
Dani hanya melempar senyum pada Aji. Lalu bergegas masuk mobil. Hawa panas mengelilingi hati dan tubuh pria itu. Ada rasa tidak ikhlas saat saingannya berkunjung ke rumah Disa. Sang duda sedang terbakar api cemburu.
Dani langsung tancap gas setelah mamahnya memakai sabuk pengaman. Mamah Yuli tertawa sekilas melihat tingkah anaknya. Terlihat sekali Dani sedang cemburu.
"Kenapa tertawa, Mah?" tanya Dani.
"Lucu lihat kamu, masih bisa cemburu juga ternyata." Mamah Yuli kembali tertawa saat melihat wajah Dani yang tidak terima dikatakan cemburu.
"Siapa juga yang cemburu?"
"Kamu, Dan. Mamah tahu hal itu, sabar ..., semoga saja hati Disa memang sudah tertaut padamu," ucap Mamah Yuli yang diamini oleh Dani.
Setelah mengantarkan mamahnya pulang, Dani langsung kembali ke kantor. Menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang menanti dirinya. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Klunting!
Dani mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Membuka dan membaca pesan yang ada. Dari wanita yang selama ini dikaguminya. Ya, Disa mengirim pesan untuk sang duda.
Disa : Assalamu'alaikum, Pak. Terima kasih atas bantuannya. Saya minta maaf jika ada sikap emak dan saya yang menyinggung hati, Bapak. Sekali lagi terima kasih.
Dani tidak membalas pesan itu. Membiarkannya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Sabar ..., biarkan dia selesaikan dulu urusannya. Jika nanti waktunya sudah tiba, tinggal lihat hasil. Kalau dia terima Aji, ya sudah, mundur. Yang penting sudah usaha." Dani bicara sendiri.
Reza yang mendengarnya langsung menghampirinya.
"Ngopo sih, Mas? Ngomong dewe marai miris, kene lho cerito karo aku." Reza duduk di depan meja Dani. (Kenapa sih, Mas? Bicara sendiri membuat miris, sini lho cerita sama aku)
"Daripada ngajak ghibah, mending bantuin aku milah file ini. Gih buruan!" Dani memberikan setumpuk pekerjaannya pada Reza.
"Ya Allah ..., salahmu sendiri, Za. Buaya galau kok dideketin!" ucap Reza. Dani langsung melotot mendengarnya.
__ADS_1
"Kabur ...." Reza langsung kembali ke meja kerjanya dengan setumpuk berkas itu.
***
Aji merasa tidak enak hati pada Mak Nur. Dia tidak bermaksud menelantarkan emak seorang diri di Semarang. Ia terlalu panik, hingga tidak bisa berpikir jernih. Meninggalkan orang tua Disa tanpa pesan apapun.
Dia meminta maaf pada Mak Nur. Disa memilih tidak menemuinya. Masih merasa belum bisa melupakan kekesalannya pada Aji. Mas Wakhid langsung menerima maaf dari lelaki tersebut, tapi balasannya mengandung emosi.
"Kami maafkan, saya tahu kok Mas, keluarga ini bukan orang berada. Jadi Anda bisa seenaknya meninggalkan orang tua di kota seorang diri. Sepanik-paniknya orang, akan ingat pada orang terpentingnya. Dan dari kejadian ini bisa saya simpulkan, emak bukan orang penting buatmu, kan?" Mas Wakhid melepaskan emosi yang sudah tertahan sejak tadi.
Menurutnya, kesalahan Aji bukan hal sepele. Kalau yang ditinggal itu bisa pulang sendiri tidak akan jadi masalah, nah ini? Orang tuanya bukan orang yang berpengalaman. Emak hanya orang desa yang tidak pernah pergi jauh dari rumahnya.
Mak Nur memperingatkan Mas Wakhid agar tidak terlalu marah pada Aji.
"Nggak usah dibela, Mak. Mau dia anak kyai atau yang lain, salah ya harus dikasih tahu! Saya juga lelaki, Mas. Saya punya tanggung jawab sama seperti kamu. Jika kamu sudah menyanggupi permintaan orang tua saya, harusnya kamu juga bertanggung jawab atas diri emak." Mas Wakhid menghela napas untuk meredam emosinya.
Aji hanya bisa diam dan pasrah. Dia tidak tahu lagi harus meminta maaf seperti apa. Mas Wakhid benar, ia memang pantas mendapatkan kemarahan kakak Disa. Emak meminta Mas Wakhid untuk memberikan ikan hasil tangkapan lautnya pada lelaki itu.
