
Dani segera tersadar dan menjauhkan dirinya. Mereka berdua sama-sama memalingkan wajah. Malu dengan ketidaksengajaan yang baru saja terjadi. Mobil kembali melaju ke jalan, membuat suasana canggung terjadi lagi. Disa berhasil menemukan tombol pengatur posisi lalu mengubahnya.
"Mas," panggil Disa.
"Dalem, Dik ...," jawab Dani dengan mesra.
Disa terkikik mendengar jawaban Dani. Sungguh menggelikan hal itu, tapi syarat akan rasa sayang.
"Nyetir sendiri nggak papa?" tanya Disa lagi.
"Nggak papa, sudah biasa. Tapi ..., kalau mau nemenin ngobrol sih lebih seneng ..., tapi kalau ngantuk tidur saja."
Pak duda sedang terkena sindrom plin-plan. Sedari tadi berubah terus jawabannya. Sedetik begini, sebentar begitu. Bukannya tadi yang menyuruh Disa istirahat dia sendiri?
Akhirnya Disa memilih untuk menemani Dani menyetir. Suasana lebih mencair daripada sebelumnya. Jika dulu selalu mencari kesempatan untuk bertemu, kini hal itu tidak diperlukan lagi.
Disa ingin lebih tahu tentang diri Dani. Menyuruh lelaki itu menceritakan tentang dirinya. Mendengarkan perjalanan hidup mulai masa muda, susah, senang, dan kejadian pahit. Pria itu juga menjelaskan kesukaannya dan hal yang membuatnya marah.
Disa mengingat hal penting itu. Menjadikannya pegangan supaya nanti bisa mengambil sikap saat kejadian.
"Temani Mas dan anak-anak dalam hidup ini ya, Dik?" pinta Dani.
"InsyaAllah ...," jawab Disa singkat dan tersenyum.
"Alhamdulillah ..., berarti besok lamaran aku bakalan diterima. Ha-ha-ha," ujar Dani sudah sangat yakin.
"Emang Adik udah bilang, nggih Mas saya terima lamaranmu. Kayaknya belum deh," pungkas Disa.
"Barusan ini, ha-ha-ha. Jangan ditolak, dong! Nggak kasihan lihat dua gadis di belakang itu?"
Disa menoleh ke belakang dan tersenyum. Melihat dua wajah polos itu tertidur dengan pulas. Ponsel Disa berbunyi, ternyata dari Riski. Menanyakan posisinya saat ini.
__ADS_1
Disa mengatakan keberadaannya. Menyuruh adiknya memberitahukan pada emak. Mak Nur berpesan agar mereka hati-hati di jalan.
Disa menyuruh Dani terus bercerita hingga matanya sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuk. Perlahan netra itu terkatup sempurna. Dani menoleh dan tersenyum, wanita itu sudah tertidur.
"Terima kasih sudah menyatakan perasaanmu. Sehingga aku tahu bahwa genderang cinta yang ditabuh akan segera berlabuh. Semoga tidak ada aral melintang lagi, Dik. Aku sudah tidak sanggup melihatmu dipersunting oleh yang lain. Sangat menyesakkan, aku tidak mau berjanji banyak. Hanya bukti ketulusan yang akan aku persembahkan nantinya. InsyaAllah bahtera bahagia akan menjadi rumahmu, Disa Nur Izza." Dani mengatakan hal itu sambil menyetir.
Mobil langsung mengambil jalur menuju Bonang. Mengantarkan sang penyejuk hati pulang ke rumahnya. Setelah sampai depan rumah, Dani membangunkan Disa. Wanita itu mengucek matanya. Mengucap hamdalah karena sudah sampai rumah.
"Anak-anak biar ikut aku pulang, menginapnya lain kali saja, Dik." Dani tidak enak jika harus merepotkan Mak Nur.
Disa setuju akan hal itu. Lagipula, dua anak gadis itu sudah terlelap sedari tadi. Kasihan jika dibangunkan kembali. Dani turun dan membukakan pintu untuk wanita itu.
Sungguh tersanjung Disa akan perlakuan manis Dani. Mengantarkannya hingga di depan pintu. Menyalami emaknya dan melaporkan kejadian di Semarang.
"InsyaAllah ba'da magrib saya dan keluarga datang kesini, Mak," terang Dani.
Mak Nur mengangguk. Pintu rumahnya akan terbuka bagi Dani dan keluarga. Menyuruh Disa mengambil sesuatu di dapur. Lalu menyerahkannya pada Dani. Lelaki itu terheran, apa yang ada di dalam wadah plastik itu?
