
Dani dan Rida menunjukkan wajah lesu di dalam mobil. Kalut dengan pikiran masing-masing. Apa yang sedang dipikirkan kakak beradik itu? Ya apalagi kalau bukan tentang Disa.
Dani merasa Mak Nur benar tidak menyukainya. Haruskah dia menyerah sekarang? Setelah mendapat lampu hijau dari Disa? Oh, No! Tidak boleh! Pokoknya ia harus tetap maju.
Rida memikirkan ucapanbya saat bicara dengan emak. Takut jika wanita tua itu tersinggung, dan malah semakin tidak suka dengan kakaknya. Namun, dia berpiki lagi, kenapa harus bingung? Bukankah Disa sudah memberi lampu hijau bagi Dani?
Lalu wanita beranak satu itu tersenyum. Dia sangat yakin kakaknya adalah pemenang dalam hal ini. Namun, kembali lagi saat mengingat Mak Nur, Rida menjadi ragu. Kasihan juga jika Dani sampai ditolak.
Padahal, anak dan keluarganya sudah sangat setuju jika duda itu bersanding dengan Disa. Rida segera menghubungi seseorang untuk mencari informasi. Dani hanya melirik dan mendengarkan sekilas apa yang dilakukan adiknya itu.
"Assalamu'alaikum, Maszeh Alwin. Dikasih info, Maszeh. Ha-ha-ha. Iya, aku ngomong yang benar. Mas, tolong carikan informasi tentang keluarga Abah Shodiqun, genting nih! Hmm ..., aku tunggu. Wassalamu'alaikum, Maszeh." Rida mengakhiri panggilan itu.
"Da, menurut kamu aku harus tetap maju atau mundur?" tanya Dani.
"Tidak usah tanya jawabannya, Dani gemblung! Ya maju lah!" jawab Rida gemas sekali dengan kakaknya.
Dani langsung menjewer telinga Rida. Mereka tertawa bersama. Sudah lama sekali kakak beradik itu tidak pergi berdua. Mengingat waktu kecil mereka.
Ponsel Rida menerima pesan masuk. Hanya dalam hitungan menit, informasi yang dia butuhkan sudah terpampang di layar gawainya. Wanita itu membaca dengan teliti berita yang ia nantikan.
"Abah Shodiqun, pemilik pondok pesantren Ash-Shidiqqiyah. Istrinya biasa dipanggil Buk Yah. Anaknya dua, yang nomor dua meninggal. Yang satu ikut mengajar sebagai ustaz, dia bernama Aji Samudra." Rida membaca informasi itu dengan seksama. Tidak melewatkan satu hurufpun.
"Angel ..., aku beri info, Maszeh. Sainganmu berat, Bos! Ustaz, lho! Piye, Mas?" Rida menahan tawa sambil menatap ekspresi wajah Dani yang tegang. (Susah ..., aku beri info, Maszeh. Sainganmu berat, Bos! Ustaz, lho! Gimana, Mas?)
Dani sedikit terkejut dengan fakta yang baru saja diketahui. Seorang ustaz? Aduh, berat sekali lawannya. Jika dibandingkan, si duda menjadi insecure alias minder sendiri.
Lelaki itu terdiam sambil berpikir. Hatinya terombang-ambing di lautan keraguan. Ingin menepi, tapi saat melihat perkembangan hubungan itu dia tidak mau. Ibarat sudah berada di tengah, begitulah posisinya sekarang.
"Bismillahirrahmanirrahim, Mas tetap akan maju untuk mendapatkan Disa. Bukan hanya aku yang butuh sosoknya, Da. Lihat sendiri bagaimana anak-anak sama dia, kan?" ungkap Dani.
__ADS_1
Rida bertepuk tangan atas keputusan Dani. Itu artinya, dia harus lebih keras lagi dalam berusaha. Bukan meluluhkan hati Disa, melainkan emaknya. Lelaki itu harus bisa mendapatkan restu.
Dalam sebuah hubungan atau membangun rumah tangga, hal yang sangat vital diperlukan adalah restu. Dia adalah cakar ayam yang dapat membantu bangunan tetap terjaga kuat. Tanpa hal itu, biasanya akan banyak konflik.
Dani meminta Rida untuk mencari foto orang bernama Aji. Telinganya merasa tidak asing dengan tiga huruf yang membentuk sebuah nama seseorang. Rida menunjukkan gambar seseorang tengah mengajar dengan serius.
"Ini namanya Aji, Da?" tanya Dani. Rida mengangguk.
