Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Hanya Denganmu


__ADS_3

Dani memejamkan mata serta menggigit bibir bawahnya. Seperti sedang menyesali sesuatu. Oke, kali ini dia tidak akan mengkonfirmasi apapun. Ia ingin Disa memanggilnya dengan sebutan 'mas'.


"Salah saya ngomong begitu? Kamu panggil Reza pakai mas kok! Sebut saya bapak, tua banget saya!" ucap Dani tidak mengingat usianya.


Sita tercengang mendengar kakaknya berkata seperti itu. Memang dia seorang bapak, bukan? Dan lagi, usianya sudah 45 tahun, bukankah itu sudah masuk tua? Atau masih setengah tua?


Sedangkan Reza menertawakan Dani. Bagi Reza, Dani memang sudah tua diantara mereka yang ada di dalam mobil. Kenapa lelaki itu menjadi iri dengan sebutan Disa untuk Reza? Aneh! Dani sungguh aneh.


Disa tidak ingin membahas lebih lanjut percakapan itu. Dia merasa Dani semakin menunjukkan padanya, bahwa terselip rasa yang Dani siapkan untuknya. Sudah dua kali Dani mengatakan hal aneh hari ini. Yang pertama tidak begitu ia pikirkan, tapi yang sekarang?


Mereka telah sampai di rumah Disa. Mak Nur yang baru saja selesai membersihkan daun kering, terkejut melihat kondisi putrinya yang dipapah oleh Sita. Dani menjelaskan musibah yang terjadi. Mak Nur hanya bisa mengucapkan syukur karena Disa tidak mengalami luka parah.


"Motornya Dani bawa ke bengkel dulu, Mak. Besok jum'at pagi Dani antarkan sekalian ambil pesanan nasi. Eh, pesanan nasi masih bisa dibuatkan?" Dani bertanya pada Disa. Wanita itu hanya mengangguk.


"Jangan banyak bergerak, hati-hati kalau mau ke kamar mandi," pesan Dani layaknya suami yang mengkhawatirkan istrinya.


Mak Nur sebagai seorang ibu, peka akan kekhawatiran Dani. Mungkin benar dugaannya jika Dani menyukai anak perempuannya. Ia hanya tersenyum getir jika prasangka itu benar. Memandang status Dani yang merupakan seorang duda beranak dua, adalah hal paling berat disini.


Mak Nur mendengar tentang Aidha yang keras hati. Bagaimana jika Disa dtiolak karena anak itu? Yang ia pikirkan, Dani akan memilih Aidha. Tidak bisa membayangkan hal ke depannya seperti apa.


Dani, Sita, dan Reza berpamitan. Membuyarkan lamunan mak Nur. Dia berpesan hati-hati dalam perjalanan pulang. Berterima kasih karena telah menolong Disa.


"Nak Dani," panggil Mak Nur.


Dani menoleh, "Dalem, Mak. Ada apa?"


"Boleh Mak bicara sebentar? Hanya denganmu," tanya Mak Nur. Dani mengangguk.

__ADS_1


Mak Nur dan Dani duduk di teras. Sedangkan Reza dan Sita masuk terlebih dahulu ke mobil. Disa penasaran apa yang dibicarakan emaknya dengan Dani. Tapi apa daya? Kakinya sedang terluka.


Baik Reza maupun Sita penasaran dengan pembicaraan empat mata itu. Ingin segera bertanya pada Dani apa yang ia bicarakan dengan mak Nur.


"Gimana perasaan kamu setelah lama nggak ketemu mbak Disa, Mas?" tanya Sita memulai pembicaraan yang mungkin akan menjadi panas.


Reza menoleh ke belakang, memgernyitkan kening dalam, tidak tahu arah pertanyaan Sita. "Biasa saja, coba pertanyaan kamu diubah. Emang kamu nggak ingin tahu perasaanku tiap ketemu kamu?"


Sita merapikan jilbab karena tangannya mulai berkeringat. Satu yang bisa dia simpulkan, bahwa Reza sudah benar-benar melupakan Disa. Tidak ada perasaan istimewa lagi untuk kakak asuhnya itu. Terlihat dari sorot mata Reza saat menolong Disa.


"Emang ..., perasaanmu gimana kalau ketemu sama aku?"


"Ingin segera menghalalkan kamu, jadi teman sehidup semati, hingga kita bertemu di surga-Nya. Ingin berbagi semua cita-cita, keluh kesah, dan bahagia dalam satu selimut kita nantinya. Coba dulu kamu nggak kabur, pasti sekarang kita udah punya anak, ya?" tanya Reza.


