
"Ih, barengan! Jodoh, ya?" ledek Reza pada keduanya.
"Aamiin," jawab Dani mengaminkan ucapan Reza.
Disa langsung terdiam ketika kata itu terucap dari mulut Dani. Tidak tahu harus merespon seperti apa. Takut salah ucap jika menyangkal, hingga menyebabkan hati Dani terluka. Entah berkata apa hatinya saat ini, tapi wajah wanita ini bersemu.
Dani tahu jika candaan itu sudah lewat batas, tapi dia tidak ingin memungkiri kata hati. Saat ini dia ingin sekali mendengar jawaban Disa. Mungkinkah wanita itu hanya akan diam saja? Hingga menit ketiga tidak ada suara yang ia tunggu.
Kecewa menyalami hati Dani. Dia segera beristighfar tanpa bersuara. Diamnya Disa menyadarkan lelaki itu bahwa tidak seharusnya mengumbar rasa cinta yang ada. Cukup langitkan do'a, karena yang mutlak memiliki kita hanya Allah.
Suasana menjadi agak canggung. Harus ada salah seorang dari mereka yang mengambil keputusan. Dani merasa dirinya harus segera kembali ke kantor. Hingga membuat Reza harus mengakhiri makan siang itu dengan terburu-buru.
Saat di parkiran, ada seorang wanita yang menyapa Dani. Membuat Disa dan Sita penasaran akan sosok itu. Mereka melihat Dani dan Reza mengobrol sebentar sebelum akhirnya pamit. Saat wanita itu mendekat ke warung bakso, Disa dan Sita mengenalinya.
"Mbak Ambar?" tanya keduanya kompak.
"Kamu kenal, Ta?" tanya Disa.
Sita menganggukkan kepala, "Dia itu wanita yang coba mamah jodohkan sama mas Dani."
Disa terkejut saat mendengar ucapan Sita. Ada rasa yang sulit dia terjemahkan mulai menjalari hati. Seperti rasa sedih dan kecewa mencoba akrab dengannya. Ia langsung menepis perasaan itu.
"Oh ..., dia ..., anak dari salah seorang guru senior di sekolah kami, tapi sekarang ibunya sudah pensiun," tutur Disa.
Ambar yang melihat Disa dan Sita langsung berjalan mendekat. Ramah pada Sita, tapi tidak terhadap Disa. Membuat Sita bertanya dalam batinnya, ada apa diantara mereka?
Sita pamit pada Ambar karena mereka berdua sudah selesai makan. Sita menaiki motor matic, dan Disa membonceng di belakang. Sita sangat penasaran dengan cerita Disa yang bisa mengenal Ambar. Lalu Disa pun menceritakannya.
***
__ADS_1
Aidha dan Salwa sudah sampai di surat baru, yaitu An-naziat. Disa mengajarkan gerakan tangan pada kedua anak didiknya. Salwa agak kesulitan mengikuti ayat yang diperdengarkan oleh Disa. Membuatnya kesal dan ingin menangis.
Aidha mencoba membesarkan hati adiknya. Berkata bahwa nanti dia akan muroja'ah bersama. Disa tersenyum melihat perubahan sikap anak sulung itu. Lebih hangat dan peduli terhadap keluarga.
"Nanti kita ulang lagi, Sal. Malu dong sama u-ust, cuma gitu doang kok nangis!" kata Aidha mencoba menghibur adiknya.
"Benar ya, Mbak? Jangan ingkar janji, lho!" jawab Salwa memaksa.
"Iya."
Disa memeluk kedua anak itu. "Jangan khawatir cantiknya U-ust, mungkin karena ayatnya agak panjang dibanding kemarin. Ya sudah hari ini kita lima ayat dulu. Muroja'ah surat An-naba dulu yuk!"
Setelah selesai mengaji, mereka bertiga langsung turun ke dapur. Sita yang sedang mengeluarkan kue dari oven menyuruh untuk mencoba masakan itu. Uap panas masih mengebul di sekitar kue itu. Sedangkan Aidha dan Salwa pamit ke ruang tamu.
Disa mengambil sedikit, menunggu hingga uap panas itu menghilang. Wangi kue itu menggelitik hidungnya. Dia membaca basmalah terlebih dahulu. Lalu memakannya.
"Hmm ..., enak, Ta. Ini pakai resep yang aku tulis?" tanya Disa.
"Aamiin ..., aku ikut senang, Ta. Semoga sampai terjadi akad ya, Ta."
