
Reza tersenyum melihat Sita datang membeli makan. Bukan sebuah kesengajaan mereka bertemu. Sepertinya Allah sedang membantunya untuk mengurai masalah cinta yang terpendam. Agar tumbuh menghasilkan bunga cinta yang harum semerbak.
Sita masih terdiam mematung. Sulit sekali menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam dari Reza. Dia memejamkan mata dan mengambil napas dalam. Barulah ia bisa membalas sapaan lelaki yang pernah membuat hatinya bergetar.
"Wa'alaikum salam," jawab Sita datar.
Reza berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk Sita. "Duduk, Ta. Capek berdiri terus. Antriannya masih panjang."
Sita mengangguk, "Makasih."
"Sama-sama," jawab Reza singkat.
Kebisuan kembali menjadi latar utama diantara mereka. Mau memulai dari mana? Itulah yang ada di benak masing-masing. Reza melihat kursi di sebelah Sita baru saja kosong.
Tidak ingin membuang kesempatan, Reza langsung duduk. Jantung mereka seperti sedang lomba lari di lapangan. Sita mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan bermain ponsel. Tapi dengan cepat tangan Reza mengambilnya.
"Kita mau sampai kapan seperti ini, Ta?" tanya Reza yang sudah mulai berani mengungkapkan isi hatinya.
"Aku nggak mudeng sama ucapanmu, Mas. Tolong kembalikan hape aku," pinta Sita dengan tangan menengadah.
Reza melihat mata Sita sekilas. Dan wanita itu langsung menundukkan pandangannya. Dengan berat hati Reza memberikan ponselnya.
"Boleh Mas Za minta nomor kamu?" tanya Reza pura-pura.
"Buat apa?" tanya Sita.
"Mas Za ingin kita bersahabat lagi seperti dulu," jawab Reza menoleh dan tetap menatap wajah wanita yang meneduhkan jiwanya itu.
"Bersahabat lagi? Denganku? Lebih baik jangan. Aku dengar dari mas Dani kamu sudah akan melamar calonmu. Aku hanya tidak ingin menjadi perusak hubungan orang," ungkap Sita atas alasan yang menurutnya kuat.
Reza agak sangsi dengan ucapan Sita. Calon? Jangankan calon istri, dekat dengan wanita saja tidak! Ini pasti akal-akalan Dani. Sebenarnya sahabatnya itu mau menjebaknya atau membantunya?
Pedagang nasi goreng menanyakan pesanan Reza. Membuat obrolan mereka terhenti sebentar. Ia memesan dua porsi nasi goreng super pedas. Membuat Sita berpikir bahwa yang satu pasti untuk calonnya. Tapi saat Reza mengatakan dimakan di tempat, membuat Sita ragu atas pemikirannya. Lalu yang satu untuk siapa?
__ADS_1
Pesanan Reza sudah jadi. Dia memberikan satu piring untuk Sita.
"Kok piringnya dikasihkan ke aku?" tanya Sita bingung.
Reza tidak menjawabnya. Dia mulai menyuapkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya. Sita ragu akan memakannya atau membiarkan makanan itu.
"Alhamdulillah. Terima kasih," jawab Sita sesuai adab dalam islam.
Reza tersenyum sambil mengunyah. Dia menang kali ini. Karena dia sangat tahu bahwa Sita tidak akan berani menolak pemberian orang. Dalam adab agama islam jika seseorang diberikan rezeki hendaknya dia mengucapkan syukur. Sita mulai memakan nasi goreng super pedas itu.
Memori yang dulu pernah terjadi berputar seenaknya. Menggambarkan kisah lampau diantara keduanya. Tawa lepas yang selalu mendominasi keadaan, melintas di depan mereka. Tanpa sadar satu porsi nasi goreng sudah masuk sempurna ke mulut mereka.
Kini giliran Sita yang ditanya tentang pesanannya. Reza membayar semua pesanan Sita dan dirinya.
"Mas ..., nggak perlu dibayari. Aku masih bisa untuk membayar sendiri." Sita kesal dengan sikap Reza yang seenaknya main bayar.
"Aku juga pengen mentraktir keluarga kamu, masa kamu doang yang ku traktir. Aku mau ke alfa, kamu mau titip sesuatu?" tanya Reza.
