
"Hish! Pulang sana ..., itu kopi bukan dari aku!" ucap Sita sambil mengeratkan rahangnya.
Reza mengangkat sebelah alisnya. Tidak mungkin ada Sita lain yang mengirimkannya kopi. Reza memanggil nama Dani agar keluar. Membuat Sita semakin gemas dengan tingkahnya.
Sita menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Mengisyaratkan Reza harus diam. Kini hanya bahasa mata yang mampu menggambarkan obrolan keduanya. Sunyi bukan berarti diam, mereka hanya memberi waktu untuk tubuh mereka mengungkapkan perasaannya.
Sungguh komunikasi yang unik. Kini sepasang mata dua insan itu berkaca-kaca. Segera mereka menghapusnya sebelum tumpah. Sita membuka pintu gerbang untuk Reza. Memberikannya jalan agar masuk dan duduk di teras.
Sita dan Reza sangat paham dengan kondisi mereka yang sedang berdua di teras. Bisa menimbulkan fitnah jika terlihat oleh orang yang iri dengan mereka. Tapi mereka memang butuh waktu untuk berbicara, tanpa pengganggu.
"Makasih kopinya, Ta. Tapi Mas Za lagi nggak minum kopi, lambungku sakit," terang Reza.
"Kenapa bisa sakit? Telat makan? Udah minum obat?" ucap Sita khawatir.
Reza tersenyum senang mendapatkan perhatian itu. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan hal itu dari Sita. Ya, itu karena jarak yang terjadi diantara mereka. Membuat suasana hati semakin berbalut kabut emosi.
"Malah senyum, ditanyain lho!" sewot Sita.
"Nggak selera makan. Gara-gara kamu tuh!"
Sita mengernyitkan dahinya. Gara-gara dia? Memangnya apa yang telah ia lakukan sehingga membuat perut Reza sakit? Ah, mungkin itu hanya akal-akalan lelaki berambut cepak itu.
Reza menerangkan bahwa dia tidak nafsu makan karena memikirkan sikap Sita padanya. Sangat dingin dan datar. Berbeda dengan hari ini. Dia merindukan wajah menyebalkan dari Sita.
"Masih ingat mbak Disa?" tanya Sita.
Reza mengangguk tanpa ragu. Entah untuk apa Sita membahas wanita yang pernah menolak cintanya. Kini jantungnya berdebar takut jika Sita menyuruh dia untuk semakin menjauh lagi. Apakah dia akan siap?
__ADS_1
"Sekarang dia jadi guru ngajinya Aidha dan Salwa. Dan ..., dia adalah wanita yang berhasil mengguncang tembok pertahanan hati mas Dani." Sita menjelaskan sesuatu yang menurutnya penting.
"Hah? Mas Dani kakak kamu? Suka sama Disa?" tanya Reza terkejut.
"Iya, kenapa? Nggak ikhlas?" sewot Sita.
Reza berdecak. Dia mulai bercerita pada Sita saat mereka pertama kali bertemu setelah sekian purnama. Ia kaget karena Dani ternyata mengenal Disa. Padahal saat mengobrol dengannya, Dani bersikap seolah tidak tahu menahu yang namanya Disa.
Sekarang Reza malah tertawa. Tidak menyangka bahwa Dani masih bisa jatuh cinta lagi. Pintar juga lelaki itu menyembunyikan perasaan di hadapan Reza. Hingga sahabatnya bisa tertipu dengan mudahnya.
"Disa sama siapa juga bukan urusan aku kali, Ta. Kan aku udah ditolak! Tapi ..., aku bersyukur sih nggak jadi sama dia. Karena ...," ucap Reza sembari menatap Sita sangat dalam.
Sita tidak tahan dengan tatapan itu. Dia segera memalingkan wajahnya. Reza tersenyum melihat gadis yang sangat manis itu tersipu malu. Inilah yang dia rindukan. Hatinya sudah ingin memeluk wanita yang bisa menghangatkannya.
"Karena Mas Za sadar, bukan Disa yang diinginkan hati ini. Tapi kamu, Ta." Reza masih menatap lekat wajah wanita itu.
Dani datang mengacaukan momen romantis itu. Reza sampai menghela napas kesal karena tidak bisa mengutarakan isi hatinya dengan leluasa. Sita langsung bangkit dari kursi dan menyeringai pada kakaknya.
