Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Menunggu Sebentar


__ADS_3

Pak Kus sudah dihubungi oleh Sita. Dani menunggunya datang. Mbok Yem menyuruh semua orang untuk makan. Namun, tidak ada yang menyentuhnya. Tidak berselera makan karena sedih melihat keadaan Salwa.


Pak Kus datang dan langsung menemui Dani. Dia meminta maaf lagi pada majikannya. Sangat menyesal karena keteledorannya, mengakibatkan Salwa mengalami hal buruk.


"Jujur saya kecewa, Pak. Kenapa Anda merusak kepercayaan kami begitu saja? Padahal, Anda tahu sendiri aturan disini. Tidak boleh membawa keluarga saat sedang bekerja, apalagi ini termasuk sembunyi, Pak. Bukan sebentar Bapak kerja ikut saya dan mamah." Dani mencoba menahan amarahnya.


Dia teringat akan saran Disa. Ada yang masih menjadi tanggung jawab Pak Kus, yaitu keluarganya.


"Saya akan tuntut keponakan Pak Kus, saya penjarakan dia. Ikhlas, Pak?" tanya Dani.


Pak Kus hanya diam.


"Dan saya juga minta maaf, terpaksa saya ...," ucap Dani.


***


Disa mengecek ulang suhu badan Salwa. Sudah mulai turun panasnya. Dia mengucap syukur akan hal itu. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia belum menunaikan kewajibannya. Segera bergegas untuk salat.


Setelah selesai salat, Disa harus pulang. Emak sudah mengirim pesan suara lewat ponsel Riski. Menyuruhnya agar segera sampai rumah. Keluarga Abah Shodiqun sudah menunggunya sejak pukul empat sore.


Mamah Yuli mengucapkan terima kasih. Tanpa Disa, mungkin hal yang lebih buruk akan dialami oleh Salwa. Arsya dan Rida ditugaskan oleh mamahnya untuk mengantar wanita itu. Namun, dia menolak.


Bersikeras mengatakan bisa pulang sendiri. Tanpa perlu diantarkan oleh kedua pasangan suami istri itu. Dani yang masih berbicara dengan Pak Kus menyuruhnya tinggal sebentar. Dia yang akan mengantarkan Disa pulang.


"Maaf, Pak Kus, terpaksa saya harus memecat Anda. Satu kesalahan jika dibiarkan akan terulang kembali, bukan?" Dani begitu berat mengatakannya.

__ADS_1


Dia mengambil keputusan itu karena keponakan Pak Kus sudah tahu tentang keluarganya. Itu semua berkat cerita supir itu pada mamahnya. Bagi Dani, hal itu tidak perlu diceritakan. Akibatnya malah terjadi sesuatu yang membuat trauma di benak masing-masing.


Pak Kus hanya bisa pasrah. Tidak berani membantah sedikitpun ucapan majikannya. Dia sangat kecewa dengan Ateng, yang malah membuatnya kehilangan pekerjaan. Di zaman sekarang, susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian.


Dani menyodorkan kartu nama seorang teman padanya. Dia adalah seorang pengusaha yang berstatus sama sepertinya. Beberapa waktu lalu meminta bantuan lelaki itu untuk mencarikannya seorang tukang kebun yang dapat dipercaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Dani sebagai mantan majikan.


"Ini kartu nama teman saya. Kalau Bapak masih membutuhkan pekerjaan, hubungi nomor itu. Katakan nama lengkap saya jika memang Anda bersedia. Sya, antar Pak Kus bertemu dengan mamah untuk ambil pesangon dan gajinya. Da, kamu ikut Mas mengantar Ust Disa pulang." Dani mempersilahkan Pak Kus bertemu dengan mamahnya.


"Saya bisa pulang sendiri, Pak. Lebih baik Anda temani Salwa saja," ucap Disa mencoba menolak tawaran itu. Dia hanya takut Mak Nur bicara macam-macam lagi jika bertemu Dani.


"Kamu nggak ingat kejadian hari ini? Hampir saja kamu dan Salwa jadi korban predator. Nggak usah nolak! Tenang, saya masih kuat!"


"Kuat apa tu? Hati-hati juga Ust Disa, yang mau nganterin juga udah lama nggak dapat jatah! Ha-ha-ha." Rida berjalan mendahului Disa dan Dani menuju mobil.


Dua orang anak manusia itu hanya diam tidak tahu harus bicara apa. Dani bertekad akan memberi adiknya itu pelajaran. Tidak ada Sita, masih ada Rida. Keberadaan dua wanita dengan mulut super duper ember itu sepertinya tidak akan punah.


"Maaf, kita bukan muhrim," ucap Disa.


