Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Tamu Menyebalkan


__ADS_3

Dani dan Disa masih berada di Bonang. Mereka belum diperbolehkan meninggalkan rumah sebelum acara sepasar. Sepasar yaitu bertemunya kembali weton yang sama saat acara pernikahan terjadi. Mereka yang masih cuti menggunakan kesempatan itu untuk membereskan rumah.


Ada satu dua orang yang masih bertamu dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Termasuk keluarga Abah Shodiqun, ya, kyai itu tetap meluangkan waktu untuk memberikan ucapan selamat untuk Dani dan Disa.


Abah Shodiqun datang bersama istri, anak, dan calon mantunya. Membawa buah tangan dan kado untuk pengantin baru itu. Mak Nur menerimanya dengan senang hati. Menghidangkan semua makanan yang masih ada. Ya begitulah Mak Nur, sepertinya memang beliau senang untuk memuliakan tamu, apalagi tokoh besar seperti kyai.


Aji mengucapkan selamat pada Dani yang berhasil mendapatkan hati Disa. Mereka bercengkrama biasa layaknya orang yang sudah kenal bertahun-tahun. Dia juga memperkenalkan wanita yang cantik berkulit putih. Saat sedang bertukar cerita, Aidha dan Salwa datang.


Dani menyuruh anak-anaknya untuk menyalami tamu mereka. Buk Yah bertanya siapa kedua gadis cilik itu. Disa menjawab bahwa Aidha dan Salwa adalah anaknya. Membuat Abah Shodiqun dan istrinya saling toleh.


Ternyata mereka baru tahu bahwa Disa mendapatkan seorang duda dengan dua orang anak. Membuat mereka ber-oh ria. Mereka mengira bahwa Disa mendapatkan perjaka seperti Aji. Ternyata hanya seorang duda.


"Cerai hidup?" tanya Buk Yah.


"Cerai mati, Bu. Almarhumah meninggal saat melahirkan anak kedua. Emboli air ketuban." Dani agak tidak nyaman dengan pertanyaan Buk Yah.


Disa menggenggam tangan suaminya agar sabar. Dia juga merasakan hal yang sama, tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Memang kenapa kalau mendapat duda? Yang penting seiman, mapan, dan bertanggung jawab. Lalu apa bedanya dengan Aji? Mereka seakan lupa dengan cerminan dirinya.


"Mbak, Dik, sudah pada makan?" tanya Disa pada dua anaknya saat mereka tidur di pangkuannya.


Keduanya hanya mengangguk. Mereka masih mengantuk, hampir saja tadi pagi mereka telat untuk berangkat sekolah.


"Masih ngantuk? Rebahan di kamar Umma sana, tapi nggak boleh tidur, ya?" perintah Disa.


Saat hendak beranjak, Buk Yah yang mendengar cerita dari Mak Nur tentang ilmu agama Aidha dan Salwa, ingin menguji mereka. Bertanya sampai mana hafalan surat dalam juz tiga puluh.


"Abasa," jawab Aidha santai.


"Wah, sudah dapat tiga surat pertama di juz tuga puluh. Bagaimana bunyi ayat ke lima belas, Mbak?" tanya Abah Shodiqun.

__ADS_1


Disa tidak yakin Aidha ataupun Salwa bisa menjawab. Muroja'ah mereka baru saja sampai ayat sepuluh. Dan kini yang ditanya ayat lima belas. Yang mana belum diajarkan oleh Disa.


Heran juga dengan sikap keluarga itu. Seperti sedang menguji sesuatu untuk membandingkan ataupun mencari kelemahan. Sangat mengganggu sekali sikap mereka.


"Muroja'ah mereka baru sampai ayat sepuluh, Bah." Disa menjawab permintaan orang tua Aji.


"Aidha bisa kok, Ma!" Si sulung menerima tantangan dari kyai itu. Dia mengambil napas dan mulai melantunkan ayat suci itu.


"Bismillahirrahmanirrahiim ..., bi'aidi safarah."


"Ayat selanjutnya?" tanya Buk Yah. Aji memperingatkan kedua orang tuanya. Sikapnya sangat berlebihan dalam menguji mental Aidha.


"Kiraamim bararah ...." Aidha tetap tenang melantunkan ayat selanjutnya.


Disa dan Dani tersenyum takjub. Tidak menyangka bahwa Aidha menyanggupi tantangan itu, dan menyelesaikannya dengan baik dan sempurna. Meskipun belum bisa gerakan tangan dan artinya, tapi mampu mengingat ayat itu sudah pencapaian yang luar biasa.


