
Dani menyesali pertanyaan bodoh itu. Padahal jari, hati, dan otak sudah dia kondisikan agar tidak membahas perjodohan Disa. Eh, mulut lupa dikunci agar tidak bicara sembarangan. Bagaimana jika jawaban Disa adalah senang? Apakah jiwanya tidak porak poranda? Dasar Dani ababil!
Disa hanya tersenyum. Tidak memberikan jawaban apapun tentang pertanyaan itu. Dia fokus pada kondisi Salwa. Menyuruhnya untuk membaca istighfar agar hati anak itu tenang.
"Salwa nggak perlu takut, Nak. Ada Allah yang selalu menjaga kamu. Sebut nama-Nya, maka pertolongan akan selalu datang." Disa menyemangati Salwa untuk perlahan bangkit dari keterpurukan.
"Iya, Ust. Makasih ya, Ust. Salwa sayang ..., sama Ust Disa." Salwa mengucapkannya dengan sedikit tersenyum. Dia meminta turun dari pangkuan Dani. Mengajak Aidha bermain sebentar.
Disa pamit pada Dani. Mengakhiri sambungan video call itu. Namun, si duda masih belum ingin mengakhiri panggilan itu. Selalu ada rindu yang menelusup di relung hati mereka.
"Saingan saya berat, ya?" tanya Dani.
"Ha? Maksudnya?" Disa berbalik tanya karena tidak paham ucapan Dani.
"Yang melamar kamu, seorang ustaz. Anak dari kyai. Kalau dibandingkan dengan saya, diri ini tidak ada apa-apanya, Sa." Dani mengungkapkan yang sedari tadi mengganggu hati dan pikirannya. Hingga membuat sang duda gundah gulana.
"Memang apa yang membuat dia dan Anda berbeda, Pak?" tanya Disa.
"Ilmu agama dia lebih tinggi dibanding saya. Hampir sebanding dengan kamu. Saya malah malu menyatakan perasaan ini padamu," terang Dani.
Disa tersenyum dan menjelaskan bagaimana kedudukan manusia dihadapan Allah SWT. "Kedudukan kita sama dihadapan Allah, hanya iman dan taqwa sebagai pembedanya. Belum tentu seorang ustaz takaran keimanan dan ketaqwaannya itu tinggi. Hanya sang pencipta yang bisa mengetahui hal itu. Jadikan itu pemicu semangat, Pak. Agar kita lebih baik dari orang lain."
"MasyaAllah ..., sejuk sekali siraman qolbu hari ini. Jadi, kamu senang atau tidak mendapat lamaran dari ustaz Aji?" tanya Dani lagi.
Disa menghela napas. Mulai tidak nyaman dengan pembicaraan itu.
"Simpulkan saja sendiri, Pak," ucap Disa dengan wajah kesal dan bibir manyun.
Bagaimana duda itu bisa menyimpulkan jika respon Disa hanya sebuah senyuman? Apakah dia senang, makanya memberinya senyum?
__ADS_1
"Kasih petunjuk, biar saya simpulkan sendiri," ucap Dani sudah mulai putus asa.
"Alhamdulillah, saya memintanya untuk menunggu dua minggu. Saya harus berkomunikasi dengan Allah SWT, yang sesungguhnya pemilik diri ini."
Kepala sang duda langsung nyeri mendengarnya. Dua minggu waktu yang cukup renggang bagi Aji mendapatkan hati Disa. Kenapa tidak langsung ditolak? Bagaimana jika nanti wanita itu berubah? Tidak mau menunggunya, dan malah menerima pinangan dari Aji?
Disa berterus terang tidak ingin membahas masalah lamaran dari Aji. Dani meminta maaf karena terlalu lancang bicara dan menggoda Disa seperti itu. Namun, dia sungguh ingin mengetahui jawaban dari wanita itu. Berharap bukan rasa senang yang menghampiri hati perempuan bergelar ustazah itu.
"Maaf ya, Sa. Baiklah, akan saya simpulkan sendiri. Boleh saya minta tolong sama kamu?" tanyanya lagi.
"Apa?"
"Tolong ubah panggilan kamu ke saya. Jangan bapak, dong! Terdengar tua sekali. Mas atau apa terserah."
Disa hanya terdiam tidak menjawab. Baiklah, Dani harus tahu diri. Wanita ini adalah seseorang yang berkelas. Tidak akan semudah itu untuk mengiyakan suatu pernyataan. Dia harus sabar lagi dalam hal ini.
Duda beranak dua itu meminta Disa membantunya untuk melapor ke polisi. Mungkin nanti Rida yang akan menjemputnya, mengingat ada lelaki lain yang sedang menunggu jawaban khitbah. Dani mengakhiri panggilan video itu dengan mengucap salam.
Sabtu yang cerah mengawali hari dengan sumringah. Salwa tidak masuk sekolah karena semalam demam naik turun. Mamah Yuli, Dani, dan Sita takut kalau rasa trauma merajai diri anak itu. Rida yang baru saja mendapatkan kontak seorang psikiater anak langsung memberikannya pada sang kakak.