Sita tertawa bahagia. Mendengar ungkapan hati Reza yang sederhana tapi mampu membawanya terbang hingga mencapai nirwana. Lelaki itu juga ikut tersenyum.


"Aku deg-deg ser besok mau ketemu sama orang tua kamu, Mas." Sita mengingat pertemuan besok.


"Ya tetep aja, Mas. Grogi!" jawab Sita membuat Reza tertawa.


"Nggak usah grogi sih, Ta. Ini mas Dani diomongin apa ya sama mak Nur? Kok lama?"


Sita sependapat dengan Reza. Mengapa Dani lama sekali? Mungkinkah mak Nur menentang hubungan mereka?


***


Suasana pondok pesantren Ash-Shidiqqiyah terasa begitu menenangkan. Terlihat aktivitas dari para santri yang menuntut ilmu disana. Mereka sedang belajar kitab nahwu shorof. Ada sekat pemisah antara santriwan dan satriwati. Seorang guru sedang mengajar dengan memegang mic guna mengeraskan suara.

__ADS_1


Guru itu seorang lelaki dengan perawakan tinggi semampai. Kulit sawo matang, mata sipit, dan memiliki jambang sampai ke dagu. Dia mengakhiri kelasnya hari itu dengan bacaan hamdalah dan do'a penutup majelis.


"Ustaz Aji, dipanggil kyai Shodiqun. Ditunggu beliau di teras pendopo." Aji mengangguk dan segera membereskan kitabnya.


Aji Samudra adalah seorang ustaz di pondok pesantren itu. Usianya sekitar 36 tahun. Dia adalah anak kyai pemilik pesantren. Masih lajang, karena belum menemukan sosok yang pas untuk dijadikan seorang istri. Padahal dia banyak digilai oleh wanita.


Ia berjalan ke pendopo. Melihat abah sedang bersama uminya. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Menghela napas berat seakan tahu apa yang akan disampaikan.


"Wes rampung, Nang?" tanya Umi Rodiyah atau biasa dipanggil buk Yah. (Sudah selesai, Nak?)


Aji mengangguk. Dia menyalami kedua orang tuanya penuh takdzim. Buk Yah menyodorkan teh hangat untuk anak lelakinya itu. Abah mulai membahas tentang perjodohan lagi.


Aji hanya bisa mengangguk tanpa ingin membantah apapun. Dia menyanggupi keinginan abah. Perjodohan ini akan terjadi empat hari lagi. Ia sudah mengenal wanita yang akan dijodohkan dengannya.


Dulu mereka satu pondok pesantren. Saling mengenal setelah lulus. Kebetulan umi mengenal orang tua wanita itu. Hingga buk Yah bertemu langsung dan jatuh cinta dengan gadis itu.


Buk Yah menceritakan pada abah tentang wanita itu. Mereka sepakat ingin menjodohkan Aji dengannya. Umi juga sudah memberitahu orang tua gadis itu.


"Abah yakin pasti dia akan menerima kamu, Ji. Pintar, hafidz Qur'an, punya pekerjaan tetap, apalagi coba kurangnya?" tanya Abah.


"Jangan sombong dulu, Bah. Siapa tahu memang Aji ditolak oleh dia. Ingat, Bah, jodoh Allah yang atur." Aji mengingatkan abahnya.


"Iya Abah tahu. Ya kalau sampai ditolak berarti ...," ucap Abah dipotong oleh Aji.


"Berarti bukan jodoh, Bah. Aji mau bersiap salat maghrib. Abah dan Umi atur saja semuanya. Aji ikut maunya kalian." Aji menyalami orang tuanya lalu berlalu pergi menuju kamar.


Abah dan umi saling pandang. Apakah mereka terlalu memaksakan kehendak mereka? Yang mereka pilihkan untuk Aji bukanlah wanita sembarangan. Meski dari bukan dari keluarga yang berkecukupan, tapi wanita ini memiliki keunggulan.

__ADS_1


Sopan santun tinggi, memuliakan orang tua, dan juga seorang hafidz Qur'an seperti Aji. Wanita yang sangat langka di zaman serba modern seperti sekarang. Kebanyakan dari kaum perempuan saat ini hanya memperbaiki penampilan luar saja, tanpa bermuhasabah tentang hati mereka.


"Calon besan sudah tahu kedatangan kita, kan?" tanya Abah.


__ADS_2