Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Wong Sepele


__ADS_3

Disa sudah berdandan rapi. Dia mengenakan pakaian sederhana yang tetap menutup aurat. Tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Jilbab yang menjuntai hingga menutupi dada membuatnya karismatik. Polesan make up pada wajah hanyalah bedak tabur dan lipbalm.


Dia tidak mengindahkan pesan dari Aris yang menyuruhnya untuk berdandan cantik dan mengenakan pakaian bagus. Yang diminta adalah penilaian secara relatif. Menurut Disa apa yang ia kenakan sudah bagus untuknya. Kini Disa menunggu Aris menjemputnya.


Mas Wakhid diminta oleh mak Nur menemani Disa. Karena bagaimanapun juga, Disa dan Aris bukan muhrim. Mereka juga belum ada ikatan halal, jadi harus ada anggota keluarga Disa yang ikut mendampingi. Terserah orang mau bilang bahwa Disa anak manja, itu semua untuk menjaga marwahnya sebagai wanita muslimah.


"Sa, kamu ketemu Dani pertama kali dimana?" tanya mas Wakhid lirih. Takut jika terdengar sampai ke telinga emak yang baru berjalan beberapa langkah dari rumah.


Disa tertegun mendapatkan pertanyaan itu. Apakah kakak pertamanya itu tahu jika ada yang berbeda dari Dani? Entahlah, dia saja masih belum yakin.


"Pak Dani kerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Waktu itu Disa sedang ngurus persyaratan ikut PPG, Mas. Memang kenapa?"


Mas Wakhid menggeleng, "Nggak papa, sosok pria yang mengayomi keluarga kayaknya. Cuma sepertinya Aidha mencari kambing hitam atas kematian ibunya. Makanya dia menjadi anak yang keras kepala. Kamu setuju dengan pemikiran Mas, Sa?"


Disa mengangguk. Memang benar yang dikatakan mas Wakhid. Dia memang melihat Dani adalah sosok lelaki penuh tanggung jawab. Tetap sabar meski sikap Aidha keterlaluan.


"Harusnya mencari lelaki yang seperti itu, Sa." Mas Wakhid menatap netra adiknya.


"Memangnya mas Aris tidak seperti itu?" tanya Disa balik.


Mas Wakhid tersenyum kecut. Dia juga lelaki. Bisa membedakan mana yang tatapan tulus mendamba dan hanya kagum sekejap mata. Mana yang penasaran dan mana yang tulus mencinta.


"Kita lihat yang terjadi setelah ini. Mas nggak mau memberikan spekulasi apapun sebelum kamu tahu sendiri. Dan Mas tidak akan menyalahkan kamu nantinya. Tapi, jawab jujur pertanyaan ini, apakah hatimu merasakan getaran seperti tersengat listrik saat dekat dengan Aris?"


Disa terdiam. Inilah yang dia cari selama ini. Saat dia dekat dengan Aris aliran itu tidak terasa dalam hatinya. Berbeda saat berhadapan dengan Dani. Meskipun mereka hanya beberapa kali bertemu, namun getaran aneh itu selalu muncul. Entah dari mana asalnya, tapi mampu membuat Disa sesak napas dan asam lambungnya bergejolak lincah.


Ada sebuah mobil berwarna silver mengklakson. Membuat mereka segera mengakhiri percakapan itu. Aris sudah tiba untuk menjemput Disa. Mas Wakhid dan Disa langsung beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Mas pamit dulu sama emak," pinta Aris.


"Emak pengajian ibu-ibu, Mas. Langsung berangkat saja." Disa menutup pintu dan menguncinya.


Aris melihat penampilan Disa yang terkesan biasa saja. Padahal dia sudah memintanya untuk berdandan dan mengenakan pakaian yang bagus. Dia menghela napas sedikit kesal karena ucapannya tidak dituruti oleh Disa.


Setelah mereka masuk di dalam mobil, Aris mulai berkomentar. Mobil melaju perlahan karena berada di perkampungan. Mas Wakhid duduk di depan mendampingi Aris yang sedang menyetir.


"Dik, kok nggak dandan sih? Tadi kan Mas minta untuk berdandan?" tanya Aris.


Mas Wakhid berpura-pura tidak mendengarkan pertanyaan itu. Tapi batinnya menghitung angka satu untuk kesalahan Aris. Apakah dia benar-benar tidak tahu aturan dalam islam tentang berdandan? Benar-benar pertanyaan yang tidak perlu dijawab.


"Maaf, Mas. Disa tidak bisa berdandan lebih dari ini," jawab Disa sopan.


"Ya sudah, nanti belajar perlahan."


"Besok kita jalan-jalan, beli baju yang bagus. Baju yang kamu pakai biasa saja. Malahan tidak bermerek. Nanti Mas kenalkan dengan merek yang bagus untukmu, Dik!"