Dinta, tertera nama psikiater itu disana. Khusus menangani masalah psikologi anak. Pukul sembilan, Dani mengantarkan Salwa bertemu dengan ahli kejiwaan itu. Berharap agar anaknya bisa kembali ceria.
Dinta mewawancarai sebentar orang tua Salwa. Meminta cerita lengkap yang dialami oleh gadis kecil itu, agar bisa menentukan langkah terapi yang harus digunakan. Dia juga bertanya siapa saja orang terdekatnya, karena si bungsu benar-benar rapuh untuk saat ini.
"Paling dekat untuk saat ini ustazah dan kakaknya. Tapi mereka sedang mengajar dan sekolah. Dulu memang dekat dengan saya, Bu." Dani memaparkan yang ditanyakan pada Dinta.
"Baiklah, saya nanti akan coba tanya. Mungkin pertemuan pertama hanya perkenalan, dan jika dia bisa langsung cerita, saya akan menguliknya. Bapak hanya perlu menemani tanpa menjawab apapun yang nanti saya tanyakan. Paham ya, Pak?" tanya Dinta.
Dani mengangguk paham. Salwa yang sedari tadi dijaga oleh Mamah Yuli di mobil, langsung dibawa masuk oleh Dani. Dinta tersenyum dan menyapa Salwa dengan ceria. Dia duduk berdampingan dengan anak itu, dan memegang tangannya.
__ADS_1
Saat disentuh oleh Dinta, respon Salwa sangat kasar. Anak itu langsung menepis tangan sang psikiater. Membuat Dani paham apa yang dirasakan anaknya saat ini.
Dinta mencoba lagi meraih tangan Salwa. Bukan langsung menyentuhnya, tapi mengajaknya berkenalan.
"Aku Mbak Dinta, nama kamu siapa?" tanya Dinta dengan menyodorkan tangan.
Salwa ragu untuk menyambut tangan itu. Dinta mengulum senyum saat melihat respon tubuh itu. Akhirnya si bungsu memberanikan diri bersalaman dengan Dinta.
Dinta menceritakan tentang kisah keluarga dan peliharaannya. Hal ini dilakukan agar menarik perhatian Salwa, supaya gadis cilik itu dapat memberikan umpan balik yang dibutuhkan sang psikiater, yaitu keterbukaan. Sangat sulit jika ada klien yang tertutup.
Sungguh, feedback yang diberikan oleh Salwa membuat Dinta senang. Anak itu langsung membalas ceritanya. Menceritakan keseharian dan kedekatannya dengan Disa dan Aidha. Dani hanya tersenyum ketika melihat anaknya ceria.
Dinta belum masuk ke permasalahan Salwa. Harus perlahan mendekati seorang yang trauma. Belum tentu keterbukaan yang saat ini ditunjukkan anak bungsu itu, akan terbuka selamanya. Terkadang, dia akan langsung menutup tanpa mau bercerita.
"Sal, kamu suka susah tidur nggak?" tanya Dinta layaknya seorang teman.
Salwa mengangguk, "Iya, Salwa takut kalau memejamkan mata. Ngeri kalau dikejar lagi."
Dani mendapatkan jawaban atas demam yang dialami Salwa. Ternyata memang benar, ketakukan merajai anaknya. Saat dokter memeriksa tubuh si bungsu, dia mengatakan bahwa anak itu baik-baik saja.
"Dengerin Mbak Dinta, Salwa harus jadi anak yang pemberani, ya? Bukan hanya untuk melindungi mbak Aidha, tapi juga diri kamu sendiri, Nak. Eh, mau belajar latihan beladiri, nggak? Aku punya adik yang hobinya suka taekwondo." Dinta mencoba memberikan kegiatan baru bagi Salwa.
Salwa menatap Dinta dengan ragu. Wanita itu tidak memaksanya. Hanya menawarkan saja. Setelah sesi konsultasi itu selesai, anak itu langsung dibawa Dani ke dalam mobil.
Dinta menjelaskan kondisi yang dialami Salwa. Dia termasuk ke dalam kategori trauma berat. Namun untungnya, sisi keberanian anak itu menyelamatkan agar tidak terpuruk di lubang hitam. Beruntungnya lagi, si bungsu dikelilingi oleh orang yang peduli dengannya.
Dinta memberikan obat penenang sesuai dosis. Menjadwalkan lagi kunjungan konsultasi. Berharap yang mendampingi Salwa adalah ustazah dan kakaknya. Dani mengucapkan terima kasih, dan pamit.
Setelah mengantar mamahnya dan Salwa, Dani menyuruh Rida menjemput Disa. Mereka akan bertemu di kantor polisi. Sang duda yang sudah sampai terlebih dahulu, langsung membuat laporan. Namun, ada yang mengejutkan.
__ADS_1
"Laporan ini sudah masuk tadi jam delapan, Pak. Nama pelakunya Ateng, bukan?" tanya polisi itu.
"Lhah, benar. Siapa yang membuat laporan, Pak?" tanya Dani.