
Dani bertanya pada satpam rumah sakit dimana ruang IGD itu. Bertanya apakah ada pasien atas nama Disa, Aidha, dan Salwa? Pasien atas nama itu sedang berada di IGD. Bersyukur dua gadisnya baik-baik saja.
Disa menjelaskan tentang pemeriksaan yang didapatnya dan dua anak itu. Belum melunasi administrasi. Dia juga mengatakan sudah menelpon Mas Wakhid dan Riski agar memberi kabar pada Mamah Yuli. Saat ini, kakaknya dan Arsya sedang menuju Semarang untuk menjemput mereka.
Mobil Dani terpaksa harus diderek ke Demak. Lelaki itu agak takut menaiki kendaraannya sendiri. Disa meyakinkan padanya bahsa semua akan baik-baik saja.
"Tadi di polsek bagaimana, Mas?" tanya Disa.
"Tadi Mas ditanya seputar kecelakaan kita. Penyidik belum berani menyimpulkan secara gamblang, tapi mereka bilang kejadian ini seperti hal yang disengaja." Dani menghelas napas berat saat mengatakannya.
"Innalillahi wa innailaihi ro'jiun ..., lalu apakah mereka sudah tahu siapa pelakunya?" Disa sangat antusias.
Dani menggeleng, membuat semangat wanita itu langsung meredup. Salwa merengek minta pulang, Disa menenangkannya agar tidak menangis. Lelaki itu melunasi biaya administrasi lalu mengajak mereka untuk menunggu jemputan.
Mas Wakhid dan Arsya berlari menuju arah Dani saat mereka sampai. Bertanya keadaan mereka. Mengucap syukur karena semuanya baik-baik saja. Segera bergegas ke polsek untuk izin mengambil mobil.
"Siapa sih yang tega membuat kalian mengalami kejadian seperti ini?" tanya Arsya saat mobil sudah berhenti di polsek.
"Mana kami tahu, Sya. Kalau tahu juga sudah aku laporkan pelakunya!" Dani sudah sangat sewot.
Truck penderek sudah mengangkut mobil ke atas badannya. Dani berterima kasih pada petugas polsek karena diizinkan membawa mobilnya pulang. Arsya kembali membahas kecelakaan itu mmbuat kakak iparnya sedikit menaikkan intonasi suaranya.
Keadaan capek badan, pikiran, dan masih ditambah dengan kecelakaan. Lengkap sudah hari ini. Disa mencoba mengalihkan kemarahan Dani. Bertanya tentang undangan.
Dani membuka ponselnya, lalu menunjukkan pada Disa contoh desain yang dikirimkan oleh Arsya. Wanita itu melihatnya. Dia tersenyum senang, desain yang simpel, sama persis dengan keinginan hatinya.
Disa bertanya apakah nanti undangan online mereka juga sama seperti itu atau beda lagi? Arsya menjawab sama. Hanya beberapa bagian saja yang nantinya akan ditampilkan. Disa meminta latar yang nantinya dipakai adalah warna putih.
Arsya bertanya tentang jumlah undangan cetak. Meminta daftar nama tamu agar bisa diketik sekalian. Dani dan Disa sama-sama membuka catatan di ponsel mereka lalu mengirimkannya pada Arsya.
Daftar tamu undangan baik yang cetak maupun yang undangan virtual sudah semua. Mereka berdua menjumlahkannya karena hal itu terkait dengan porsi masakan nantinya. Mas Wakhid hanya diam seperti menahan rasa khawatir.
"Sa, Mas Dani, sudah ada kejadian seperti ini, sebaiknya kalian waspada. Jangan pergi jika hanya berdua, godaan orang mau menikah itu macam-macam. Mas hanya mengingatkan, alangkah baiknya kalian ditemani saudara atau kerabat. Kalau masih bisa diwakilkan, artinya kalian harus mengalah. Tidak boleh memaksakan kehendak ingin ini itu sendiri." Mas Wakhid tidak tahan dengan diamnya.
__ADS_1
Mas Wakhid terlalu khawatir dengan calon pengantin itu. Disa dan Dani saling toleh dan menjawab ya. Mereka juga sadar bahwa cobaan mendekati hari H semakin banyak.
"Dani masih harus berurusan dengan polsek, Mas," kata Dani tidak ingin calon kakak iparnya salah paham, menganggap dirinya tidak bisa diberitahu.
Mas Wakhid mengangguk. "Nanti saya temani, Mas Dani. Disa biar di rumah saja. Nduk, fokus dengan urusan rumah, ya?"
"Nggih, Mas." Disa setuju dengan usul Mas Wakhid.
