
"Mengapa kamu mengatakan seperti itu, seharusnya kau tidak bersikap seperti itu, "ucap elin setelah kepergian Siska.
" Lalu, apa yang harus kulakukan, bukankah wanita seperti itu memang harus diperlakukan seperti itu, "jawab Raka
" Mengapa kau tidak membantunya saja, dia itu adalah rekan kerja sesama dokter, seharusnya kau menolongnya, "ujar nya.
" Aku akan membantunya jika itu adalah tentang pekerjaan, dia meminta ku untuk berpura-pura didepan orang tuannya, bagaimana jika kedua orang tuanya akan mengangap itu serius? aku tidak mau terlibat dengan hal seperti itu, lagian itu merupakan masalah pribadinya, tidak ada sangkut pautnya denganku, "jawab Raka, yang membuat elin terdiam.
Benar yang dikatakan oleh nya, kalau dia menerimanya, aku tidak tau masalah apa yang akan terjadi kedepannya, tapi aku bisa melihat wanita itu sangat mencintai Raka, aku sebagai sesama wanita mengerti perasaan dari dokter itu.
"Sudah lah tidak usah dibahas, aku tidak ingin kau membicarakan tentang dia lagi, aku akan pergi ke ruang operasi, tetap lah disini, aku tidak akan lama, kalau kau bosan kau bisa memasuki ruangan sebelah sana, kau bisa istirahat, " ujar pria itu sambil menunjukan kamar yang ada didalam ruangan itu.
Sebelum keluar dari ruangan itu Raka menyempatkan dirinya untuk mengambil kecupan dikening wanita itu, setelah itu baru pergi dari tempat itu.
*****
Sesaat setelah pembicaraan jessi, yang menjelaskan perihal racun itu, mereka semua yang berada dikamar itu terdiam, tapi tidak beberapa lama terdengar suara keributan yang berasal dari lantai bawah.
"Suara apa itu, kenapa terdengar seperti ada keributan? " ucap rena, yang dibalas gelengan oleh semua orang disitu.
"Aku akan melihatnya kebawah, sepertinya ada keributan yang terjadi, " kata Reyhan pergi dari kamar itu.
"Mama, akan pergi kebawah juga," ujar rena, "tante, aku juga, aku ingin melihat ada apa itu, " ujar raina.
"key mama akan pergi, kau tetap lah berada dikamarnya, kau masih sakit,tidak perlu untuk pegi kamanapun, " ucap rena, mereka pun pergi kebawah dengan tergesa-gesa, karena suara yang berasal dari bawah itu semakin ribut saja.
__ADS_1
"Ma, ada apa itu, mengapa ada suara bising sekali? " tanya al, mendekati mamanya itu, "mama juga tidak tau al, mungkin itu hanya suara para pelayan, " ucap jessi kepada al, dia sendiri masih binggung, kenapa suara keributan itu sangat keras, padahal dia berada dilantai atas, tapi masih bisa mendengarnya juga.
"Al, kamu main lah nak, mama akan menemanimu," katanya, "baiklah ma, " jawab al membawa mainan yang berada dibawah tempat tidur, keatas.
"Ada apa ini, mengapa sangat berisik, sampai lantai atas kedengaran, " Tanya Reyhan begitu sampai dibawah, melihat sekretaris nya Arya bersama semua pelayan berkumpul disitu, dan tadi itu ternyata suara salah satu pelayan dan Arya, yang sedang berdebat.
"Maaf tuan, saya telah lancang, membuat keributan dirumah ini, saya sudah menemukan siapa yang mencoba melukai nona,dan tuan muda," ucap Arya dengan hormat, sembari menundukan kepalanya.
"Apa maksud dari perkataanmu, bisa kau menjelaskannya dengan detail?" ujar Reyhan lagi.
"Begini tuan, setelah saya menyelidikinya, ternyata yang menuangkan racun itu adalah kepala pelayan rumah ini, saya sudah menemukan buktinya dikamarnya, yaitu botol yang berisi setengah racun yang digunakanya, dan setelah saya menyuruh dokter memeriksanya, ternyata racun itu sama dengan yang dimakan oleh nona, " ucap Arya menjelaskan panjang lebar, sedangkan mereka mendengarnya tidak percaya.
Kepala pelayan adalah orang yang sudah sangat lama bekerja dirumah mereka,dan juga paling dipercaya, bagaimana mungkin ia berniat mencelakai nona, dan tuan muda.
