Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Survey Pondok


__ADS_3

Dani dan Disa membereskan barang mereka sebelum checkout dari hotel. Tujuan pertama sudah terlaksana. Kini, pasangan suami istri itu akan melakukan survey ke pondok pesantren. Salah satu pilihan orang tua itu jatuh di pondok X.


Salah satu pondok pesantren putri yang sedang naik daun. Banyak yang merekomendasikan tempat itu. Disa ingin tahu seperti apa cara belajar mengajarnya.


Dani mengemudikan mobil ke arah lokasi tersebut berada. Setelah sampai disana, mereka dipersilahkan ke kantor untuk bertemu dengan petugas. Pasangan suami istri itu diajak berkeliling melihat suasana di dalam pondok. Disa tidak sengaja bertemu dengan temannya.


"Ulfa? Assalamu'alaikum ..., masih ingat aku?" tanya Disa.


"Wa'alaikum salam, Disa? Barakallah ..., apa kabar kamu?" tanya Ulfa.


"Alhamdulillah baik, kamu mengajar disini?" tanya Disa lagi.


Ulfa mengangguk. Disa memperkenalkan Dani sebagai suaminya. Mengatakan tujuannya datang kesana. Ingin memasukkan salah satu anaknya ke pondok, dan sedang melakukan survey.


"Bukannya kamu kemarin baru nikah? Aku dikirimi foto dari mbak Sofa." Ulfa bingung saat Disa mengatakan salah satu anaknya.


"Suamiku duda punya anak dua, Fa," jelas Disa.


"Oalah, ya sudah ayo saya temani keliling." Ulfa menceritakan semua hal positif yang ada di pondok.


Mata Disa menangkap sesuatu yang sangat tidak lazim. Ada beberapa orang pengajar sedang memarahi anak didiknya. Membuat dia mengernyitkan dahi. Ia menoleh dan menanyakan pada Ulfa.


"Kamu ..., juga galak seperti mereka, Fa?" tanya Disa keheranan.


Ulfa hanya mampu menyeringai. Dia malu pada Disa karena sedari tadi mengunggulkan tempatnya mencari nafkah, tapi tidak sesuai dengan ucapannya. Padahal ia bilang bahwa ustazah disana baik semua.


Disa memberikan isyarat pada Dani agar segera mengakhiri survey. Dia sudah tidak cocok jika ada pengajar yang marah terhadap anak didiknya seperti itu. Para santri datang dan bermukin disana, jauh dari orang tua, dengan tujuan untuk menimba ilmu.


Seharusnya mereka dilimpahi kasih sayang yang tidak terhingga. Bagaimana jadinya jika para santri itu tertekan sehingga membuat hafalan mereka susah masuk? Apakah mereka tidak merasa rugi jika ada santri yang gagal? Apa tidak merasa terbebani?


Disa dan Dani pamit. Mereka kembali menuju arah lain. Masih ingin melakukan survey. Dani bertanya kenapa istrinya terburu-buru.


"Adik nggak suka kalau ada pengajar yang marah-marah sama santri. Mereka datang kesana bukan untuk minta dimarahi, tapi belajar menghafal Al-qur'an." Disa mengungkapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Ya mungkin mereka melakukan kesalahan," pungkas Dani.


"Apakah harus dengan cara membentak dan memarahi lalu mereka bisa belajar atas kesalahan?"


Dani langsung bungkam. Pertanyaan Disa membuatnya tidak berkutik. Dia teringat akan salah seorang temannya yang juga PNS. Memiliki anak perempuan seusia Aidha. Sering mendapatkan bentakan, amarah, bahkan pukulan dari orang tuanya membuat anak itu menjadi berani melawan.


Benar juga kata Disa. Tidak semua perkara yang salah harus dibenarkan dengan kemarahan, bentakan, ataupun pukulan. Hal itu malah bisa membuat trauma berkepanjangan di benak anak dan suatu saat pasti akan ada perlawanan.


"Mas jadi agak merasa bersalah sama Aidha dan Salwa. Pernah beberapa kali mereka melakukan kesalahan dan Mas bentak, Dik." Dani menyesal atas sikapnya.


"Minta maaf ke mereka, jangan lakukan hal yang sama lagi, Mas. Tidak semua kesalahan itu harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Mental mereka bisa cidera nantinya. Perlakukan dengan lembut, tunjukkan contoh nyatanya, mereka akan belajar dari situ." Disa mengusap lengan suaminya dan melempar senyum.


Mereka telah sampai di pondok pesantren yang kedua. Dani bertanya, apakah dulu waktu Disa di pondok tidak pernah mendapatkan kemarahan? Istrinya bilang tidak.


"Masa sih, Dik?" tanya Dani.


