Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Baju Pengantin


__ADS_3

Mamah Yuli mulai menulis daftar tamu yang akan diundang di acara pernikahan Dani. Kebanyakan adalah saudara, itu karena yang punya gawe nantinya adalah Mak Nur, bukan dirinya. Mereka berkutat dengan kertas di depannya masing-masing.


Ponsel Dani berdering. Melihat siapa yang menelepon. Ternyata dari sang calon istri. Lelaki itu segera menjauh dari mamahnya kembali ke kamar.


"Assalamu'alaikum, Dik," kata Dani menyapa.


"Wa'alaikum salam, maaf ya tadi Adik agak repot. Mmm ..., Mas, masih ingat sama mas Aris?" tanya Disa.


"Yang orang tuanya merendahkan kamu, kan? Ingat lah! Mas itu ingat semua yang dekat sama kamu. Kenapa, Dik?"


"Tadi dia ke sekolah, ngajak ngobrol berdua sama Adik. Rifana sebagai saksinya, Mas. Mas Aris minta aku balik sama dia," tutur Disa jujur.


"Weh! Kurang sopan sekali mulut pria itu, nggak tahu apa kamu sudah akan menjadi miliknya, Mas?"


"Sudah, dia tahu. Tapi tetap saja seperti itu."


"Kamu masih simpan nomornya? Masih punya WA nya?"


"Tidak, Mas. Jangan khawatir."


Dani berdecak mendengar permintaan Disa agar dirinya tidak khawatir. Bagaimana mungkin? Terang-terangan lelaki bernama Aris itu meminta calon istrinya kembali padanya. Ia menarik napas agar bisa meredam rasa cemburunya.


Disa meminta maaf membuat Dani kesal. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak cerita pada calon suaminya.


"Mas nggak marah kok, Dik. Cuma kesal saja sama lelaki itu. Jaga diri baik-baik ya, Sayang? Kalau dia datang lagi, segera pergi menjauh. Maaf, Mas belum bisa menjaga kamu seutuhnya."


Disa dibuat melayang oleh ucapan Dani. Perhatian yang sangat tulus dan dalam begitu tercurah pada wanita itu. Untung saja itu panggilan suara, bagaimana jika panggilan video? Pasti wajahnya akan ketahuan karena merona malu.


Mereka sama-sama terdiam. Memutuskan untuk tidak lagi membahas si Aris. Fokus untuk rencana pernikahan. Dani mengakhiri panggilan suara itu. Ingin menghubungi Arsya terkait undangan.


Iparnya memiliki usaha percetakan, jadi kenapa tidak dimaksimalkan untuk membantu Dani? Arsya mengirimkan beberapa gambar untuk menjadi referensi kakak iparnya.


***


Tiga hari setelah munculnya Aris di sekolah, pria itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Disa bersyukur akan hal itu. Baginya, mungkin Aris sudah menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Dani menunggu Disa di depan gerbang. Menempelkan badan dan wajahnya pada jeruji besi itu. Sungguh seperti anak kecil yang sedang menantikan tukang bakso lewat depan rumah.


Saat Disa melintas melewati gerbang bersama Aidha dan Salwa, dia menahan tawanya karena melihat calon suaminya seperti anak hilang. Dani berbalik dan menatap wanita itu dengan wajah masam.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Disa dengan senyum mengembang sempurna.


"Wa'alaikum salam, lama banget sih, Dik ..., lumutan Mas nunggunya!" gerutu Dani sudah tidak sabar untuk pergi melihat baju pengantin.


Disa hanya tertawa lalu menuju mobil untuk mempersingkat waktu. Mereka berangkat menuju Gunung Pati, Semarang. Dua gadis itu terlalu asyik bercerita tentang ujian semester mereka.


"Kalian sudah makan?" tanya Dani.


"Sampun, Mas. Oh ya, itu butiknya tutup jam berapa?" tanya Disa mulai khawatir jika sampai sana tempat itu sudah tutup.


"Mas sudah buat janji, mereka biasanya tutup jam lima sore. Karena kita mau lihat mereka ikhlas tutup malam."


"Alhamdulillah ..., kayaknya pemiliknya baik banget ya, Mas. Barakallah kita dikelilingi orang-orang yang tulus." Disa membukakan botol minum dan menyodorkan pada Dani.


Lelaki itu tersenyum dan berterima kasih. Jalanan padat merayap. Banyak pegawai pabrik yang pulang, membuat lalu lintas tersendat. Hampir dua jam mereka berkutat dengan kemacetan, akhirnya sampai di butik itu.


