
Mas Wakhid memberikan tanggal yang sudah didapatnya pada emak dan Disa. Menyuruh adiknya segera memberitahukan pada keluarga Dani. Dan tanggal penting itu tiba sebulan setelah lamaran.
Pasangan Disa dan Dani akan melangsungkan akad terlebih dahulu dibandingkan dengan Sita dan Reza. Berharap masih ada persewaan tenda karena waktu yang sangat sempit.
Belum lagi baju yang diinginkan Disa, mereka belum mendapatkannya. Kesibukan akan segera dimulai. Wanita itu menghubungi Dani.
"Assalamu'alaikum, Mas. Bisa kita bertemu nanti siang?" tanya Disa.
"Bisa, Dik. Mau bertemu dimana? Mas samperin ke sekolah?" balas Dani
"Makan siang di luar?"
"Boleh, mau makan apa, Dik?" tanya Dani.
"Soto kerbau atau nasi pindang dekat kantormu saja, Mas."
"Oke, nanti Mas langsung kesana. Semangat kerjanya, ya?"
"Iya, ya sudah. Assalamu'alaikum, Mas," ucap Disa mengakhiri obrolan singkat di pagi hari.
Mereka berkutat dengan pekerjaan. Menunggu waktu untuk nanti saling bersua. Ada hal yang sangat penting nan membahagiakan harus segera diungkapkan.
Setelah berkutat dengan pekerjaan, jam makan siang tiba. Disa langsung secepat kilat menaiki motornya dan menuju tempat yang telah mereka tentukan. Karena terlalu bersemangat, hingga lupa dengan nasib Salwa yang belum diantar.
Disa menghubungi Rifana. Meminta tolong padanya agar mengantarkan Salwa pulang. Dia menunggu Dani seorang diri. Memesan nasi pindang dua porsi bersama minumnya.
Dani datang membawa senyuman sumringah. Menyapa Disa dan duduk di hadapan wanita itu. Mereka makan terlebih dahulu, karena makanan telah terhidang di atas meja.
"Alhamdulillah ...," ucap Dani dan Disa bersamaan.
"Sudah kenyang, Dik?" tanya Dani memperlihatkan rona bahagia yang tidak ada habisnya.
"Alhamdulillah sampun, Mas. Adik mau menyampaikan amanah dari mas Wakhid."
__ADS_1
Mata Dani langsung berbinar. Kabar yang dinantikannya sudah ada hilalnya. Disa membuka kalender di ponsel lalu menunjukkan pada lelaki itu. Tepat satu bulan dari hari lamaran mereka.
Dani terdiam sesaat. Waktunya sangat mepet sekali. Satu bulan kurang, hari yang tersisa untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Kita ikthiar usaha dan do'a. Semoga Allah qobul, Dik. Ini waktunya sangat mepet, dan kita belum persiapan sama sekali. Apa dulu yang akan kita lakukan?" tanya Dani.
"Mmm ..., susun daftar tamu, daftar menu, dan acara."
"Kita cari wo dulu," ucap Dani.
"Waktunya mepet lho, Mas. Emang ada yang bisa mendadak?"
Dani mengetukkan jemarinya ke meja. Wajahnya menampakkan raut kekhawatiran. Sangat jarang yang bisa mendadak dan dalam waktu singkat seperti itu.
Jalan satu-satunya adalah mereka menyusun sendiri terlebih dahulu, sembari mencari vendor yang bisa membantu mereka. Mereka berdebat masalah tamu undangan. Banyak teman, keluarga, dan kenalan yang harus mereka undang.
"Kalau sekitar 500 orang berarti kita menyiapkan menunya dua kali lipatnya, Mas." Disa menjelaskan kemungkinan yang terjadi.
"Ya sudah, nanti malam kita susun daftar undangannya. Pakai cetak juga?" tanya Dani.
"Makan berat, camilan, dan minuman masing-masing dua macam, cukup?" tanya Disa.
Dani menggeleng, "Tiga, Dik. Biar lebih banyak variannya."
Disa mengalah, kali ini dia setuju dengan usul Dani. Makanan berat yang mereka pilih adalah nasi pindang, lontong sate, dan tengkleng. Untuk camilannya mereka memilih martabak sayur, bubur candil, dan jajanan pasar. Sebagai pelepas dahaga sepakat menentukan es buah, es kelapa muda, dan air mineral.
