
Dani memasukkan kardus ke bagasi mobil. Lalu pamit pada Disa. Mengantarkan Aidha ke sekolah. Sungguh lengkap rasanya pagi ini. Kehadiran ustazah cantik itu selalu menambah kesan sempurna.
Aidha menyalami papahnya dengan hati senang. Dani mencium pipi anak sulungnya. Berpesan agar belajar dengan baik dan memperhatikan guru saat mengajar. Lalu melaju menuju kantor.
Reza yang baru sampai langsung diseret oleh Dani mendekat ke mobilnya. Menyuruh calon adik iparnya membawa beberapa kardus dan menyuruhnya membagikan pada semua rekannya.
Harinya kini semakin berwarna dan bahagia. Setiap waktu dia selalu merasa ada yang mencari. Karena jika dia tidak memberi kabar pada Disa, maka wanita itu akan menghubunginya terus menerus.
Disa : Mas, dimana? Adik punya kabar bahagia. Aku lolos PPG, alhamdulillah ☺
Me : Barakallah, Dik. Mas ikut senang dengarnya. Masih di kantor. Pulangnya hati-hati, ya. Mas Wakhid belum dapat tanggal?
Disa : Nanti malam coba aku tanyakan, Mas. Iya. Adik pulang, ya? Assalamu'alaikum, Mas.
Me : Wa'alaikum salam, Sayang.
Dani kembali mengetik laporan kegiatan. Dia lebih semangat dan gesit dalam mengerjakan pekerjaannya. Semua memang karena wanita itu. Perempuan yang kehilangan jilbab biru di kantornya. Ah, dia lupa memberitahukan siapa yang mengambil kerudung itu.
Setelah diusut, ternyata yang mengambil adalah anak Bu Mar. Tahu alasan kenapa anak ibu yang pernah menolong Disa hanya mampir sebentar di kantor? Itu karena penyakit klepto yang dialaminya.
Bu Mar tahu saat berkunjung ke rumah anaknya dan tidak sengaja melihat jilbab yang sama saat bertemu Disa di pasar. Menanyakan pada anaknya, tapi dia tidak tahu milik siapa. Sang ibu mengira anaknya sudah sembuh dari penyakit itu, ternyata tidak.
***
Mamah Yuli ditemani oleh Reza berangkat menuju Bandung. Besok Sita akan wisuda untuk yang kedua kalinya. Jika dulu gelarnya sarjana, kini dia akan naik tingkatan menjadi magister. Mereka berangkat menggunakan bus eksekutif jurusan Bandung.
Reza membantu calon mertuanya membawa barang. Mamah Yuli naik dan mencari keberadaan kursinya. Reza memasukkan barang ke bagasi bus lalu menyusul naik armada gagah itu.
"Mah, pakai jaket dan selimutnya. Dingin lho, Reza matikan AC-nya ya, Mah?" Reza menutup AC, menyibakkan selimut dan menyelimuti calon mertuanya.
Sungguh lelaki yang perhatian. Mamah Yuli sudah sangat mengenal Reza. Dan selama itu, sikap pria itu tidak berubah sama sekali. Meski pernah renggang dengan anaknya, lelaki itu tetap saja baik dan mau membantunya di kala Rida dan Dani tidak dapat diandalkan.
"Mamah bisa pakai sendiri, Za," ucap Mamah Yuli menepuk bahu calon menantunya itu.
"Kalau sudah ngantuk tidur saja, Mah."
__ADS_1
"Baru juga naik bus, Za. Masa sudah kamu suruh tidur saja Mamah ini."
Keduanya tertawa. Kondektur datang dan meminta tiket bus pada keduanya. Menanyakan titik turun mereka. Reza berpesan pada kondektur agar dibangunkan saat sudah sampai tujuan mereka.
Sita menghubungi Reza, lewat panggilan suara itulah dia berkabar dengan sang wanita.
"Iya, ini aku berangkat sama mamah. Mas Dani nggak bisa ikut, mereka ada acara prewed sendiri," ucap Reza membeberkan alasan absennya Dani.
"Mereka yang akhir lamaran kok duluan prewed ..., aaa ..., pengen ...," kata Sita manja.
Reza tertawa mendengar suara manja itu. "Besok habis wisuda sekalian prewed. Mas Za sudah bawakan baju untuk kamu. Semoga saja pas, Yang. Buruan tidur, besok kan acaranya pagi. Nanti telat bangun, lho."
"Iya, habis ini mau tidur. Aku bunyikan alarm jam tiga subuh. Nanti kalau sudah mau sampai kabari ya, Mas."
"Iya, sudah ya cantik ..., bobok dulu. Lanjut nanti lagi. Oke, Sayang?"
"Siap! Ha-ha-ha. Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikum salam warahmatullah." Reza tersenyum dan memutus sambungan telepon.
