
Salah satu kendaraan yang membawa rombongan keluarga inti Dani mengalami mogok mesin. Rombongan keluarga dan mobil yang lain mencoba membantu menepikan armada yang mogok terlebih dahulu.
Dani sudah mulai panik, pasalnya perjalanan masih jauh. Kembali ke rumah Rida juga tidak memungkinkan karena mereka sudah berada di titik tengah antara Demak dan Bonang.
Semua langsung buyar, mengingat waktu mereka sudah sangat sempit. Reza mencoba menghentikan mobil, tapi banyak yang tidak mau berhenti. Sang duda menghubungi bengkel langganannya terlebih dahulu. Sayangnya sudah tutup.
Jalan satu-satunya adalah memanggil mobil derek untuk membawa mobil itu pulang. Seserahan yang ada disana diturunkan. Reza masih berusaha meminta bantuan pengendara lain, tapi tetap saja semua melaju tanpa peduli pada mereka. Sang duda sudah sangat geram, akhirnya dia berjalan ke tengah jalan dan menghentikan mobil pick up pembawa sayuran. Meminta tolong pada mereka agar diberikan tumpangan sampai tujuan. Ada-ada saja musibah yang dialami Dani.
Alhamdulillah mobil pick up itu berhenti dan memberikan tumpangan. Meski dengan iming-iming bayaran sebagai ganti bensin. Semua rombongan satu mobil yang mogok pindah ke atas armada baru mereka. Tidak lama, mobil derek tiba. Arsya menyerahkan Andra pada Rida dan menyuruhnya bertukar posisi dengan salah satu kerabat agar tidak berada di mobil bak terbuka. Dia akan mengawal mobil derek itu ke rumahnya sekaligus mengambil kendaraan lain.
"Apa ini pertanda kalau Dani bakalan ditolak ya, Mah?" tanya Dani sedih.
Mamah Yuli, Aidha, dan Salwa langsung memukuli sang duda. Bukannya memperbanyak do'a, malah bicara sembarangan. Tiga orang itu mengingatkan Dani bahwa ucapan adalah do'a. Jangan sampai menjadi boomerang untuk diri kita sendiri.
Sedangkan di rumah Bonang, emak dan keluarga Disa menunggu kedatangan keluarga Dani. Mereka sudah gusar karena rombongan itu tidak kunjung tiba. Mas Wakhid dan para saudara Disa yang lain siap menyambut mereka. Dekorasi yang dibuat bernuansa soft. Sangat cocok untuk kepribadian dua insan itu, sama-sama lembut.
"Coba dihubungi Sa, Dani sampai mana? Sudah lewat empat puluh lima menit kok belum sampai juga," tanya Mas Wakhid.
Disa mengangguk. Bukan menghubungi Dani tapi malah Aidha.
"Mas, mobil mas Dani mogok tadi, sekarang lagi perjalanan kesini dengan meminta bantuan pengendara lain. Mohon tunggu sebentar ya?"
Mas Wakhid dan yang lain mengangguk. Tidak lama kemudian, ada dua buah mobil berhenti. Reza membayar tumpangan mobil pick up tadi. Lalu mereka disambut dengan hangat oleh keluarga Disa.
Semua rombongan dipersilahkan duduk. Makanan dan minuman yang telah dibuat, disajikan pada para tamu. Pak Tris selaku wakil besan mengutarakan maksud kedatangannya. Berniat untuk meminang gadis yang bernama Disa Nur Izzah untuk menantunya yang sudah duda.
"Meskipun duda, tapi jangan diragukan. Sparepatnya masih bagus semua, kelihatannya." Pak Tris mengibaratkan Dani bagai sebuah kendaraan.
Semuanya tertawa karena ucapan itu. Disa dipanggil untuk menemui seluruh tamu dari keluarga Mamah Yuli. Berjalan merangkak ditemani oleh Rifana dan menyalami semua orang tua yang hadir. Aidha dan Salwa langsung memeluk dan menggelendot manja pada Disa.
__ADS_1
Dani dipersilahkan bicara dan mengungkapkan maksud kedatangannya membawa orang banyak.
"Bismillahirrahmanirrahim ..., Assalamu'alaikum, Dik Disa dan keluarga." Dani mulai mengungkapkan tujuannya datang ke Bonang.
Semua tamu menjawab salam itu. Dani mengatur napas lagi dan mulai bicara.
"Dik, malam ini saya datang bersama mamah dan keluarga besar kami ke rumahmu. Saya ingin menepati janji yang pernah terucap, bahwa akan melamarmu untuk diriku sendiri. Tahukah kamu, Dik? Angka dua merupakan angka yang sangat berperan dalam hubungan kita." Dani tersenyum melihat Disa yang tampak anggun dan tenang melihatnya berbicara.
"Kita bertemu karena kerudungmu yang hilang, dan harga kerudung itu berakhiran dengan angka dua. Lalu kamu bertemu dengan Aidha dan Salwa. Kedua malaikat manis yang dititipkan oleh almarhumah istri saya itu, membantu jalan takdir kita agar bisa menyatu. Ini adalah pinangan kedua bagi saya dan kamu. Tapi, meskipun begitu, insyaAllah saya tidak akan menomorduakanmu. Hanya menjadikan kamu nomor satu di hati, menjadi ratu untuk keluarga kita nantinya." Dani sudah berkaca-kaca saat mengatakannya.