Daftar menu makanan selesai. Mulai lagi untuk menyusun acara. Disa meminta akad dilakukan di rumahnya. Mas Wakhid akan bertindak sebagai wali. Dani menyebutkan berkas yang harus dilengkapi sang ustazah sebagai persyaratan mendaftarkan pernikahan mereka di KUA.
Setelah akad, resepsi akan berlangsung disana. Dani dan Disa sepakat menentukan jam untuk tamu mereka.
"Jam sebelas sampai jam dua siang, ya?" pinta Dani. Disa mengangguk. Semua yang mereka diskusikan sudah dicatat dengan rapi dalam agenda wanita itu.
Disa melihat jam tangannya, masih ada waktu lima belas menit untuk membahas masalah baju pengantin. Keduanya sepakat untuk mengenakan baju bernuansa putih, bergaya melayu seperti yang Disa inginkan. Masalahnya, di Demak belum ada pakaian model seperti itu.
__ADS_1
Mereka harus meluangkan waktu untuk mencari ke Semarang ataupun ke Kudus sebagai bahan pertimbangan.
"Sita besok kan pulang sama Mamah, kamu minta tolong sama dia, Dik. Atau kamu cari di instagram atau tiktok gitu." Dani memberikan saran pada Disa.
"Adik ..., nggak punya sosial media kecuali whatsapp dan telegram, Mas. He-he-he," ujar Disa malu.
"Ha? Beneran? Berarti ..., selama ini kamu nggak pernah mengunggah status atau kenanganmu di media sosial, Dik?" Dani begitu terkejut.
Di zaman serba milenial begini? Bahkan ada beberapa instansi yang mewajibkan mereka memiliki instagram atau facebook, tapi Disa? Dia sungguh wanita yang kokoh pendiriannya. Kini lelaki itu sadar kenapa kemarin tidak mau foto prewed.
Wanita itu benar-benar menjaga dirinya dari pandangan buruk lawan jenis dan bukan muhrim. Dani sungguh takjub padanya. Bertanya apakah pendirian itu akan selalu sama saat mereka telah menikah nanti?
"Iya, Mas. Kalaupun kamu atau anak-anak mengunggah fotoku, tolong ditutup dengan stiker."
"MasyaAllah, Dik ..., hiiih ..., Mas makin gemas sama kamu. Terima kasih telah menjaga marwahmu dengan baik. Mas bangga sama kamu," kata Dani dengan mata berbinar.
Disa hanya menunduk malu. Tidak menyangka respon Dani akan begitu positif. Dia mengira bahwa lelaki yang ia cintai akan menganggapnya kuno dan kudet. Ternyata salah! Pria itu malah membanggakan dirinya.
"Masih ada yang mau dibahas, Mas? Kalau tidak, mari kembali. Adik masih harus menyelesaikan laporan di sekolah. Tadi Salwa diantar sama bu Rifana. Aku lupa karena terburu-buru," jelas Disa pada Dani.
Lelaki itu mengangguk dan menghabiskan es tehnya. Lalu beranjak membayar makanan mereka dan berpisah ke tujuan masing-masing. Disa kembali ke sekolah, Dani ke kantor.
"Hati-hati ya, Dik. Kabari Mas kalau sudah sampai sekolah. Assalamu'alaikum." Dani sudah siap di atas motor.
"Wa'alaikum salam, kamu juga hati-hati." Disa melajukan motornya diikuti dengan Dani.
Setelah sampai di sekolah, ada seorang lelaki dengan perawakan tidak asing bagi Disa. Dia mengernyitkan dahi sembari berpikir. Apakah kemungkinannya benar?
Aris tersenyum saat mengetahui Disa sudah kembali ke sekolah. Lelaki itu mendekatkan langkahnya.
"Assalamu'alaikum, Dik!" sapa Aris penuh semangat.
"Wa'alaikum salam, Mas Aris ..., ngapain disini?" tanya Disa bingung.
__ADS_1
Aris tersenyum dan mengajak Disa untuk bicara sebentar. Wanita itu menolaknya, lingkungan sekolah bukanlah tempat yang cocok untuk dua orang yang tidak memiliki hubungan halal. Disa menghubungi Rifana agar menemaninya bicara dengan Aris di mushola sekolah.