Butik kecil di pinggir jalan, berhiaskan bunga hidup sebagai penambah keindahan. Sungguh asri suasana disana. Dani mendorong pintu ke arah dalam dan mengucapkan salam.


"Saya bukan asli sini, jadi nanti kita pakai bahasa indonesia saja. Mari saya tunjukkan koleksi baju pengantin adat melayu." Yusnia menunjukkan beberapa baju yang sudah terpasang di manequin.


Disa tersenyum sambil memandang Dani. Persis seperti yang mereka inginkan. Yusnia memilihkan satu gaun yang simpel dan cocok dengan kepribadian kliennya yang lembut.


"Coba dulu. Sepertinya cocok untukmu," ucap Yusnia mempersilahkan Disa untuk masuk ke kamar ganti.


Yusnia juga menyuruh Dani untuk mencoba baju pengantin lelaki di ruang lain. Sementara Aidha dan Salwa menunggu papah dan calon ummanya mencoba baju itu.


Yusnia menemani Disa dan menjelaskan detail tentang baju itu. Disa kurang begitu klik dengan model baju itu. Bagian pinggulnya pasti akan membentuk lekukan. Dia kurang nyaman memakainya.


Sang pemilik butik tersenyum, kliennya betul-betul memperhatikan detail baju itu. Lalu mencoba memilihkan gaun untuk Disa. Hanya itu model yang cocok, karena bagian bawah akan tampak melebar. Bagian dada dan lengan nantinya tertutup dengan jubah dan kerudung.


Yusnia menunjukkan model lain, Disa mencobanya. Wanita itu langsung tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di kaca. Sesuai keinginannya, syar'i dan sesuai syari'at.

__ADS_1


Dani yang telah selesai menanti Disa keluar dari kamar ganti. Berharap sesuai dengan yang diinginkan calon istrinya. Kamar ganti terbuka, Yusnia menyuruh wanita itu untuk keluar dan berdampingan dengan pasangannya.


Dani sampai tidak berkedip saat melihat Disa berjalan keluar. Pancaran kecantikan begitu sempurna terpancar dari diri wanita itu. Aidha dan Salwa sampai lompat kegirangan melihat calon umma mereka begitu anggun dan cantik.


"Kedip, Pah! Ingat, belum muhrim! Mau mata itu menjadi salah satu perbuatan dosa karena melihat umma begitu?" Aida memperingatkan papahnya.


Dani beristighfar dan meminta untuk diambilkan sesuatu guna menutup matanya. Yusnia tertawa melihat kehangatan keluarga itu. Mereka sangat serasi mengenakan pakaian itu.


Yusnia memastikan apakah mereka akan memilih baju itu atau tidak? Lalu menulis ukurannya. Baju itu bisa diambil seminggu sebelum acara akad.


Disa dan Dani sudah mantap memilih baju itu. Lalu mereka berdiskusi dengan Yusnia. Pemilik butik itu menawarkan jasa seorang MUA kenalannya. Memperlihatkan hasil make up tangan sang perias.


"Kalau belum dapat, nanti biar sekalian. Jadi sewa baju dan make up. Harganya lebih hemat lho, Mbak, Mas." Yusnia merinci harga yang harus dibayar jika satu paket dengan MUA.


"Gimana, Mas?" tanya Disa.


"Terserah kamu, Dik. Kalau memang kamu cocok, ambil saja." Dani tersenyum melihat Disa.


"Tidak usah terlalu memikirkan biaya. InsyaAllah, sudah ada jatahnya masing-masing. Allah akan memudahkan orang yang berniat melakukan ibadah-Nya," imbuh Dani mengerti sorot kekhawatiran dari mata Disa.


Disa mengambil napas dan menghembuskannya sekali, "Bismillahirrahmanirrahim, kami ambil satu paket, Bu."


"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak. InsyaAllah, hasilnya tidak akan mengecewakan, kok." Yusnia tersenyum bahagia bisa membantu temannya.


"Aamiin, saya ingin yang tidak terlalu tebal ya, Bu." Disa menerangkan keinginannya.


Yusnia mengangguk, "Nanti kita jadwalkan untuk bertemu teman saya. Dia masih muda, tapi hasilnya selalu luar biasa."


Disa dan Dani memilih dua baju untuk acara mereka. Warna putih untuk akad nikah dan warna gold untuk resepsi.


Gambaran baju pengantin Dani dan Disa



__ADS_1




__ADS_2