"Kamu sendiri gimana, Mbak? Aku nggak nyangka lho, keluarga mas Aris begitu." Sita ingin mendengar cerita tentang Disa.
Disa menceritakan kejadian kemarin. Hal yang membuatnya kesal karena hanya dipandang sebelah mata oleh keluarga Aris. Tapi ia bersyukur, berkat hinaan yang dialami menjadikan pelajaran bagi Disa. Dia merasa terselamatkan dari keluarga yang memandang duniawi.
"Aku lebih memilih mundur, karena restu orang tua dari lelaki akan sangat sulit didapatkan. Aku tidak mau berjuang untuk hal yang sudah pasti akan membuatku kalah dalam pertarungan ini. Mungkin standar orang tua mas Aris adalah wanita yang cerdas dalam berbagai hal. Dan ..., aku menyadari itu bukan aku."
Sita tidak habis pikir dengan keluarga Aris. Bagaimana mungkin bidadari tak bersayap seperti Disa disia-siakan hanya karena materi? Ada untungnya juga kejadian yang dialami Disa. Membuat kakaknya memiliki kesempatan untuk meminang Disa.
Dia mencoba mencari tahu perasaan Disa terhadap Dani. Ia memiliki ide bagus. Bagaimana jika Sita yang menjadi jalan untuk kedua insan itu bersatu? Patut dicoba.
__ADS_1
"Mbak, mau aku kenalkan dengan seorang lelaki tidak?" tanya Sita.
Disa mengernyitkan dahi, lelaki? Siapa? Apakah dia mengenal orang yang dimaksud oleh Sita? Kini dadanya berdebar lebih kencang. Napasnya tercekat.
"Si-siapa?" tanya Disa penasaran.
Belum sampai Sita menjawab pertanyaan itu. Suara lelaki mengejutkan keduanya. Dani baru saja pulang dari kantor dan ingin mengambil minum di dapur. Segera dia berdahem ketika Sita akan menjawab siapa lelaki yang hendak dikenalkan pada Disa.
Sebenarnya Dani mendengar saat Sita akan mengajukan dirinya. Tunggu! Memang lelaki yang dimaksud dia? Tapi ia meyakini seratus persen bahwa dirinya yang dimaksud oleh Sita. Ah, kepedean sekali duda ini.
"Ta, tolong buatkan Mas kopi hitam. Takarannya tahu, kan?" tanya Dani sambil berlalu.
"Antarkan ke ruang kerja!" imbuh Dani berteriak dari tangga.
Disa hanya diam tidak berkutik. Perasaannya agak kecewa saat tidak disapa oleh Dani. Ada apa dengan dia? Kenapa harus kecewa? Sita membuyarkan lamunannya.
"Mbak, takaran kopi berapa sendok?" tanya Sita dengan wajah polos.
Disa tertawa mendengar pertanyaan Sita. "Belajar buat kopi, Ta. Mas mu sukanya pahit atau manis?"
"Gak tahu, he-he-he," jawab Sita menyeringai lebar.
Akhirnya dia beranjak, menyalakan kompor dan menyiapkan gelas. Mencari kopi dan gula lalu mulai meracik. Air sudah mendidih, Disa langsung menuangkan ke dalam gelas yang sudah berisi kopi dan gula. Mengaduknya sebentar dan memberikan pada Sita.
"Halo? Ya Mas Za? Apa? Kenapa?" Sita menjauh dari dapur dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Membuat Disa menunjuk gelas itu lagi. Lalu siapa yang akan memberikan pada Dani? Begitulah batinnya berbicara. Tidak mungkin jika dia sendiri yang mengantarkan kopi itu. Ia mencari keberadaan Aidha dan Salwa di ruang tamu. Tapi tidak ada orang disana.
Mbok Yem juga sedang ikut pak Kus ke pasar untuk membeli kebutuhan bahan memasak yang sudah mulai habis. Disa memikirkan lagi nasib kopi itu. Bisa dingin sebelum diminum. Dengan mengucap basmalah dan menarik napas dalam, ia memberanikan diri mengantarkan kopi pada Dani.
__ADS_1
Disa mengetuk pintu dengan lembut. Terdengar suara Dani menyuruh masuk. Dia membuka knop pintu, tangannya kini gemetar. Ia meletakkan gelas itu tepat di depan pria yang sedang fokus pada laptop.
"Makasih, cantik!" kata Dani sembari mendongak.