
Rombongan Dani dan keluarga pulang. Mereka menantikan kabar Mas Wakhid tentang penentuan hari pernikahan. Sang duda yang sedang bahagia hatinya menyenandungkan lagu milik almarhum Crhisye yang berjudul cinta sedari tadi.
Bu Ana, Pak Tris, Mamah Yuli dan keluarga yang masih ada disana sampai geleng kepala melihatnya. Reza yang sedang video call dengan Sita memberikannya pada calon mertuanya.
"Ih ..., cuma Sita yang gak ada disana!" kesal Sita.
"Fikri juga nggak ada. Acaranya mendadak, Ta." Mamah Yuli mencoba membesarkan hati anaknya.
"Ya tetap saja, Mah ..., tapi alhamdulillah, Sita ikut senang. Jodoh nggak ada yang tahu ya, Mah? Berawal dari jadi guru ngaji, eh keterusan sampai lamaran. Mas Za ..., hati kamu nggak panas, kan?" tanya Sita.
"Panas ..., penyejuk hatiku lagi jauh. Di Bandung sana. Mau nyusul kok ya belum bisa ..., piye jal?" balas Reza.
Mamah Yuli memberikan lagi ponsel pada Reza. Lelaki itu kembali di teras, mengobrol dengan calon istrinya. Dia memperingatkan Sita untuk tidak mengungkit masa lalu. Dia takut jika nanti malah membuat hubungan mereka renggang kembali.
Sita meminta maaf karena lancang membahas masa lalu. Tidak ingin melihat calon suaminya marah. Dia menunjukkan kebaya yang akan digunakannya untuk wisuda besok.
"Yang, bentar lagi gelarnya nambah nih, magister hukum, dan peradaban islam. Mas Za punya pertanyaan buat kamu, mencuri itu termasuk kejahatan ringan atau berat?" tanya Reza dengan senyuman memukau.
"Ringan dong, kamu besok sabtu bisa kan datang ke acara wisuda aku?" tanya Sita harap-harap cemas.
"Kalau membuat seseorang lumpuh?" tanya Reza lagi.
"Ish ..., nanya apa sih, Mas? Besok sabtu kamu bisa nggak?"
"Tinggal jawab doang, nanti gantian Mas Za yang jawab pertanyaan kamu."
"Berat, melukai fisik seseorang hingga membuatnya cacat termasuk perbuatan yang keji," jawab Sita sesuai pengetahuan yang dia tahu.
Reza menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan calon istrinya. "Berarti ..., kamu juga harusnya kena pasal dong, Yang."
"Maksudnya?"
"Iya, kamu kan sudah membuat pikiranku lumpuh. Hingga tidak mampu bekerja memikirkan hal lain kecuali dirimu," jawab Reza dengan begitu mulus.
Sita tertawa terbahak-bahak karena perkataan Reza. Ternyata sedari tadi lelaki itu mengucapkan kalimat tidak jelas adalah untuk merayu dirinya? Pandai sekali pria itu, banyak kemajuan.
Kepala Reza dijitak oleh Dani dari belakang. Sang duda muncul tiba-tiba dan mengejutkan keduanya. Sita memarahi kakaknya karena melukai orang tersayang.
"Mas ..., cie ..., selamat, ya! Akhirnya cintanya beneran bersambut, dong! Ah senangnya ..., guru ngaji anakku adalah calon istriku. Coming soon, saudara!"
__ADS_1
Dani tertawa mendengar ucapan adiknya. Jika dilihat kilas balik perjalanan cintanya bersama Disa memang judul itu sangat cocok untuk kisahnya.
"Mas nggak bisa hadir di wisudamu, Ta. Mau foto prewed aku."
Sita terkejut mendengarnya. Dia tahu Disa bukan orang yang mau diajak foto. Tapi kenapa dengan Dani wanita itu langsung setuju?
"Aidha dan Salwa bantuin aku, mereka memang selalu terdepan kalau urusan membujuk ummanya."
Reza dan Sita kembali tercengang dengan panggilan umma. Wah ..., mereka terlalu ketinggalan berita besar. Makanya dong, baca Pinangan Kedua yang selalu update setiap hari. Favoritkan biar dapat notifikasinya. 😁
Sebagian saudara pamit pulang dan mengucapkan selamat pada Dani. Berpesan agar segera memberitahu mereka jika sudah mendapatkan tanggalnya. Lelaki itu menyambutnya dengan senyuman bahagia.
***
Disa : Assalamu'alaikum, Mas. Selamat pagi, nanti tolong tunggu sebentar di depan gerbang sekolah. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.