Hati Aji benar-benar sakit mendengar ucapan Mas Wakhid. Haruskah sampai seperti itu? Aji meminta izin pada Mak Nur, bicara sebentar dengan Disa. Ada hal yang ingin dia sampaikan pada wanita itu.
Disa memakai jilbabnya dan keluar menemui Aji. Namun, lelaki itu mengajaknya keluar mengendarai mobil. Dia ingin mengajak wanita itu makan bakso. Sebagai permintaan maafnya karena membuat marah.
Mak Nur mengizinkan mereka. Berharap ada kedekatan yang terjalin diantara keduanya. Disa hanya diam di dalam mobil. Begitupun dengan Aji. Tidak ada obrolan diantara keduanya.
Mereka sudah sampai di warung bakso. Disa hanya memesan es teh. Aji menawarkannya makan, tapi wanita itu tetap tidak mau. Akhirnya pria itu hanya memesan minum juga.
"Maaf kalau aku membuatmu marah, Dik. Bukan maksudku meninggalkan emak sendirian." Aji masih mencoba menjelaskan duduk perkaranya.
"Aku tidak marah, Mas. Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Apa hal penting yang ingin kamu sampaikan sama aku?" tanya Disa dengan wajah malas.
"Waktu untuk menjawab lamaranku tinggal menghitung hari, apakah kamu sudah mendapatkan jawaban atas istikharohmu, Dik?" tanya Aji.
__ADS_1
Disa mengernyitkan dahinya. Kenapa pria itu tiba-tiba membahas khitbahannya? Bukankah selama hampir dua minggu ini mereka memang tidak pernah berkomunikasi? Aneh!
"Jika sudah, apa jawabanmu? Tolong sampaikan terlebih dulu kepadaku. Karena jujur, aku tidak mencintaimu, Dik. Aku ..., mencintai gadis lain." Aji mengatakan isi hatinya di hadapan Disa.
Wanita itu tidak terkejut mendengarnya. Dari awal mereka bertukar nomor ponsel, Aji sudah tidak memberi kabar padanya. Bukankah itu suatu jawaban penolakan secara halus? Yang kedua adalah kejadian hari ini, lelaki itu benar-benar menunjukkan siapa yang penting baginya, dan itu bukan keluarganya.
"Kamu bagaimana, Dik?" tanya Aji lagi.
"Aku juga tidak mencintaimu. Tidak ada rasa tenang saat aku bersamamu, Mas." Disa mengungkapkan jawabannya.
"Apa ..., lelaki tadi yang mampu membuatmu tenang?" tanya Aji lagi.
Disa tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh Aji. Dia lebih memilih diam dan tidak menjawabnya. Meskipun hatinya tidak bisa memungkiri, ia akan merasa tenang ketika berada diantara keluarga Dani.
"Dari awal harusnya kamu menolakku, Dik. Kasihan lelaki tadi, menahan rasanya hanya untuk menghormatiku. Aku pernah berada di posisinya, hanya bisa menunggu orang yang kucinta bersama orang lain."
"Tidak usah sok tahu, Mas. Jangan membicarakan Pak Dani diantara kita." Disa memperingatkan Aji agar tidak membicarakan orang lain.
"Jadi namanya Pak Dani, Dik?"
"Ck!"
"Baiklah, aku minta maaf. Apakah aku harus memberitahu abah dan umi untuk segera mendengar jawabanmu? Atau kita tunda sesuai kesepakatan?" tanya Aji lagi.
"Terserah, sudah? Kalau sudah selesai, tolong antarkan aku pulang." Disa meminum es tehnya dan segera keluar dari warung bakso itu.
Aji membayar minuman dan bergegas ke mobil. Di dalam mobil kembali terjadi kesunyian. Tidak ada yang ingin memulai obrolan apapun. Saat sudah dekat dengan gang rumah, Disa meminta diturunkan sampai depan gang saja.
"Terima kasih atas pengertianmu, Dik. Aku minta maaf atas segalanya. Mungkin besok aku akan bawa abah dan umi untuk bertemu denganmu."
Disa hanya mengangguk, berpamitan dan mengucapkan salam. Segera turun dari mobil dan berjalan pulang ke arah rumah. Perasaan lega hinggap di hati keduanya. Sama-sama tersenyum dan berdamai dengan keadaan.
__ADS_1
Kita mungkin bisa memilih yang terbaik untuk diri kita, tapi belum tentu Allah merestui hal itu. Percayalah, takdir Allah akan selalu menjadi titik yang terbaik untuk diri kita.