Disa langsung bangkit dan mengantarkan anak-anak mereka ke kamarnya. Baru kali ini dia merasa sangat kesal dengan kehadiran tamu. Biasanya dia menyambut baik tamu yang datang, tapi kali ini tidak. Ada rasa tidak ikhlas saat dua anaknya yang terang-terangan belum diajarkan tentang ayat itu malah diberikan pertanyaan.


"Mbak, kok tadi benar jawabnya? Belajar sama tante Sita, ya?" tanya Disa saat sudah berada di dalam kamar.


Aidha mengangguk. "Iya, Ma. Aidha nggak ingin mempermalukan Umma di depan tamu. Tapi, tadi emang benar, Ma?"


Disa mengangguk, ternyata Aidha memang belum terlalu hafal urutan ayatnya. Hingga dia menanyakan kebenarannya. Salwa langsung tidur ketika kepalanya menempel pada bantal. Padahal, umma mereka sudah memperingatkan jangan tidur setelah ashar.


Disa memilih berdiam diri di kamar bersama dua putrinya daripada menemui keluarga Aji lagi. Hingga Dani memanggilnya dan menyuruh untuk keluar karena tamu mereka akan segera pulang.


Dani dan Disa mengantarkan kepulangan keluarga Abah Shodiqun. Menampilkan senyum terbaik mereka. Adzan maghrib berkumandang, membuat semua yang ada di rumah itu menunaikan salat wajib. Dani menjadi imam untuk semuanya.


Baru saja usai melaksanakan kewajiban, Mak Nur kedatangan tamu lagi. Ambar dan ibunya berkunjung untuk memberikan selamat pada Disa. Kali ini Dani yang memilih menghindar. Dia masuk ke dapur dan bermain ponsel.

__ADS_1


"Eh, Aidha dan Salwa disini juga? Kok kalian kelihatan lesu, sih? Pasti lapar, ya? Nggak dikasih makan sama ibu baru kalian?" Serangkaian pertanyaan dari Ambar membuat telinga Disa memanas.


"Kata siapa? Umma memberi makan kami, kok! Iya kan, Mbak? Sibuk masak untuk kami, bukan hanya pandai nemplokin bedak ke muka sampai tebal lima senti!" bela Salwa saat mendemgar ummanya dijelek-jelekkan.


Disa hanya terkikik mendengar jawaban Salwa. Ambar langsung menatap tajam ke arah si bungsu. Salah dia sendiri ingin menjatuhkan Disa di depan pembela setia. Senjata makan tuan namanya.


Entah kenapa hari ini Dani dan Disa mendapatkan tamu yang super menyebalkan. Mereka harus banyak bersabar menghadapi semuanya. Setelah Ambar dan ibunya pulang, Reza bersama Sita menjemput keponakan mereka.


"Ih, jemputnya besok aja ..., kami mau menginap sini." Salwa mulai merengek lagi seperti kemarin.


"Lhoh, nggak muat kasurnya, Sal." Sita kembali mengutarakan alasan yang masuk akal.


"Muat, Te! Papah suruh tidur di luar!" jawab Salwa tidak mau kalah.


"Weh, kok Papah yang kena? Banyak nyamuk disini, Nak. Nanti darah kalian habis disedot, lho. Biar Papah saja yang rela disedot, Nak." Dani membantu Sita agar kedua anaknya mau pulang.


Dengan berat hati akhirnya mereka pulang. Disa hanya bisa merelakan mereka lagi untuk pulang. Ingin rasanya segera sepasar. Kembali berkumpul dengan dua bidadari kecilnya.


"Besok ngantar kaminya lebih cepat gitu lho, Te! Dandan lama banget! Om Za, emang tante Sita nggak cantik kalau nggak dandan?" tanya Salwa sewot saat di dalam mobil.


"Woh ..., cantik dong! Semut saja sampai kesleo melihat kecantikan tante kalian!"


Aidha dan Salwa tertawa mendengar hal itu. Memang semut punya tulang di kakinya? Sita bersungut-sungut kesal karena ucapan calon suaminya.


"Makanya, Yang, kalau dandan nggak usah pakai lama. Besok Om antar kalian setelah pulang sekolah, deh! Tolong jangan biarkan papah kalian hidup tenang ya ponakan yang cakep? He-he-he." Reza ingin menjahili Dani karena sedari tadi dia pamer kenikmatan yang haqiqi padanya.


***


Assalamu'alaikum readers, Sayang. Maaf Othor up lama. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Taqabalallahu minna waminkum. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berlebaran semuanya ...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2