"Dik ..., niatan Mas serius dengan kamu. Saya ingin menjadi teman hidup dan matimu. Saya tidak berani janji apapun, insyaAllah saya akan mengarahkanmu menuju surga. Disa ..., maukah kamu menjadi istriku? Menjadi ibu sambung bagi Aidha dan Salwa? Menjadi ratu seutuhnya dalam kerajaan hatiku?"
Semuanya terharu atas permintaan Dani. Disa mengambil mic yang diberikan Riski. Dia tersenyum dan mengangguk.
"InsyaAllah saya mau, Mas. Terima kasih sudah menepati janji yang pernah terucap. Saya juga tidak sebaik wanita lain. Masih jauh dari kata soleha dan sempurna. Jadi, tolong bimbing saya dan keluarga kita nantinya menuju surga-Nya. Ingatkan saya yang masih banyak keliru perihal kehidupan. Saya tidak merasa dinomorduakan oleh kamu, Mas. Sebaliknya, saya selalu diutamakan oleh Aidha dan Salwa. Selalu diperhatikan oleh mereka. Saya ..., jatuh hati pada ketulusan dua anakmu. Saya terima lamaranmu, Mas. Mohon segera halalkan saya untukmu," tutur Disa dengan suara gemetar.
Mamah Yuli, Bu Ana, Aidha, dan Salwa maju ke depan. Dua gadis cilik itu masih saja berebut ingin memakaikan cincin di jari manis Disa. Hingga akhirnya cincin mungil itu dipegang oleh dua tangan.
Disa tersenyum bahagia dan memeluk dua malaikat kecil itu. Berterima kasih karena mau menyayanginya seperti ibu mereka sendiri. Lalu menyalami Mamah Yuli dan Bu Ana. Dua wanita paruh baya itu menangis haru. Rida menangkap setiap moment dengan sangat apik.
Dani maju ke depan, tampak senyuman bahagia berselimut mega malu. Mak Nur memakaikan cincin di jari Dani. Lalu dia menyalami emak dengan takdzim.
"Emak terima kamu sebagai calon menantuku, Nak. Emak ridho atas jalan takdir Allah," ucap emak menepuk pundak Dani.
Dani dan Disa berfoto bersama. Aidha dan Salwa menjadi penengah diantara keduanya. Pak Tris dan Mas Wakhid berembug untuk menentukan tanggal pernikahan.
Mas Wakhid akan memberikan tanggal setelah berkonsultasi dengan tokoh agama dan tokoh adat. Karena tidak dapat dipungkiri, tradisi seperti ini memang masih sangat kental dan menjadi pathokan.
Pinangan kedua telah terlaksana. Hati dua insan yang saling mencinta sedikit lega. Saatnya makam bersama, Disa menyodokan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pada Dani. Lelaki itu tersenyum dan menerimanya.
__ADS_1
"Makasih, Sayang. Duduk sini, temani Mas makan. Gimana tadi status PPG nya? Oh ya, kamu ingin konsep nikahnya seperti apa?" tanya Dani.
Disa sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu. Dia menjawab tentang PPG itu. Lalu menyuruh Aidha yang sudah selesai makan untuk mengambilkan ponselnya di kamar. Menunjukkan pada Dani konsep yang dia inginkan.
Sederhana adalah kata yang dapat Dani tangkap dari foto di layar pipih itu. Syar'i adalah gambaran pakaian yang diingikan Disa. Kekeluargaan yang hangat akan menambah kesan manis dalam konsep pernikahan mereka.
Baju yang dipakai model dalam ponsel itu adalah baju adat pernikahan melayu. Simpel, sederhana, tapi mampu menunjukkan keindahan yang tersembunyi. Kesan syari'at melekat pada baju itu.
"Yakin mau yang begini?" tanya Dani.
"Yakin, Mas. Adik nggak mau yang ribet. Simpel aja, kaya perasaanmu padaku, tidak berbelit." Disa mulai bisa berimprovisasi sekarang.
Dani tertawa mendengar ucapan Disa. "Ya sudah, besok kita mulai cari baju itu. Kalau pas Mas nggak bisa nemenin kamu, ajak Rida dan anak-anak."
"Iya," jawab Disa singkat.
"Besok sabtu bisa izin nggak? Sita wisuda, Mas mau ajak kamu dan anak-anak. Kita prewed sekalian disana," ajak Dani.
"Nggak bisa, Mas. Prewed? Buat apa? Nggak usah," tolak Disa.
"Buat kenang-kenangan dong, kenapa nggak mau?"
"Adik ..., nggak terbiasa foto begitu. Pasti nanti canggung dan kaku. Hasilnya malah jelek. Mending nggak usah, Mas ...,"
Aidha dan Salwa langsung unjuk diri. "Tenang aja Umma, nanti Aidha arahin gayanya!"
"Iya, Salwa nanti bantu juga! Nggak usah jauh-jauh deh, Pah. Di hutan mangroove kawasan Wedung aja!" Salwa dan Aidha memberikannya pencerahan.
Disa melihat mata dua gadis itu. Berbinar memohon dan tidak ingin penolakan. Dia mengalah, tidak tega jika mereka berdua sampai kecewa. Ia mau foto prewed bersama Dani.
__ADS_1