Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Pernikahan Reza dan Sita


__ADS_3

Dani memerintahkan Rida untuk terus mencari kebenaran cerita Isna dan Reza. Untuk apa? Bukannya mereka sudah kembali berbaikan? Sang kakak memiliki pandangan lain, dia hanya tidak ingin nantinya masalah itu menjadi batu sandungan dalam rumah tangga adiknya.


Mamah Yuli tersenyum haru mendengar penjelasan Dani. Anak sulungnya benar-benar menjadi pengganti ayah bagi keluarga itu. Selalu berusaha menghadirkan kebahagiaan, dan melindungi setiap yang menjadi tanggung jawabnya. Rela untuk tidak membeli apa yang menjadi keinginannya demi membantu ibunya mencukupi kebutuhan.


"Kenapa lihat Dani begitu sih, Mah?" tanya Dani heran.


"Ha? Nggak papa, Mamah bersyukur memiliki anak seperti kalian. Selalu saling tolong menolong saat saudaranya kesusahan. Terima kasih sudah menjadi sosok ayah untuk keluarga ini, Dan." Mamah Yuli tersenyum dan menggenggam tangan anaknya.


Baju pengantin yang kemarin menjadi masalah Sita sudah ada titik terangnya. Hari H-6 penjahit baju itu datang ke rumah Sita untuk mengantarkan pesanannya. Senang sekali hati calon mempelai wanita itu. Dia langsung mencobanya.


Sangat berterima kasih pada penjahit itu dan meminta maaf karena telah su'udzon. Satu masalah telah terlewati. Tinggal menunggu hari pernikahan itu tiba. Berharap akan lancar dan aman.


Rida dan Reza datang membawa berita bahagia. Temannya berhasil mendapatkan data tentang mantan pacar Isna. Semua tentang kisah cinta wanita yang hampir saja merusak acara pernikahan Sita dan Reza.


"Saya Anto, mantan pacar Isna. Saya kenal mas Reza, dia adalah pria yang sangat Isna inginkan. Ini jaket yang saya minta untuk menolong Isna waktu itu. Dia mabuk dan terus menggumamkan nama calon suamimu, Mbak." Orang yang bernama Anto menjelaskan kejadian waktu lalu.


Sita mengucap syukur atas kebenaran yang diucapkan Anto. Lepas sudah kecurigaan yang membelenggu.


"Alhamdulillah ...," ucap semua yang mendengar kesaksian itu.


***


Hari yang telah mereka nantikan akhirnya tiba. Semua orang bahagia menyambutnya. Kelakar tawa, senyuman manis, dan panjatan do'a selalu mengiringi. Sita dan Reza akan dipersatukan oleh janji suci. Sebuah upacara sakral bernama pernikahan akan mengikat mereka.


Reza terlihat sangat tampan memakai baju adat berwarna putih. Blangkon, keris beronce kembang melati, dan kain jarik menjadi ciri khas dalam baju itu. Begitupun dengan sang wali, sangat memesona dalam balutan beskap berwarna hijau.


Disa sampai memuji terus menerus ketampanan suaminya. Sebaliknya, Dani juga memuji keanggunan istrinya dalam balutan kebaya syar'i pilihannya. Salwa dan Aidha ikut menjadi pengiring sepasang pengantin itu.


"Sita cantik ya, Mas." Disa bergelayut manja saat melihat adik iparnya sedang sesi pemotretan.


"Cantikan kamu kemana-mana dong, Sayang ...," balas Dani sembari mendaratkan kecupan mesra di bibir Disa.


"Ih ..., kok main cium?" Disa memukul lengan suaminya karena terkejut.

__ADS_1


"Memang harus butuh izin dulu?"


"Nggak sih ...," jawab Disa sembari menyeringai.


Salah seorang petugas datang menghampiri suami istri itu. Menyuruh Dani agar segera duduk di panggung pelaminan untuk acara akad. Setelah semua siap, penghulu mempersilahkan Dnai dan Reza berjabat tangan. Pengantin dan wali sudah sangat pro, membuat penghulu usil pada mereka.


"Kamu sudah kenal lama dengan wali calon istrimu?" tanya sang penghulu.


"Nggih sampun to, Bapak." Reza membalasnya dengan bahasa halus. (Ya sudah to, Bapak.)


"Owh ..., nama lengkapnya dia siapa?"


"Muhammad Ardani," jawab Reza lugas.