"Itu rendang paru. Semoga kamu suka, Nak. Dan lagi ..., Mak minta maaf telah salah menilaimu. Emak termakan omongan Ambar," tutur Mak Nur.
Disa menyuruhnya untuk segera pulang karena malam semakin larut. Mengedipkan mata pada emak agar tidak bercerita pada Dani. Ia hanya tidak ingin ucapan Mak Nur malah menjadi bahan fitnah bagi seseorang.
Dani pamit pulang bersama anak-anaknya. Disa dan Mak Nur melihat mobil itu sampai menghilang, lalu masuk rumah.
Disa segera membersihkan dirinya lalu beranjak ke ranjang. Membuka ponsel kembali karena ada chat baru masuk. Dia tersenyum ketika melihat Dani berswafoto dan memberikan laporan. Segera dia menghapus foto itu, karena dalam islam menyimpan foto yang belum sah menjadi muhrim adalah perbuatan dosa. Ditakutkan nanti bisa mengundang syahwat.
Disa membalas pesan itu agar segera istirahat. Dani tidak mau, dia akan menuruti keinginan perempuan itu jika diucapkan kata pengantar tidur. Disa menghubunginya lewat panggilan suara.
"Jangan lupa sunnah sebelum tidur, Mas. Berwudhu, lalu naik ke ranjang. Baca ayat kursi, Al-ikhlas tiga kali, Al-falaq, dan An-nas."
"Nggih sampun, Sayang." Dani berhasil memporakporandakan perasaan Disa dengan panggilan yang sangat mesra itu.
__ADS_1
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Merem!" Disa menajamkan ucapannya.
Dani malah tertawa. Suara Disa tidak pantas untuk marah. Malah terdengar menggemaskan baginya. Ingin menggigit pipi wanita itu karena lucu jika ada di sampingnya.
Dani ingin mengetahui cerita tentang Ambar. Kenapa bisa emak kenal dengan wanita itu? Disa enggan bercerita, takut jika nanti yang dikatakannya ada yang tidak benar dan malah menjadi fitnah.
Dani tetap memaksanya bercerita. Bukan cerita lengkap, hanya sebatas yang Disa tahu saja. Itu sudah cukup untuknya.
"Ibunya mbak Ambar sering pesan sayur ke emak, mungkin mereka sering ketemu di rumahnya. Kata emak, dia selalu menjelekkan kamu, Mas." Disa tidak tahu detailnya seperti apa. Dia hanya mampu menceritakan sampai situ saja.
"Oh gitu, makanya emak sampai begitu. Hmm ..., Ambar memang perlu diberikan pencerahan, nih!" kata Dani sambil berbalik miring ke kanan.
"Nggak usah, Mas. Biarkan saja, yang penting emak sudah tahu kenyataannya. Jangan ya, Mas?"
Dani tersenyum dan mengangguk, "Tenang saja, Mas nggak akan marahi dia. Cuma mau meluruskan sesuatu saja kok, Dik. Panggilnya pakai sayang, dong!"
Disa menganga mendengar permintaan lelaki itu. Menurutnya bukan sekarang saatnya, nanti saat mereka sudah sah pasti akan ada panggilan itu. Dani sadar permintaannya terlalu sulit. Segera dia meralat ucapannya.
"Nanti kalau kita sudah halal, panggil Mas pakai kata itu. Kalau sekarang, biar aku saja yang latihan. Biar tambah luwes gitu nantinya, he-he-he ...," ujar Dani sambil menyeringai.
"Dik, besok pulang jam berapa?" tanya Dani lagi.
"Jam dua, aku mau lihat cek status PPG ku, lolos atau tidak, kenapa?"
"Besok Mas kirim makan siang buat kamu. Mau makan apa?"
"Apa ya? Asem-asem daging kayaknya seger, Mas."
"Oke, siap! Besok Mas antar ke sekolah. Tolong antar Salwa pulang, aku ada rapat."
"Nggih, sendiko dawuh, Pak." Disa sengaja memanggil Dani dengan sebutan itu lagi. Membuat pria itu langsung uring-uringan.
__ADS_1
Disa hanya tersenyum. Matanya sudah benar-benar perih dan ingin terpejam. Dani masih asik bercerita, hingga wanita itu terpejam. Lelaki itu sengaja tidak mematikan ponselnya. Hatinya selalu rindu jika tidak mendengar suara merdu itu.
Dani mengucapkan selamat malam pada Disa. Memejamkan mata sembari menarik selimut. Ponsel masih sama-sama aktif, membiarkan sang pemilik tidur dengan tenang.