"Mulai sekarang kamu biar diantar jemput sama Riski."
Disa mengernyitkan dahinya, tidak setuju dengan usul Mas Wakhid. Pasalnya, Riski sedang sibuk belajar untuk ujian. Dia tidak ingin merepotkan adiknya.
"Jangan Riski, Mas. Dia sedang belajar untuk ujian."
"Ya sudah, Mas sendiri yang akan antar jemput kamu. Nyuruh Yono juga nggak bisa, dia sedang panen." Mas Wakhid mengalah demi adiknya.
"Bagaimana dengan kerjaanmu, Mas?"
Dani begitu terharu mendengarnya. Mas Wakhid adalah sesosok kakak, wali, dan sahabat yang sangat peduli dengan adiknya. Lebih memilih untuk mengenyampingkan urusannya mencari nafkah, padahal dia seorang suami yanh tugas utamanya adalah memberi nafkah bagi keluarga.
Beruntung Disa memiliki kakak sebaik dan sesayang Mas Wakhid. Dani juga bersyukur karena mendapatkan seorang calon ipar yang sangat bertanggung jawab. Membuatnya tidak enak hati dan memberinya pekerjaan sementara.
"Mas, boleh minta tolong?" tanya Dani.
Mas Wakhid mengangguk. "Rumah saya tolong dicat lagi biar kelihatan baru. Jadi, nanti saat mengantar Disa langsung ke rumah kerja, pulangnya bisa sekalian juga. Pripun, Mas? Ini bukan maksud saya merendahkan Mas Wakhid," ucap Dani.
Mas Wakhid tertawa, "Iya saya tahu, terima kasih, Mas Dani. Nggih nanti saya cat ulang rumahnya. Tolong nanti tunjukkan bagian mana saja."
"Alhamdulillah ..., nanti saya tunjukkan, Mas. Besok bisa mulai belanja sama Arsya di tokonya."
"Lho, Mas Arsya punya toko juga?" tanya Mas Wakhid.
"He-he-he. Kerja serabutan ya begini, Mas." Arsya malah malu ketika ada yang tahu dirinya memiliki usaha selain percetakan.
__ADS_1
Semuanya malah tertawa. Ternyata masih ada orang model Arsya, yang malu saat orang lain mengetahui tentang hartanya. Mereka telah sampai di rumah Dani. Mamah Yuli berlari menghampiri mobil itu. Memeluk kedua cucu, anak, dan calon mantunya.
Bertanya apakah ada yang terluka atau tidak. Dani menenangkan mamahnya dan berkata semua baik-baik saja. Mas Wakhid pamit pulang karena emak juga menunggunya di rumah. Riski sudah pulang terlebih dahulu.
Mas Wakhid meminjam motor Dani dan berjanji besok akan mengembalikannya. Lalu keduanya berboncengan pamit pulang ke arah Bonang. Disa hanya diam, terlalu kalut dengan pikirannya.
"Mas ...," ucap Disa menggantung.
"Piye, Nduk?" tanya Mas Wakhid.
"Disa kok su'udzon sama seseorang, ya? Astaghfirullah ...," ucap Disa tidak berani memikirkan prasangkanya.
"Sama siapa?"
"Mas Aris ...," jawab Disa ragu.
"Memangnya kenapa dengan Aris?"
Disa menceritakan kejadian tiga hari lalu. Dimana Aris memintanya untuk membatalkan pertunangan dengan Dani. Lelaki itu langsung menghilang ketika penolakan terjadi.
Mas Wakhid memperingatkan adiknya agar menepis pikiran jeleknya. Takut jika tidak benar malah menambah dosa pada diri sendiri. Memberikan saran agar percaya pada kepolisian dan membiarkan mereka bekerja sesuai bidangnya.
Namun, di dalam hati Mas Wakhid semakin khawatir. Apa benar Aris? Dia harus mencari jejak yang dapat memberinya petunjuk bahwa kecelakaan ini bukan disebabkan oleh Aris.
"Semoga pelakunya cepat ketemu, Nduk. Mas khawatir sama keselamatan kalian. Tidak ingin terjadi apa-apa. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari mara bahaya. Aamiin." Mas Wakhid hanya bisa memanjatkan do'a yang baik dan diamini oleh Disa.
***
Dani POV
Assalamu'alaikum ..., Mas Dani datang bawa berita bahagia, nih! Jadi, saya dan dik Disa ingin mengundang semuanya datang ke acara nikahan saya. Tidak perlu bawa apa-apa. Bawakan do'a saja bagi kami. Ini undangannya, catat tanggalnya ya guys.
__ADS_1