Plot In The Story Transmigrasi

Plot In The Story Transmigrasi
Bab 73


__ADS_3

Tidak lama setelah perbincangan mereka, rena yang duduk disamping brankar istrinya mengetahui bahwa tangan menantunya itu bergerak, membuatnya langsung saja mengatakan hal itu kepada anaknya begitu juga dengan suaminya, "Rey, pa, tadi jari jessi bergerak, cepat segera panggil dokter, " ucap rena sedikit berteriak kepada mereka membuat al yang memang sedang tidur disofa terusik tapi dengan cepat Rey menenangkan nya agar anak itu tidak terbangun.


Walaupun mereka sudah menekan tombol yang berada disamping brankar yang berfungi untuk memangil dokter, tapi tetap saja dokter tidak juga datang, ketika alfian berinisiatif memangilnya keluar, terlihat kedua mata menantunya itu sudah terbuka sempurna membuatnya mengurung kan niatnya.


"Nak, apakah ada yang sakit? " tanya rena mengetahui menantunya itu telah sadar, alfian pun mendekatkan dirinya.


Jessi tidak menjawab dia masih merasakan sedikit pusing dikepalanya, bahkan untuk sekedar berbicara saja rasanya sulit, jessi mengendarkan pandangannya melihat kesemua sudut ruangan itu, dan perempuan itu baru menyadari bahwa di ruangan ada mertua dan anaknya juga, jika tadi hanya Reyhan seorang sekarang tidak.


Keterdiamana menantunya membuat rena cemas, "Nak, kamu merasakan apa sekarang? pa cepat panggilkan dokter, " ucapnya menoleh kearah suaminya.


"Tidak, " ucap jessi bersusah payah mengeluarkan suaranya, rasanya tenggorokan nya seperti tercekat untuk sekedar berbicara.


"Tapi key, kamu harus diperiksa nak, supaya memastikan kondisi mu apakah sudah baikan atau tidak nak, " ucap rena mengelus rambut menantunya.


"Aku sudah merasa baik ma, hanya sedikit pusing, " jawab nya dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh mertuanya.


"Nak, maka turut merasakan sedih atas kejadian yang sudah menimpa kamu, " ucap rena.


Kalimat yang dilontarkan oleh rena kembali membat jessi mengingat kepingan-kepingan sebelum dia pingsan tadi, dan jessi baru mengingat bahwa is telah kehilangan calon anaknya, seketika perempuan itu langsung saja memegang perutnya. sejak tadi rena memperhatikan apa yang dilakukan oleh menantunya , rena juga melihat bahwa menantunya itu memegang perutnya , membuatnya ikut merasakan sesak didadanya melihat hal itu.


"Key, kamu tidak usah bersedih nak, ikhlas kan saja, ini sudah takdir kita hanya perlu mendoakan nya saja,kamu harus kuat, " ujarnya.


"Ma, aku, aku sudah kehilangan calon anakku, " ucapnya dengan suara tercekat.


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh menantunya membuat rena hampir saja meneteskan air matanya, tapi sekarang wanita itu tidak boleh menunjukan air matanya, karena sekarang tugasnya untuk memberikan kekuatan kepada menantunya.


"Hidup dan mati ada ditangan yang kuasa key, kita tidak pernah tau takdir apa yang dibuat untuk kita, tapi percayalah nak, semuanya sudah diatur mama yakin dibalik semua ini pasti akan ada hikmah nya, " ucapnya.


Jessi yang mendengar perkataan dari mertuanya itu hanya diam saja , dia tidak ingin menjawab apapun sekarang , bahkan untuk bicara saja dia tidak ingin, bukannya ingin bersikap tidak sopan kepada yang lebih tua darinya, tapi sekarang jessi merasakan sedih yang tidak bisa diungkapkan dengan perkataan, apalagi ketika dia mengingat tantang anak perempuan yang berada dalam mimpinya.


"Mama, " ucap al yang sudah terbangun, ketika melihat jessi anak itu langsung saja menghampiri nya apalagi melihat jika ibunya sudah bangun.


"Mama,jangan sakit lagi, al ngak suka, " ucapnya, anak itu digendong oleh Reyhan dan langsung menaiki ranjang perempuan itu.


Ketika melihat anak itu, entah kenapa jessi semakin merasakan sedih, apalagi mengingat perkataan anak perempuan yang ada dimimpinya, "Mengapa mama menangis, apakah sakit, " ucap al mengusap air mata jessi yang menetes, perempuan itu memng diam saja, tapi air matanya menetes yang disadari oleh anaknya al


"Tidak nak, mama hanya merindukanmu, " jawabnya berusaha untuk bersandar, melihat jika menantunya kesusahan untuk bersandar rena membantunya meletakan bantal diposisi yang akan membuat menantunya itu merasa nyaman.


Ketika sudah bersandar, langsung saja jessi merentangkan kedua tanganya agar anaknya itu memeluknya mungkin kehadiran al akan bisa membuatnya merasakan sedikit lebih baik, "Apakah al tidak ingin memeluk mama, " ucap jessi yang melihat anaknya itu belum juga memeluknya.


