa berhenti berdetak. Matanya melotot karena terkejut. Untuk menelan ludah saja dia kesulitan. Bagaimana semudah itu mas Wakhid menebak perasaannya kepada Disa?


"Ha-ha-ha. Sudah tidak perlu dijawab," kata mas Wakhid lagi.


"Berjuanglah jika kamu ingin memiliki Disa. Dia hanya gadis kampung biasa. Tapi banyak lelaki yang mengidam-idamkannya. Apalagi dengan statusmu yang seorang duda. Aidha sepertinya menjadi ujian terbesarmu ketika ingin mempersunting Disa. Hanya satu permohonan dari kami keluarganya, jaga dia, sayangi dia, cintai dia seperti kami menyayangi dan membesarkannya. Paham?" sambung mas Wakhid.


Dani menghela napas lega. Mas Wakhid seperti seorang ayah yang memberikan lampu hijau untuk anaknya menikah. Eh sebentar, kenapa sudah sampai membahas pernikahan? Katanya ingin memastikan perasaannya terlebih dahulu.


"Ke-kenapa berpesan seperti itu pada saya, Mas?" tanya Dani masih menyangkal perasaannya.


"Ya karena tergambar jelas dari cara kamu memandang adikku, Mas Dani. Kalau salah ya maaf, berarti saya harus mencari lelaki lain yang bisa menjaga, menyayangi, dan mencintai Disa," tutur mas Wakhid.

__ADS_1


Dani melotot mendengarnya. Jangan! Bagaimana nasib dirinya nanti?


"Bu-bukan begitu maksud saya. Huft ..., haruskah aku senang atas hal ini, Mas? Maksudnya, senang karena Disa ditolak oleh keluarga Aris. Bukankah seharusnya saya kasihan, ya?"


Mas Wakhid tersenyum, "Makanya, berjuanglah!"


Dani tersenyum senang. Mas Wakhid pamit untuk segera turun dari mobil. Tidak menawarkan Dani untuk mampir. Karena malam semakin larut. Dani juga langsung tahu diri. Dia segera pamit pulang.


Dia menyetir dengan suasana bahagia. Cekikikan sendiri dalam mobil. Ah, perasaannya hari ini benar-benar tidak dapat digambarkan. Mengenal Disa adalah sebuah anugerah untuknya.


Dani sudah bertekad. Dia akan berjuang mendapatkan hati Disa. Menghadapi segala rintangan yang akan menerjangnya. Hujan badai, angin ribut, dan halilintar tidak akan menggoyahkan niatnya sama sekali.


Mobil sudah terparkir rapi di garasi. Dia melihat ada kendaraan milik Arsya di halaman. Dia mengernyitkan dahi. Bukankah adik dan adik iparnya sedang di Semarang? Ia segera masuk untuk mengetahui orang yang bertamu.


Ternyata semuanya berkumpul, kecuali adik lelakinya yang masih di pondok. Dia harus menyiapkan jawaban jika nanti dicerca oleh Rida dan Sita. Getol sekali dua adik perempuannya itu ikut campur tentang asmaranya.


"Cie ..., ada yang habis nganterin calon istri balik. Gimana? Seneng?" tanya Rida berbisik.


Dani memasang wajah datar. Mencoba menahan senyumannya sekuat tenaga. "Biasa aja, kamu bohongin Mas, ya?"


"Mana ada! Aku memang tadi masih di jalan. Sudah nyampai Karangtengah sih, tapi kan kasihan kalau si dia nunggu lama. Cie ..., dikasih apa sama calon kakak ipar?"


Sita cekikikan pelan mendengar dua kakaknya itu. "Sst ..., kenapa dia menghubunginya kamu ya, Mbak? Kok bukan aku, ya?"


"Iya, ya?" tanya Rida.


"Ya mungkin dia mikirnya kawasan situ dekat rumahmu kali, Da. Kasihan dia, dihina sama orang tuanya si Aris," jawab Dani sok prihatin.


"Bukannya harusnya kamu senang?" tanya Sita dan Rida bersamaan. Suara mereka yang menyatu membuat volume sedikit membesar. Menghasilkan kecurigaan di benak orang yang sedang berkumpul disana.

__ADS_1


__ADS_2