"Ha? Oh tenang saja, segera saya jadikan muhrim nantinya. Minta kunci motormu. Biar besok kamu nggak bingung kalau berangkat kerja." Dani begitu tenang saat mengatakannya.


Hati Disa bagaikan diombang-ambing oleh desiran ombak di hati. Sungguh, dia merasa Dani sedang tidak menggombal padanya. Kalimat itu terasa tulus keluar dari mulut si duda. Dia segera sadar dari lamunan singkatnya. Memberikan kunci motor pada Dani.


"Saya serius dengan ucapan saya barusan. Tolong tunggu saya dan mamah datang menghadap orang tua dan walimu. Sabar hingga Salwa membaik. Apakah kamu bisa melakukan hal itu untuk saya? Menunggu sebentar saja," ucap Dani menatap mata Disa.


Apa ini? Apa yang baru saja diucapkan Dani? Disa tidak salah mendengar, bukan? Tidak! Dia tidak salah mendengar. Duda itu memang sedang mempublikasikan perasaannya pada Disa. Ada satu hal yang membuat pria itu berani mengatakannya hari ini.

__ADS_1


Itu semua karena kejadian yang dialami Salwa. Disa rela mengorbankan dirinya hanya untuk menolong anaknya. Jika dia tidak memiliki kedekatan yang begitu mengikat, pasti ia akan membiarkan hal itu begitu saja.


Dani tidak ingin sosok Disa menjadi milik orang lain. Anak-anaknya butuh seseorang seperti Disa. Yang mampu menyayangi mereka dengan tulus, tanpa memandang rupa, tahta, dan harta dari Dani.


Disa mengucapkan basmalah. Menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya. Dani hampir saja memeluk wanita itu karena senang. Lelaki itu mengucap hamdalah demi mengapresiasikan rasa syukurnya.


"Woy! Jadilah aku selai kacang disini. Calon kakak ipar, silahkan masuk. Dayang cantik ini akan mengantarkan tuan putri ke rumah. Biarkan pangeran kodok mengendarai roda dua itu." Rida keluar lagi dari mobil dan pindah ke kursi kemudi.


Mereka berangkat menuju Bonang. Rida sungguh wanita yang asyik diajak mengobrol. Pengetahuan dia luas, hingga membicarakan apapun akan sangat nyambung dan ditanggapi dengan dua sisi yang berbeda.


Banyak yang diceritakan Rida mengenai kehidupan Dani. Membuat Disa semakin kagum akan sosok lelaki itu. Bagaimana dia sangat menyayangi kedua putrinya. Berusaha bangkit dari kehilangan demi dua anak yang ditinggalkan istrinya.


"Aidha itu sama sifatnya kayak si Dani. Mas Dani maksudku, Mbak. Keras kepala, ngeyelan, kalau kesel omongannya suka pedes! Tapi mereka berdua itu penyayang. Beda sama Salwa, dia itu lebih cuek sebenarnya, pemikirannya udah kayak orang dewasa. Jadi hati-hati kalau ngomong sama si bungsu," tutur Rida.


"Iya, Mbak Rida. Saya setuju kalau Aidha itu sebenarnya anaknya penyayang. Dia kemarin sedang menutupi dirinya." Disa setuju dengan ucapan Rida.


Tidak lama, mereka sudah sampai di Bonang. Mak Nur langsung membuka pintu menyambut Disa dengan wajah kesal. Dani memarkirkan motor di samping rumah. Mereka menyalami wanita paruh baya itu.


"Kamu ini bagaimana sih, Sa? Abah Shodiqun dan keluarganya menunggu kamu lama!" marah Mak Nur pada Disa.


Dani mencoba menjelaskan yang dialami Disa. Mak Nur mengucap istighfar atas yang dialami Salwa dan juga anaknya. Bertanya keadaan mereka. Dia sungguh malu karena egois dan malah marah.


"Masuk dulu sana, Sa. Ketemu dengan keluarga Abah Shodiqun." Disa mengucapkan terima kasih dan langsung masuk ke dalam rumah.


Emak mengucapkan terima kasih dan meminta maaf tidak bisa mempersilahkan Dani dan Rida masuk. Rumah itu sedang kedatangan tamu penting. Dani penasaran siapa yang berkunjung. Saat menyalami emak hendak berpamitan, telinga duda itu menangkap nama yang beberapa hari ini mengganggu hatinya.

__ADS_1


Seorang wanita yang ada di dalam menyebut nama Aji dengan jelas. Hati Dani menjadi tidak tenang karena nama itu. Dia mengumpulkan segenap keberanian dan bertanya pada emak.


__ADS_2