"Tidak usah, Mas. Disa lebih nyaman memakai baju yang biasa saja. Daripada memakai baju dengan harga mahal dan merek yang terkenal." Disa mengatakan penolakan halus.


"Jangan ditolak, Dik! Wajib diterima!"


Dua permintaan Aris yang membuat mas Wakhid semakin geli mendengar dan melihat tingkahnya. Pantas saja ada rasa tidak suka dalam dirinya ketika Disa didekati oleh pria itu. Satu yang dapat mas Wakhid simpulkan, bahwa Aris seorang yang otoriter.


Mereka telah sampai di rumah Aris. Mas Wakhid dan Disa terkejut melihat rumah yang mewah di hadapan mereka. Sangat megah dengan pencahayaan maksimal. Membuat Disa menjadi panas dingin untuk masuk ke dalam.


Aris mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di sofa empuk berwarna hitam. Seorang wanita seumuran dengan emak keluar. Mas Wakhid dan Disa melihat penampilannya. Beberapa gelang emas melingkar di pergelangan tangan. Tidak ketinggalan cincin dan kalung.

__ADS_1


Disusul di belakangnya, ada seorang bapak-bapak yang juga memakai kalung di lehernya. Membuat Disa mengernyitkan dahi. Hukum seorang pria memakai perhiasan adalah haram. Mas Wakhid memberi isyarat pada Disa untuk tetap tenang. Disa dan mas Wakhid menyalami kedua orang tua Aris.


"Ini perempuan yang kamu taksir?" tanya Bu Rukanah atau biasa disapa mak Nah.


"Cantik to, Mah?" tanya Aris dengan senyum penuh kebanggaan.


"Halah, biasa wae ngene kok! Nek dibandingke Ririn yo cah iki kalah! Ririn iso macak lan modis kok! Lha iki? Delok to, Ris!" jawab mak Nah. (Halah, biasa saja gini kok! Kalau dibandingkan Ririn ya anak ini kalah! Ririn bisa bersolek dan modis kok! Lha ini? Lihat to, Ris!)


Mas Wakhid meremas celananya sendiri. Sakit hati dengan ucapan orang tua Aris yang merendahkan Disa. Tapi dia menahannya, tidak ingin membuat sang adik merasa malu.


"Kerjane opo, Mbak?" Pak Subkhan kini bertanya pada Disa. (Kerjanya apa, Mbak?)


"Guru, Pak," jawab Disa jujur.


"Trimane guru. Ora iso gawe soyo sugih. Wes to, Nang, karo Ririn wae. Anake sing duwe toko mas. Iso gawe awakmu soyo sugih," jelas pak Subkhan. (Hanya guru. Tidak bisa membuat makin kaya. Sudah to, Nak, sama Ririn aja. Anaknya yang punya toko mas. Bisa membuat dirimu semakin kaya.)


Mas Wakhid sudah tidak bisa menerima lagi ucapan pak Subkhan. Disa hanya bisa tertunduk ingin menangis. Mulutnya terasa terkunci untuk menjawab ucapan menyakitkan itu.


"Nuwun sewu, Bu, Pak. Adike kulo panci biasa mawon, mboten tiyang sugih. Namung wong sepele. Tapi kedah panjenengan ngertos, sing ngoyak-ngoyak adike kulo niku si Aris. Kulo nggih mboten setuju adike kulo gadhah bojo lan morotuo sing isine mung bahas bab kadonyan!" Mas Wakhid beranjak dari kursi dengan emosi. (Maaf, Bu, Pak. Adik saya memang biasa saja, bukan orang kaya. Hanya orang sepele. Tapi perlu Anda tahu, yang mengejar-ngejar adik saya itu si Aris. Saya juga tidak setuju adik saya punya suami dan mertua yang isinya hanya membahas bab duniawi!)


Aris mencoba membujuk mas Wakhid dan Disa untuk tenang. Sayang sekali usaha itu sia-sia. Dengan amarah yang masih menggebu, mas Wakhid menarik tangan Disa keluar dari rumah itu. Aris mengejar mereka, berniat mengantarkan pulang. Tapi ditolak oleh mas Wakhid.


Mereka berjalan menyusuri jalanan kota itu. Disa sangat hapal jalan itu karena setiap hari ia lewati. Mereka menepi sejenak di masjid karena mendengar adzan isya'. Disa bingung bagaimana cara mereka untuk pulang, karena angkutan hanya ada di siang hari.


Sebelum iqomah, dia mengirim pesan pada seseorang.


Me : Bisa tolong jemput aku di masjid Baitul Muttaqin nggak?

__ADS_1


__ADS_2