Dani membaca pesan di layar pipih itu dengan tersenyum. Bahagia sekali hatinya, pagi hari sudah mendapatkan pesan dari wanita yang dicintainya. Dengan cepat jarinya mengetik balasan untuk Disa.
Me : Wa'alaikum salam, Dik. Pagi juga, oke, Mas tunggu nanti di gerbang sekolah.
Saat berjalan turun kedua anaknya telah siap dan rapi. Mamah Yuli meminta mereka segera sarapan, tapi dua gadis itu menolak. Mereka tidak mau makan pagi seperti biasanya, sudah sangat terburu-buru.
"Nanti kalian nggak fokus belajarnya, Nak," ucap Mamah Yuli tetap memaksa mereka sarapan.
Dani melihat jam masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Terlambat darimana? Aneh! Dua gadis itu terus merengek minta cepat berangkat ke sekolah.
Dani mengalah, dia berpamitan dengan mamah dan mertuanya. Berpesan pada mereka agar tidak pulang sebelum dia kembali dari kerja. Ia yang akan mengantarkan Bu Ana dan Pak Tris ke Semarang.
Baru kali ini Aidha minta diantar ke sekolah. Entah ada apa dengan dua anaknya, tapi mereka sangat aneh pagi ini.
"Kita antar Salwa dulu, Pah. Buruan!" Aidha terus menerus mendesak papahnya.
Salwa sudah sampai di sekolah. Ternyata Disa sudah menunggu mereka di depan gerbang. Lalu wanita itu masuk ke mobil dan membuka kotak bekal. Menu sarapan yang sangat menggiurkan, nasi goreng dengan irisan sosis dan bakso. Masih ada lauk nugget yang digoreng coklat keemasan.
Disa memberikan satu kotak lagi pada Dani. Menyuruh dua anak gadis itu untuk berdo'a sebelum makan.
"Jadi alasan minta cepata berangkat karena mau sarapan disuapin umma, Mbak?" tanya Dani.
Aidha menyeringai dan mengangguk. Manja sekali para anaknya dengan Disa. Pasti wanita itu kerepotan harus berangkat pagi sekali dari rumah. Dani mengingatkan pada Aidha maupun Salwa agar tidak merepotkan ummanya.
__ADS_1
Kasihan jika wanita itu sampai kerepotan dan kelelahan. Disa berdecak dan mematahkan ucapan Dani. Dua anak itu tidak merepotkan dirinya sama sekali. Justru dia senang karena bisa sarapan dengan mereka.
"Mas ..., nanti kardus yang ada disana semuanya dibawa. Sudah aku tulis mana yang untuk kantor, rumah bu Yuli, dan bu Ana." Disa menunjuk beberapa kardus yang sudah tertata rapi.
"Kamu ..., bawa itu sendirian?" tanya Dani.
"Tidak, tadi aku suruh angkutan mengantarnya kesini. Mana bisa Adik bawa banyak begitu?" jawab Disa sembari membersihkan nasi yang menempel di mulut Salwa.
"Kok nggak bilang sama Mas? Kan bisa dijemput tadi," bantah Dani.
"Nggak papa, biar kamu nggak bolak-balik. Makanannya nggak enak? Kok nggak dimakan?" Disa melihat bekal di tangan Dani masih utuh belum tersentuh.
Dani menyeringai, "Suapin kayak mereka dong, Dik ..., he-he-he."
Aidha dan Salwa langsung terbatuk mendengar permintaan papahnya. Sungguh menggelikan bagi mereka. Tadi mereka dibilang manja sekali, lalu sekarang dirinya sendiri minta disuapkan? Sudah lupa dengan ucapannya barusan?
"Ih ..., Papah genit!" ucap kedua anak itu.
"Dih, nggak papa, dong! Umma kan calon istri, Papah." Dani tidak mau mengalah dengan anaknya.
"Makan sendiri, Mas. Waktunya sudah mepet. Sebentar lagi banyak siswa datang lho." Disa menengahi perdebatan antara papah dan anak itu.
Dani memasang wajah masam karena penolakan dari Disa. Membuat Aidha dan Salwa tertawa mendapatinya begitu. Akhirnya Dani makan sendiri dengan mengomel.
"Rezeki, tuh! Jangan ngomel di depan makanan, Pak." Disa sengaja memanggilnya begitu. Membuat pria itu semakin uring-uringan.
*Bergetar hatiku, saat ku berkenalan dengannya
Kudengar dia menyebutkan nama dirinya
Sejak ku bertemu, ku telah jatuh hati padanya
Di dalam hati telah menjelma cinta
Dan bawalah daku selalu
Dalam mimpimu, di langkahmu, serta hidupmu
Genggamlah daku kini juga nanti
__ADS_1
Harapan di hatiku
Bawalah diriku, selamanya*