"Tapi mama sedang sakit, nanti al melukai mama, " ucapnya dengan polosnya anak itu memang sudah mengerti karena otaknya yang bisa dikatakan sudah jenius diumurnya yang hampir menginjak tiga tahun.

__ADS_1


"Tidak akan nak, peluklah mama, tapi al harus pelan-pelan saja, jangan terlalu erat nanti luka diperut mama bisa sakit, " ujar Reyhan angkat bicara.


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh ayahnya membuat al langsung saja memeluk ibunya itu dengan perlahan, bahkan anak itu seakan sangat takut melukai ibunya jika ia tidak berhati-hati.


Kedua mertuanya melihat pemandangan yang ada didepan mereka itu tersenyum haru, rasanya mereka ingin keluarga anaknya itu bahagia selalu. mereka yakin apa yang sedang dihadapi oleh keluarga anknya itu adalah sebuah ujian dari pernikahan yang pasti akan berlalu dengan kebahagiaan.


Reyhan juga menyunggingkan senyuman tipis nya melihat hal itu,senyumanya pudar melihat getaran handphone yang yang bergetar didalam sakunya. ketika melihat siap yang menelfon pria itu pamit untuk mengangkatnya diluar saja.


"Pa, ma, aku pergi ke luar dulu sebentar, " ucapnya , setelah mendapat anggukan Reyhan pun segera keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elin sejak tadi melihat kearah suaminya itu dengan pandangan heran, sajak kejadian semalam hingga pagi ini pria itu kelihatan berubah, bahkan hanya menjawab seadanya sja ketika diajak bicara olehnya, Bahkan wanita itu sejak tadi berfikir apakah suaminya itu sedang marah kepada nya akibat kencan yang diinginkan pria itu malah gagal.



Melihat pria itu handak pergi berangkat bekerja membuat elin langsung saja menghentikannya, "Mengapa kamu ingin berangkat, sarapan terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan nya, " ucapnya



Pria itu hanya menurut saja ketika wanita itu menarik tanganya dan mendudukkan nya dikursi meja makan, bahkan saat elin menyiapkan makanan untuk pria itu, Raka tetap saja lebih memilih untuk bungkam tidak mengeluarkan sepatah katapun "Mengapa kamu diam saja sejak kita pulang dari malam itu? apakah kamu marah padaku? " tanya elin yang merasa tingkah pria itu terlalu berlebihan hanya gara-gara hal kecil seperti itu menurut nya.




Mendapatkan jawaban seperti itu membuat elin kesal bukan main, "Jika kamu seperti ini terus menerus aku tidak akan mau lagi berbicara padamu, " ancam elin yang hendak pergi dari situ tapi pria itu langsung saja mencekal tanganya dan mendudukannya dipangkuannya.



walaupun elin didudukan dipangkuan pria itu tapi tetap saja pria itu bungkam tidak mengeluarkan sepatah katapun, membuat elin semakin marah saja"Mengapa kamu menahanku disini hanya untuk berdiam saja seperti ini? "ucap elin memberontak ingin dilepaskan, tapi tenaganya tidak sebanding dengan pria itu.



" Mengapa jadi kamu yang marah? seharusnya kamu membujuk aku, bukan malah balik marah, "ucap pria itu.



" Aku tidak peduli, terserah jika kamu mau marah atau apalah itu, aku bahkan tidak pernah merasa melakukan kesalahan padamu, kenapa aku harus membujuk? jika aku saja tidak tahu akan kesalahan ku? "ucapnya.


__ADS_1


" Benar yang dikatakan oleh semua orang, perempuan tidak akan pernah mau disalahkan, mereka selalu benar, "gumamnya yang masih bisa didengar oleh suaminya.



" Iya kamu benar, wanita tidak akan pernah salah, karena wanita memang selalu benar, "ucap elin menjawab gumaman dari pria itu.



" Sayang, mengapa kamu tega sekali padaku, saat aku sedang merajuk kamu malah mengancamku, akukan ingin dibujuk oleh istriku ini, "ucapnya yang tidak tahan untun berlama-lama mendiamkan istrinya .



" Kamu itu bukan anak kecil yang harus dibujuk, dasar sudah tua tapi perilaku masih bocah"ucapnya .



"Aku tidak tua ya, dasar kamu ini, " ucapnya



"Sudahlah, sebaiknya kamu berangkat sekarang, nanti kamu bisa telat datang kerumah sakit, " ucapnya.



"Bagaimana jika sekarang aku tidak masuk kerja, kita buatkan cucu yang imut-imut untuk mama dan papa, " ucapnya membuat elin langsung saja berdiri dari pangkuan pria itu.



"Tidak ada yang seperti itu, cepat pergi kerumah sakit sekarang, kamu sudah kebanyakan libur, nanti apa yang akan difikirkan rekan kerja kamu, " ucap elin.



"Semua akan maklum sayang, kita adalah pengantin baru, lagian tidak akan ada yang berani menegurku, rumah sakit itu adalah milik ayah kalau kamu lupa, " ucapnya menaik turunkan alisnya.



"Tidak, sekarang pergilah, " ucapnya mendorong pria itu, sedangkan Raka hanya terkekeh saja melihat tingkah dari istrinya itu.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2