"Mau ngajak Sita bulan madu sekalian naik haji, Mah. Sekalian sama mami, papi, dan Mamah." Reza mengungkapkan rencana bulan madunya bersama Sita.
"MasyaAllah ..., alhamdulillah Sita berjodoh dengan lelaki sebaik kamu, Za. Mamah do'akan semoga niatmu qobul, Nak. Tidak usah mengajak Mamah tidak apa-apa." Mamah Yuli mengucap syukur atar berita yang di dengarnya.
Reza menggeleng, "Itu adalah nazar Reza ketika berhasil merebut kembali hati Sita, Mah."
"Biayanya, Za?"
"Alhamdulillah, Mah. Kan Reza punya usaha sablon dan distro baju di Kudus. Dari situ Reza mulai nabung, berharap suatu saat bisa mendapatkan lagi hati Sita, akan menaikkan haji papi, mami, Mamah dan kami berdua. Ditambah dari uang gaji juga sih, he-he-he."
"Barakallah ..., tapi kamu tidak lupa berzakat, infaq, dan sedekah kan, Za?"
Reza mengangguk, mengerti dengan kekhawatiran calon mertuanya. Sesungguhnya setiap pendapatan yang kita terima di dalamnya terselip hak orang lain, yang Allah SWT titipkan pada kita. Jadi, lelaki itu tahu betul apa yang harus dilakukan terhadap hartanya.
Selain itu, sedekah, infaq, dan juga zakat melindungi kita dari keburukan. Menjauhkan kita dari sifat kikir. Mamah Yuli sangat bersyukur anak-anaknya mendapatkan jodoh yang bukan hanya sekedar tahu, tapi paham akan agama.
__ADS_1
Dulu, saat menyerahkan Rida pada Arsya, wanita tua itu tahu betul bagaimana ekonomi mereka. Pasangan itu sangat mandiri, tidak mau membebani orang tua mereka. Membangun bisnis yang bisa dikatakan jatuh bangun untuk meraib kesuksesan. Alhamdulillah, sekarang sejoli itu sangat kompak.
Besar kecilnya yang kita dapat tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan jika terus merasa kurang. Kuncinya hanya bersyukur atas apa yang didapat, gunakan di jalan Allah, dan tidak lupa untuk berhemat. Pisahkan antara kebutuhan dan gaya hidup.
Amalan yang dapat mendatangkan rezeki dari pintu manapun adalah dengan sedekah, infaq, dan zakat. Allah sangat senang dengan hamba-Nya yang selalu membahagiakan orang lain dengan hasil jerih payahnya.
Kondektur membangunkan Reza sesuai titik penurunannya. Lelaki itu memesan taksi untuk mengantar mereka ke kost Sita. Saat hampir sampai, Mamah Yuli menelepon anaknya.
"Assalamu'alaikum, Mah." Sita menyalami mamahnya dan memeluknya erat. Kerinduan membuncah dengan pelukan hangat itu.
"Wa'alaikum salam. Bantu Reza bawa barang bawaan." Sita mengangguk dan langsung menghampiri calon suaminya.
"Sini aku bantu bawa, Mas."
Reza tersenyum dan memberikan sebagian bawaannya pada Sita. Berjalan beriringan dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.
"Makin cantik aja sih calon istri aku, Mas Za kangen sama kamu!" ucap Reza sambil berlari cekikikan.
Sita mematung mendengarnya. Sayang sekali mereka belum halal. Coba kalau sudah, pasti pelukan hangat dan ciuman mesra akan mendarat untuk lelaki itu. Wanita itu menepis pikiran nakalnya, mengibaskan tangan ke wajah karena merah merona malu.
Reza semakin terkikik melihat ekspresi wajah Sita. Dia memang sengaja menggoda calon istrinya. Membalas perbuatan wanita itu yang selalu menggombali dirinya saat di telepon.
Pagi menjelang, Sita sudah mulai dirias sejak pukul lima subuh. Mamah Yuli hanya dipoles tipis agar terlihat lebih segar. Reza memakai batik khas Demak. Tampak memesona dengan celana hitam panjang dan sepatu panthopel coklat senada dengan bajunya.
Reza mengajak Sita untuk foto terlebih dahulu. Lalu mereka berpisah, karena wisudawan dan tamu undangan tempat duduknya terpisah. Acara berlangsung sesuai susunan, sangat memukau penampilan yang disajikan. Lancar dari awal sampai akhir.
"Kok aku nggak dikasih bunga sih, Mas?" tanya Sita sedikit iri dengan teman-temannya.
"Halah, buat apa? Mas kasih yang lain aja mau?" ucap Reza sambil menggerakkan bibirnya maju ke depan.
"Astaghfirullah ..., sadar, Mas! Mah, mas Za nih!"
"Bukan ciuman Sita, cuan aja ya? Mau?"
"Tentu mau, dong!" jawab Sita dan Mamah Yuli. Mereka tertawa bahagia.
__ADS_1