"Nggak, makasih! Besok lagi aku nggak mau pesan makanan bareng kamu lagi!"
Pesanan Sita sudah jadi semua. Dia langsung menuju jalan pulang dan berpapasan lagi dengan Reza. Sepertinya pria itu sengaja untuk mengikuti langkah Sita.
"Bentar lagi lulus ya, Ta?" tanya Reza.
"Iya," jawab Sita singkat.
"Rencana kamu setelah lulus apa, Ta?"
"Belum tahu."
"Kok belum tahu? Sita yang Mas Za kenal orangnya tuh selalu planning lho."
"Ya berarti aku bukan Sita yang kamu kenal. Udah ya Mas, stop untuk mencoba bersahabat lagi denganku! Hargai keputusanku!"
__ADS_1
Reza menghentikan langkahnya. Membuatnya tertinggal di belakang Sita. Tidak mudah menaklukan hati wanita itu sekarang. Tapi ia harus mencobanya. Dia sudah cukup tersiksa dengan kepergian Sita waktu lalu.
"Maaf kalau Mas Za membuat kamu tidak nyaman. Aku cuma hanya ingin kita seperti dulu. Yang Mas Dani katakan tidak ada benarnya. Atau mungkin itu untuk membuatmu cemburu. Jika kamu menolak untuk bersahabat lagi, maka yang aku tawarkan bukan itu."
Sita berhenti untuk mendengarkan ucapan Reza. Mas Dani bohong? Duda anak dua itu memang perlu dipukul agar sadar. Seenaknya dia menjebak perasaan Sita dalam suasana tidak menentu.
"Kepergianmu membuat Mas Za sadar, Ta. Bahwa, sosok penting dalam hidup kita bukanlah yang dapat kita rasakan keberadaannya. Melainkan orang yang bisa kita rasakan kepergiannya. Dan kamu ..., adalah sosok penting itu. Jika kamu memilih kita menjadi asing, itu tidak menjadi masalah. Biar aku bernaung pada kata ikhlas."
Reza kembali melanjutkan langkahnya. Berhenti tepat di hadapan Sita. Memberikan coklat kesukaan Sita yang masih mematung. Lalu mengucapkan salma.
"Assalamu'alaikum. Pulangnya hati-hati, Ta."
Reza melanjutkan langkah kakinya. Mempercepat agar segera sampai rumah. Tidak menoleh ke belakang sama sekali. Jujur, dia terluka mendapat perlakuan dari Sita. Tapi kembali lagi, itu adalah kesalahannya di masa lalu. Jadi sekarang, dia siap menerima hukumannya.
"Wa'alaikum salam," jawab Sita dengan lemas.
Dia berjalan dengan gontai menuju rumah. Berhenti sejenak melihat rumah Reza. Lalu menghela napas berat. Sesampainya di rumah dia langsung menyerahkan makanan pada mbok Yem. Dia masuk ke kamarnya dan merenung.
Mengingat lagi perlakuannya terhadap Reza. Menurutnya itu kasar. Apakah dia keterlaluan? Lalu apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia membuka luka lama itu lagi? Siapkah dia untuk merasakan getir perih?
Dani masuk ke kamarnya dan duduk di samping adiknya. Kini mereka merasa senasib. Sedang tersiksa oleh perasaan. Itulah yang membuat mereka bisa berbagi cerita.
"Salah nggak sih Ta, kalau Mas mendo'akan agar Disa menolak lelaki tadi?" tanya Dani jujur.
Sita mendongak, "Mas Dani beneran berdo'a begitu? Nggak baik tahu, Mas!"
"He-he-he. Apa memang bukan Disa ya Ta orang yang Mas Dani tunggu?"
"Mana Sita tahu! Udah sih, kalau memang jodoh pasti ada jalannya! Mas, kamu bohong soal calon mas Za, ya?"
Dani mengangguk, ingin sekali Sita melempar sandal ke wajah kakaknya.
"Dia menawarkan persahabatan lagi. Menurutmu gimana, Mas?" tanya Sita.
__ADS_1
"Terima. Kamu pernah mikir nggak kenapa Disa menolak Reza? Itu karena Disa tahu perasaanmu, Ta. Dan hal itu membuat Reza sadar, cinta sejatinya bukanlah Disa."