
Ada perasaan sedih hinggap di hati Disa. Sedikit sesak melihat lelaki itu marah padanya. Dia mencoba memahami keadaan yang ada. Lalu tersenyum untuk menyemangati diri sendiri. Mbok Yem yang sedang ada di dapur mendengar semua pembicaraan mereka.
"Sabar nggih, Ust. Bapak kalau lagi kesal memang begitu. Kenapa tadi tidak mulai bercerita dari kisah si Kusnadi?" tanya Mbok Yem.
Disa tersenyum, "Iya Mbok, saya nggak papa kok. Tidak usah menyalahkan orang lain, karena dalam hal ini saya juga salah," ucap Disa. Ada panggilan masuk ke gawai pintarnya. Segera dia menjawab telepon itu.
Dani menyiapkan hati agar tidak rapuh di depan anaknya. Mempersiapkan diri agar air matanya tidak jatuh saat melihat keadaan si bungsu. Merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga dengan baik amanah yang ditinggalkan oleh almarhumah.
Dani masuk ke kamar yang dipakai istirahat oleh Salwa. Disana ada Aidha dan mamahnya yang menemani. Tidak tega melihat gadis kecilnya tidur dengan posisi meringkuk. Persis seperti orang yang ketakutan.
Akhirnya air mata yang ditahan lelaki itu tumpah. Dadanya sesak melihat kaki Salwa yang berdarah. Aidha bangkit dan memeluknya. Mencoba saling menguatkan.
Dani mendekat melihat wajah si bungsu. Tersenyum getir melihat buliran keringat di dahi Salwa. Menghapus dan mencium kening itu. Mamah Yuli mengusap punggung anaknya.
"Mamah mau bicara sama kamu sebentar. Aidha, jaga adiknya ya, Nduk?" perintah Mamah Yuli.
"Ya, Mbah." Dani dan Mamah Yuli meninggalkan kamar.
Mereka menuju meja makan. Mbok Yem melanjutkan masaknya yang sempat tertunda. Mamah Yuli menceritakan semua yang dia tahu. Membuat Dani semakin marah.
Lelaki itu segera mengucap istighfar berulang-ulang, agar bisa meredakan kemarahannya. Mbok Yem ikut berceletuk dengan majikannya. Tidak terima jika Disa disalahkan dalam hal ini. Padahal ART itu tahu kaki wanita berjilbab itu, membiru lagi karena terlalu banyak gerak.
"Pak, Ust Disa itu tidak salah. Memang dia harus hapal anggota keluarga ini? Tidak, kan? Kecuali kalau sudah jadi menantu disini, tidak kenal dengan adik ipar boleh disalahkan. Itu lho kakinya yang kemarin kesleo sampai biru bengkak lagi," ucap Mbok Yem dengan kesal.
Mamah Yuli mengernyitkan dahinya, "Kamu marahi Disa, Dan?"
Dani menggeleng, "Bukan marah sih, Mah. Kesel aja gitu. Dia bisa teledor seperti itu. Disa kan bukan sekali dua kali masuk rumah ini. Ada foto lho di depan, kenapa tidak tahu juga? Kan kebangetan!"
Mamah Yuli langsung memukul bahu Dani dengan keras. Menceritakan yang dialami Disa saat menolong Salwa.
"Jilbabnya sobek, kakinya sampai sakit buat jalan! Demi melindungi anak kamu! Ini malah kamu marahin! Minta maaf sana! Yang salah itu keponakannya si Kusnadi, bukan Disa! Kamu ini, main marahin anak orang saja! Kalau sudah jadi istri kamu terserah mau kamu marah sama dia seperti apa. Sana, bilang terima kasih. Awas saja kalau calon mantu Mamah ngambek, terus nggak mau kesini lagi, mau kamu nggak bisa ketemu dia? Bukannya selama ini yang suka curi kesempatan itu kamu, Dan?"
Dani tidak tahan dengan omelan mamahnya. Segera dia bangkit dan mencari keberadaan Disa. Ternyata dia sedang berada di teras sambil memegangi es batu. Hendak mengompres kakinya yang sakit.
"Ehem ..., lagi apa?" tanya Dani.
__ADS_1
"Ha? Oh, ini untuk kaki saya," jawab Disa singkat.
Dani mengambil es batu dari tangan Disa. Menyuruh Disa untuk menurunkan celana gamisnya agar kulit mereka tidak bersentuhan. Wanita itu hanya menuruti keinginan si duda. Tidak membantah sepatah kata pun.
Dani mengompres kaki Disa. Desiran lembut kembali menyapa mereka. Gejolak di dalam dada ingin menyeruak ke permukaan. Saling mencuri pandang satu sama lain.
"Saya minta maaf karena menyalahkan kamu. Tidak seharusnya saya begitu. Terima kasih sudah menyelamatkan Salwa. Sampai menyebabkan kaki kamu semakin sakit. Saya dimaafkan, kan?" tanya Dani langsung mendongak.
Netra kedua insan itu kembali bersitatap. Ketidaksengajaan yang selalu memberikan kejutan di hati mereka. Ada gebyar yang meriah sedang terjadi di benak masing-masing.