"Tidak nyonya, saya tidak pernah melakukan itu, saya saja tidak tau bagaimana bisa ada racun dikamar saya,bagaimana mungkin saya tega melakukan itu, nyonya sudah mengenal saya, tidak mungkin saya melakukan itu, saya sudah menjelaskan kepada seketaris Arya, tapi ia sama sekali tidak mendengarkan, " ucap kepala pelayan sembari bersujud dan mengatakan kedua tanganya dihadapan mama rena.
"Aku sangat yakin tuan, aku sendiri tadi sudah bertanya padanya, apa tujuannya, tapi dia tidak menjawabnya, bukti sudah jelas membuktikan bahwa dia adalah pelakunya, " ujar sekretaris Arya.
"Aku masih belum percaya, bagaimana mungkin mbok Ratih melakukanya, bukankah dia sedang belanja kepasar, " ucap jessi yang datang dengan memenangkan selan infusnya.
"Apa yang kau lakukan disini, kau seharusnya istirahat, mengapa kau malah turun, " ucap Reyhan melihat keberadaan jessi dengan memenangi selang infusannya, dan tangan satunya menggandeng al.
"Mengapa kamu turun key, tadikan mama bilang kamu dikamar saja, kamu belum sembuh total nak, " ucap mama rena.
"Aku sudah merasa lebih baik ma, aku hanya penasaran dengan suara keributan yang berada dibawah, jadi aku memutuskan untuk turun, " ucap jessi
__ADS_1
"Aku tidak bisa membiarkan mbok Ratih difitnah seperti ini, bagaimana jika ada seseorang yang dengan sengaja menaruh botol itu dikamar mbok Ratih,aku sangat yakin bukan mbok Ratih pelakunya, " ucap jessi lagi.
"Mengapa kau berkata seperti itu, bukankah bukti sudah jelas, bahwa mbok Ratih lah pelakunya, " ujar raina
"Aku sudah bilang, bisa saja botol itu ditaruh oleh pelaku sebenarnya, karena saat aku didapur pun, mbok Ratih memang sudah pergi belanja kepasar, " ujar jessi.
"Lalu siapa pelaku sebenarnya nona, jika bukan mbok Ratih, siapa pelaku dirumah ini yang ingin mencelakai nona, dan juga tuan muda, " ucap Arya.
"aku tidak tau, tapi mbok Ratih tidak bersalah, " ucap jessi lagi.
"Walaupun mbok Ratih menurutmu tidak bersalah, dia harus tetap dihukum, kita tidak bisa membiarkan masalah ini harus berlalu begitu saja, mulai sekarang mbok Ratih tidak akan menjadi kepala pelayan lagi dirumah ini, sampai pelaku aslinya ditemukan, " ucap Reyhan dengan tegas yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Apa maksudmu Rey, mengapa mengatakan seperti itu," ucap jessi, "sudah sebaiknya kau kembali kekamar, " ujar Reyhan mendekati jessi, kemudian mengangkat tubuh wanita itu, jessi yang terkejut secara refleks mengalingkan tnganya keleher pria itu.
"Apa yang kau lakukan Rey, aku bisa berjalan sendiri, turunkan aku, kau tau kita dilihat oleh semua orang, " ujarnya sambil menutupi wajahnya didada bidang pria itu.
"Diam lah, kau tidak ingin kita jatuh dari tangga ini bukan, lagian tadi sudah kukatakan untuk tetap berada dikamar, tapi kau tetap tidak mendengarkannya, " ucapnya
"Bagaimana dengan al? " tanya jessi, "kau tidak perlu memikirkannya, mama pasti akan mengurusnya dia juga mempunyai pengasuh.
Sesampainya dikamar, Reyhan meletakan dengan hati-hati jessi keatas kasur, dan memperbaiki selang infus nya " Aku akan memanggil dokter, karena terlalu banyak bergerak darahmu sangat banyak keluar, "ucap Reyhan yang melihat selang infus itu yang sudah berubah warna menjadi merah, darah dari wanita itu.
" Kau tidak perlu melakukan itu, aku sudah baik-baik saja, itu nanti juga pasti akan berhenti, "jawab jessi.
" Aku tidak menerima bantahan, dan tidak menerima pendapat darimu, mengerti, "ucap Reyhan yang membuat jessi memutar bola matanya malas, melihat pria itu.
__ADS_1
Bersambung.......