"Iya, Sayang. Bu nyai itu orangnya sangat baik. Marahnya ya dengan cara diam, menyendiri, lalu memanggil santrinya lagi untuk diberikan contoh nyata atas kesalahannya. Misal kami agak malas untuk menunaikan salat, langsung beliau itu mencari ayat, menggambarkannya, dan menjelaskan pada kami."


Mereka bertemu dengan pengurus pondok. Dipersilahkan masuk, duduk, dan diberikan informasi mengenai pondok itu. Diajak berkeliling untuk melihat aktivitas para santri.


Adik asuhnya itu sudah berulang kali melakukan kesalahan yang sama, yaitu meletakkan piring kotor di sembarang tempat. Sehingga, bagi yang tidak melihat akan tersandung kakinya. Sang kakak asuh mengingatkannya agar meletakkan piring kotor itu di ember khusus.


"Tuh, Mas. Contoh nyata seperti itu." Disa lebih senang di pondok yang kedua daripada yang pertama tadi.


"Pak, apa semua kakak asuh disini tidak boleh memarahi adiknya?" tanya Dani.


"Tidak boleh, Pak. Kyai menerapkan aturan barang siapa yang marah, maka dia yang akan mendapat hukumannya." Pengurus pondok itu menjelaskan alasan pada Dani.


Disa meminta brosur dan rincian biaya jika ingin mondok disana. Lalu mereka kembali ke kantor dan diberikan semua informasi yang dibutuhkan. Dani pamit undur diri, dan jika nanti anaknya setuju untuk mondok, dia akan kembali kesana.


Mereka kembali ke Demak, tidak lupa membawakan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Aidha dan Salwa menunggu hingga orang tuanya datang. Padahal mereka sangat mengantuk.


"Malam ini kami tidur sama kalian ya, Pah, Ma?" tanya Aidha.

__ADS_1


Disa mengangguk, sedangkan Dani hanya bisa pasrah. Baiklah, dia mengalah, hitung-hitung sebagai penebus rasa bersalahnya. Mamah Yuli menyambut menantunya dengan sangat hangat.


Masakan sudah terhidang di meja. Mereka makan bersama. Salwa berceletuk dengan wajah polosnya. Membuat Disa terbatuk.


"Mana adik buat kami? Katanya bikin adik?" tanya Salwa.


Disa langsung tersedak dan terbatuk. Sita menepuk jidatnya. Keponakannya satu ini memang tidak bisa diajak kompromi. Dani langsung menatap tajam ke arah Sita.


"Adiknya ada di perut Umma," jawab Disa tenang setelah menemukan jawaban yang tepat. Membuat Dani, Mamah Yuli, dan Sita langsung terkejut.


"Serius, Mbak?" tanya Sita.


"Tunggu bulan depan, ya? He-he-he," jawab Disa sambil menyeringai.


Mamah Yuli mengaminkan ucapan Disa. Berharap nanti memang Disa sudah positif hamil. Dani juga melakukan hal yang sama. Mamahnya berbisik ke telinga, sudah rajin menengok atau belum?


"Sudah dong, Mah. Ada kado yang berguna juga, makin oke dong!" jawab Dani membuat wajah istrinya memerah.


Makan malam usai, Disa mendampingi dua anaknya belajar, mempersiapkan seragam mereka, dan menata buku untuk pelajaran esok. Setelah urusan dengan anak selesai, gantian dia yang mempersiapkan keperluan dia dan suaminya, karena besok cutinya sudah habis.


Saat anak-anaknya sudah terlelap, Dani mengajaknya duduk berdua di sofa kamar. Bertanya kapan menstruasi terakhirnya.


"Baru juga tanggal empat belas kemarin, Mas. Tunggu bulan depan. Semoga saja do'a kita qobul. Aamiin."


"Aamiin, semoga disegerakan. Jangan terlalu memanjakan mereka, kalau salah tegur." Dani melihat dua anaknya yang terlalu manja dengan Disa.


"Mereka tidak manja, kok. Pasti aku tegur, buat apa membela jika memang salah?"


Dani tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Disa. Salwa terbangun dan mencari keberadaan Disa. Lalu memisahkan papahnya dari ummanya.


"Malam ini giliran kami dong, Pah! Umma kan juga milik kami, bukan Paoah seorang! Weee." Salwa menjulurkan lidah sambil menarik tangan Disa kembali ke ranjang.


Dani hanya bisa pasrah dan mengalah. Baiklah, malam ini dia akan puasa, dan belum tahu kapan bedhug akan dipukul agar dia segera berbuka.

__ADS_1


Maaf ya kemarin othor ke Jepara, capek, dan nggak up


__ADS_2