Dani menundukkan kepalanya. Menyembunyikan senyum yang sedang merekah. Lelaki itu ingin bertanya sesuatu tentang orang yang bernama Aji pada Disa. Namun saat ini sepertinya kurang tepat.
"Pak, apakah Anda akan memecat Pak Kus?" tanya Disa.
Dani mengangguk, "Ya, saya terlalu kecewa dengan kinerjanya. Padahal, beliau sudah ikut kami selama hampir delapan tahun."
"Boleh saya usul sesuatu, Pak?"
"Apa?"
Dani berpikir sejenak. "Baiklah, nanti saya pikirkan."
Aidha mengagetkan dua anak manusia itu. Dia mencari Disa, dan mengatakan bahwa badannya agak demam. Dengan dibantu si sulung, wanita itu berjalan ke dalam rumah. Meninggalkan Dani sendirian.
"Cie ..., tadi ngapain berduaan sama Papah, Ust?" goda Aidha.
Pipi Disa langsung merona. Bisa sekali anak itu menggoda dirinya. "Hush! Punya pengukur suhu tidak? Kalau punya tolong ambilkan, Ust mau ngukur temperatur Salwa."
"Ada, bentar Aidha ambilkan." Aidha mengambil pengukur suhu di kotak obat.
Sementara itu Reza dan Sita menemui Dani. Lelaki itu mengatakan tidak bisa menggantikannya, karena besok orang tuanya akan berkunjung ke Demak. Si duda benar-benar lupa soal itu. Dia menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah, nanti aku bilang sama Pak Win biar dijemput supir. Atau nanti kalau kondisinya Salwa bisa ditinggal, aku balik deh!"
Aidha menghampiri papahnya kembali. Mengatakan bahwa suhu badan Salwa naik dan sekarang dia demam. Sita segera mengambilkan obat penurun panas dan kompres.
__ADS_1
Dani segera ke kamar. Melihat Salwa merengek pada Disa. Saat si bungsu melihat dia, anak kecil itu langsung memeluknya. Menangis tersedu karena masih merasa ketakutan.
Disa melihat air mata meleleh membasahi pipi Dani. Begitu sayang lelaki itu pada Salwa. Memang benar kata orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Bukan yang lain.
"Aidha, sana ikut di ranjang. Tante fotokan kalian, biar lengkap lagi keluarga kita." Sita mendorong Aidha agar mendekat ke ranjang.
Sita langsung mengambil gambar tanpa sepengetahuan orang-orang itu. Dia tersenyum bahagia melihat kakak dan keponakannya menjadi lengkap lagi. Ia bergumam sendiri.
"Mbak In, lihatlah bidadari surga yang kamu kirim untuk keluargamu. Dia bisa melengkapi kekurangan yang ada. Terima kasih telah mengirim dia untuk Mas Dani, Aidha, dan juga Salwa. Semoga suamimu berhasil mendapatkan restu dan cintanya. Aamiin."
Sita segera menghapus air matanya. Berjalan mendekat dan memberikan obat penurun panas. Ponsel Disa kembali berdering. Riski kembali menghubunginya. Dia membiarkan panggilan itu.
Disa meminumkan obat penurun panas. Menyuruh Salwa berbaring lagi. Mulai mengompres dahinya dengan kompres modern. Dia pamit ingin pulang, tapi Salwa tidak mau ditinggal.
"Jangan pulang, Ust. Salwa takut ...," rengek gadis itu.
"Ada Papah, Nak," ucap Dani menenangkan Salwa.
"Nggak mau! Salwa cuma mau ditemenin Ust Disa!" Salwa langsung menaikkan intonasi suaranya.
"Iya-iya-iya. Ust nemenin Salwa. Jangan marah ya, Sayang. Kepalanya pusing? Ust pijit ya, Sal?" tanya Disa.
Salwa mengangguk. Dia meletakkan kepalanya di pangkuan Disa. Dani pamit keluar, menyuruh Sita untuk memanggil Pak Kus. Dia harus segera menyelesaikan semua kekacauan itu.
***
Pak Kus pulang dan mencari keberadaan Ateng. Dia sudah ingin menghajar keponakan kurang ajar itu. Karena kelakuan kotornya, ia terancam kehilangan pekerjaan. Orang tua Ateng sampai bingung melihat Kusnadi begitu marah.
Bapak Ateng, yaitu Yadi, bertanya mengapa dia sangat marah. Kusnadi menjelaskan duduk permasalahnnya. Ibu Ateng tidak percaya jika anaknya seperti itu. Setahu orang tua pemuda itu, ia adalah anak yang baik.
"Baik apanya? Awalnya aku tidak percaya kalau anak kalian itu menjijikkan! Aku tepis berita yang santer terdengar di kampung! Percaya bahwa anak dari adikku tidak mungkin begitu! Setelah dia ikut aku dan coba menggoda anak majikanku, aku mulai curiga. Aku terancam dipecat!" Kusnadi marah meluapkan semua emosi yang dia tahan.
Ponsel Pak Kus bergetar. Melihat panggilan yang masuk. Ternyata dari Sita. Segera dia menjawab panggilan itu. Lalu bergegas pergi meninggalkan rumah Ateng.
"Kalau kalian coba melindungi dia, lihat saja akibatnya!" ancam Pak Kus.
__ADS_1