"Pantas tidak asing di telingaku. Mas pernah ketemu sama dia di pondok waktu kemarin mengantarkan Disa pulang," jelas Dani.
"Lalu strategimu bagaimana, Mas?" tanya Rida.
Dani hanya tersenyum. Strategi? Bahkan dia tidak memiliki rencana untuk saat ini. Namun, satu hal yang membuatnya teguh yaitu jawaban Disa. Wanita itu bersedia menunggunya datang. Itu berarti hati bidadari itu sudah mulai menerima hadir si duda.
"Cukup meluluhkan hati emak di sepertiga malam. Mas sangat percaya dengan bantuan Allah, Da. Menurutmu aku perlu tanya ke Disa nggak soal ini?" tanya Dani lagi.
"Nanti aku pusing karena penasaran, Da," bantah Dani.
"Terserah kamu, Mas!"
Dani menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Baiklah, dia tidak akan bertanya bagaimana keputusan Disa. Jari, hati, dan otak harus bekerja sama dalam hal ini. Menyingkirkan penyakit kepo untuk sementara waktu.
Rida bertanya kapan Dani akan melaporkan kasus Salwa? Pelaku itu harus segera ditangkap agar tidak menimbulkan masalah baru. Kasihan jika hal itu terjadi, maka akan semakin banyak pula Salwa lainnya.
"Besok aku lapor polisi. Mas akan minta tolong sama Disa sebagai saksi. Semoga cepat diproses nantinya. Carikan psikiater anak, Da. Aku nggak mau mental Salwa jadi trauma," kata Dani.
"Oke siap, banyak agenda keluarga kita. Besok pagi lapor polisi, siang nyari paikiater, sore nyambut keluarga Reza. Malamnya aku healing sama mas Arsya, ah ..., titip Andra, ya? He-he-he." Rida begitu enteng mengucapkan itu.
Enak sekali dia, selalu punya waktu berdua dengan Arsya. Meskipun sudah menikah, mereka selalu kompak untuk menjaga keharmonisan. Meluangkan waktu untuk berdua. Membicarakan semua hal tentang masa sekarang dan depan.
__ADS_1
"Iya kalau keluarganya Reza datangnya sore, lha kalau malam?" goda Dani agar adiknya itu goyah.
"Oh, tidak bisa! Pasti sore! Kalau malam gagal deh booking hotel! Kan aku rugi," ucap Rida.
"Astaghfirullah ..., pakai booking hotel segala. Mau ngapain? Bikinin adik untuk si Andra?"
"Terserah kami dong mau ngapain, kenapa Anda yang jadi kepo, Pak duda?"
Keduanya sama-sama tertawa. Asyik sekali memiliki saudara yang super lengkap seperti itu. Diajak bercanda ayo, bertengkar sampai main kejar juga oke. Tidak memikirka. Berapa umur mereka.
Saat tiba di rumah, Salwa menangis karena tidak berhasil menemukan sosok Disa. Dia tidak mau ditinggal oleh wanita itu. Aidha mencoba menelpon ustazahnya, tapi tidak diangkat sedari tadi. Dani menggendong si bungsu mencoba menenangkannya.
Pasti kegelapan sedang menyelimuti diri Salwa. Tidak biasanya dia minta ditemani seperti itu. Dani mengajaknya keluar rumah menuju warung dekat rumah. Membelikan beberapa jajan untuk anaknya, tetapi si bungsu tetap saja menggeleng.
Aidha berlari menghampiri Salwa dan Dani. Memberikan ponselnya pada adiknya. Disa sedang tersenyum dalam video call itu.
"Ust, kenapa pulang?" tanya Salwa.
"Ust ada keperluan sebentar, Sayang. Jangan nangis, dong. Nanti semuanya malah sedih. Oke?" kata Disa.
"Besok kesini ya, Ust?"
"Iya, Nak. Besok Ust kesana. Sudah, jangan menangis. Anak sholeha, cerdas, dan ceria kok nangis. Nanti hilang cantiknya, lho. Semangat ya, Sayang ...,"
Akhirnya Salwa mengangguk. Mulut Dani gatal sekali ingin menggoda wanita itu. Padahal, dia sendiri yang berjanji di depan Rida bahwa tidak akan bertanya soal perjodohan pada Disa.
"Cie yang habis dilamar, senang nggak?" tanya Dani.
Disa mengernyitkan dahinya. Cepat sekalu pria itu mengetahui berita besar itu.
__ADS_1