"Ih, berani berduaan disini. Nggak takut ada setan?" tanya Dani langsung duduk di sebelah Reza.
"Setannya ya kamu ...," geram Reza sambil melengos.
"Aku masih bisa denger lho, Za! Masuk, Ta! Ngapain disini?"
Sita memanyunkan bibirnya sebal. Akhirnya dia memilih masuk ke dalam rumah. Tinggal Reza dan Dani yang masih berada di teras. Dani melihat kopi yang masih utuh dalam wadahnya.
Dia langsung mengambil, lalu menyedotnya menggunakan pipet panjang berwarna hitam. Merasakan kenikmatan kopi dengan balutan rasa dingin yang menyegarkan. Tapi tetap saja, kopi mamah Yuli dan Inaya is the best. Reza hanya bisa menatapnya dengan pandangan ingin menghajar sahabatnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Kopi itu adalah hal spesial untuknya. Dari seseorang yang sangat berarti untuk hatinya. Dengan mudah Dani langsung meminum. Sungguh, Reza ingin melemparkan sandal ke mulut Dani yang masih merasakan sensasi dingin berbalut perih dari es kopi itu.
"Jangan gombal sama wanita, Za. Kalau kamu memang serius sama Sita, bawa orang tuamu datang menemui aku dan mamah. Halalkan hubungan kalian. Agar tidak ada fitnah nantinya. Bukan aku melarang kalian untuk berduaan, tapi memang begitulah agama kita mengajarkan." Dani memulai petuahnya yang sangat berbobot.
"Belum makan, makin lapar aku dengar pesanmu, Mas! Iya, maaf kalau tadi menyalahi ajaran. Bukankah kalau ingin melamar seorang gadis kita wajib memberitahukannya terlebih dahulu?" tanya Reza memastikan adab dalam melamar.
Dani mengangguk, "Benar, jadi kalau kamu sudah siap, segera beritahu Sita dan aku. Agar kami juga ada persiapan jika harus menolak atau menerimamu."
Reza berdecak mendengar kata menolak. Jangan! Dia tidak akan siap ditolak oleh Sita. Dunianya akan kembali runtuh jika hal itu terjadi. Cukup kejadian lalu memberinya pelajaran bahwa kehilangan orang yang berarti akan berimbas mendalam dalam hidup kita.
Dani tertawa melihat ekspresi Reza. Jelek sekali wajah pria itu. Mereka terdiam sejenak larut dalam pikiran masing-masing. Memberikan ruang bagi sunyi untuk menyalami malam itu.
"Mas, kenapa kemarin nggak bilang kalau kenal Disa?" tanya Reza.
Dani langsung tersedak es kopi itu. Mulut Sita memang tidak bisa dipercaya. Jika Reza menanyakan tentang Disa itu artinya pria itu sudah jauh mengetahui cerita tentang perasaannya. Adiknya itu memang perlu diberikan pelajaran.
"Aku do'akan semoga memang Disa jodohmu, Mas. Tapi ..., kalian lebih cocok dipanggil om dan keponakan tuh!" ucap Reza mengejek Dani.
"Astaghfirullah ..., bisa ya ngomong begitu? Awas aja nanti! Tak tolak lamaranmu untuk Sita!" ancam Dani.
Reza merengek menyesali ucapannya. Dia meralatnya kembali. Membandingkan diri Dani dan Disa.
"Cocok lah, hot papa dan umi solehah! Hi-hi-hi." Reza cekikikan melihat ekspresi Dani yang tampak malu-malu.
Dani hanya menggelengkan kepalanya sambil tersipu. Wajahnya bersemu merah. Telinganya menjadi panas. Ah, dia memang benar-benar sedang jatuh cinta.
Reza pamit pulang karena semakin larut. Berjanji pada Dani akan segera datang membawa kedua orang tuanya. Reza juga meminta izin untuk membawa Sita berkenalan pada orang tuanya, bukan sebagai sahabat, melainkan calon teman hidupnya.
__ADS_1
Dani memberikan izin, dengan syarat Rida dan Arsya yang akan menemani mereka. Dia tidak bisa menemani adiknya karena harus menyiapkan berkas peninjauan sekolah. Ia akan mendampingi tim akreditasi pusat untuk melakukan kunjungan. Selain itu, dia juga akan menjadi pendamping dalam acara jambore nasional.