"Lho ..., manggil calon kakak ipar kok nggak sopan! Piye iki? Kamu kalau manggil dia apa? Dan, Dani? Begitu? Wah ..., kalau aku ya sudah marah itu." Penghulu membenarkan pengucapan Reza.


"Piye li-wali? Kamu marah tidak?" tanya penghulu pada Dani.


"Lho lah ..., kok tidak marah? Mbok marah? Nggak marah?" tanya penghulu lagi dengan wajah polos mirip seperti anak kecil.


Dani tidak tahan melihat hal itu langsung tertawa. "Ya sudah, ayo salaman. Sudah siap?"


Reza dan Dani mengangguk. Mereka kembali berjabat tangan.


"Bismillahirrahmanirrahim ..., Reza Wisnu, hari ini saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya yang bernama Sita Zakiyyatul Mawachidah binti almarhum Rahmadi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas sebesar sepuluh gram dibayar tunai!"


Reza menarik napas, "Saya terima nikah dan kawinnya Sita Zakiyyatul Mawachidah binti almarhum Rahmadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Semua langsung teriak kata sah. Dani dan Reza masih berjabat tangan dan sekarang malah adu panco. Reza berhasil menjatuhkan tangan Dani ke meja. Membuat penghulu senang melihatnya.


Akad berjalan tanpa hambatan. Sita telah sah menjadi istri dari Reza. Setelah penandatanganan buku nikah dan sesi foto, mereka berganti baju untuk acara resepsi. Semua bridesmaid dan groomsmen sudah siap dan sedang di breefing oleh panitia.


Mereka mengenakan baju dari negeri bollywood. Bukan hanya sang pengantin yang berganti kostum, tapi semua keluarga mereka juga. Senada dengan konsep yang dipilih oleh Sita dan Reza.

__ADS_1


"MasyaAllah ..., suami aku ..., mirip Shah Rukh Khan!" puji Disa melihat ketampanan suaminya berlipat ganda.


"Aca-aca nehi-nehi, istri ana makin cantik!" balas Dani dengan pantun.


Aidha dan Salwa tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya. Ada saja cara mereka memuji satu sama lain. Jarang sekali bertengkar dan marah, membuat dua gadis itu merasakan kembali kehangatan dan kebahagiaan menjadi keluarga utuh.


Makanan yang dipilih juga ada beberapa khas India. Misal roti canai dengan kuah gulai, nasi biryani, dan samosa, digabungkan dengan makanan khas Indonesia seperti soto kudus, garang asem, es dawet, dan jenang. Entah kenapa Disa sangat ingin mencoba semua makanan yang ada.


Satu persatu dia rasakan cita rasa yang enak. Bumbu dari makanan India sangat kaya akan rempah, cocok dengan lidahnya. Membuat dia semakin lahap dan ingin tambah lagi. Dani mengingatkannya agar tidak kekenyangan.


"Adik masih lapar, Sayang ..., gimana?" tanya Disa meminta izin suaminya ingin makan lagi.


"Iya, Mas ambilkan. Mau makan apa, Dik?" tanya Dani.


"Nasi biryani sama es dawet ya, Sayang." Disa mengerjapkan mata dan tersenyum. Membuat Dani semakin gemas terhadap istrinya.


Salwa dan Aidha ikut menjadi bridesmaid untuk tantenya. Disa menikmati acara itu dengan suka cita. Membiarkan anak-anaknya juga merasakan kebahagiaan Sita.


Dani kembali dengan dua porsi nasi biryani dan kembali untuk mengambil es dawet. Disa tertawa kecil melihat hal itu.


"Kok dua?" tanya Disa.


"Mas lihat kamu makan kok malah jadi lapar. Memang seenak itu sampai nambah dua kali?" tanya Dani.


"Biarkan rasa yang berbicara, Sayang. Mari makan ...," ucap Disa langsung melahap dengan semangat nasi itu.


Isna datang sebagai tamu undangan. Dani yang melihat sosoknya langsung menghadang di tengah jalan. Menyuruhnya untuk pergi dan tidak lagi mengganggu adik dan iparnya. Dua orang panitia datang dan mengusirnya juga dari acara itu.


"Mbak ini tidak ada di dalam daftar tamu undangan kok main masuk saja!" ucap salah seorang panitia.


Isna bersikeras ingin memberikan selamat untuk Reza. Dani juga tetap pada pendiriannya. Tidak percaya dengan alasan wanita itu.


Dani menyerahkan Isna pada panitia. Berlari mengejar Disa yang seperti menahan untuk muntah.

__ADS_1


__ADS_2