Plot In The Story Transmigrasi

Plot In The Story Transmigrasi
Bab 57 Kepergian


__ADS_3

Setelah kepergian anak itu jessi memutuskan untuk kembali keruangan anaknya al, karena sudah merasa lebih baik sekarang,sebelum keruangan itu, aku menyempatkan diri untuk ke toilet terlebih dahulu, untuk mencuci muka agar kembali terlihat lebih segar.


"Apa yang terjadi? mengapa mama menangis seperti itu, " ujarku melihat mama rena dari kejauhan, aku pun dengan langkah terburu-buru mendekati kedua mertuaku.


"Ada apa pa? mengapa mama menangis seperti itu? " ujar ku begitu sampai didekat kedua orang itu.


"Kondisi al tadi memburuk, tadi dia sempat kejang-kejang, itu yang membuat mama menangis," jawab alfian.


"Lalu bagaimna sekarang kondisi al pa? " ucap jessi yang ikutan panik mendengarnya.


"Belum tau key, bahkan dokter sendari tadi belum keluar dari dalam, " jawab rena .


Mendengar hal itu, aku pun berdoa, semoga al tidak kenapa-kenapa, anak itu harus kembali seperti biasanya, aku percaya al akan pulih. Saat semua orang sedang cemas dan panik menunggu dokter memeriksa al, Reyhan datang "Ma, pa, sebaiknya al kalian bawa untuk melakukan pengobatan di tempat oma, disini sepertinya tidak aman, " ucapnya membuat semua orang yang berada disitu terkejut.


"Apa yang kau katakan rey? " tanya rena


"Aku sudah memikirkannya, dan aku juga sudah mengurus segala keperluan kalian bertiga, papa juga memang ada pekerjaan disana, jadi kalian harus berangkat sekarang juga, " ujar Reyhan.


"Tapi rey, mengapa mendadak seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi? " ucap rena.


Bukan Reyhan yang menjawab, melainkan alfian yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya itu"Nanti akan kejelasan, sekarang sebaiknya kita berangkat saja, menuruti semua yang dikatakan oleh Reyhan, "jawabnya, pria itu tadi mendapat kode dari anaknya itu, dan dia mengetahui bahwa ini memang keadaan yang mendesak, dan harus mereka lakukan.


" Baiklah jika itu demi kebaikan semuanya, sekarang al masih diperiksa oleh dokter, bagaimana mungkin dia bisa dibawa pergi? "ucap rena lagi sambil melihat kearah pintu ruangan rawat cucunya itu.


Tanpa mengetuk pintu, Reyhan membuka pintu ruangan itu, mereka semua melihat bahwa dokter dan suster sudah tidak sadarkan diri didalam, dengan al yang berbaring dibrankar" apa yang terjadi? "ucap jessi melihat keadaan dia dalam ruangan itu yang jauh dari kata baik, semua peralatan berserakan dimana-mana.


Reyhan langsung mengambil al, dan menggendongnya," ayo ma, kalian harus segera berangkat, "ujarnya membawa al keluar, papa alfian, dan mama rena hanya menurut saja, mengikuti anaknya itu keluar ruangan. Sementara aku terlihat binggung dan belum mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya, " Nyonya, sebaiknya anda keluar dari sini, dan pergi lah dengan tuan Reyhan, "ucap seketaris arya yang tiba-tiba berada didalam ruangan itu.


" Tapi, bagaimana dengan dokter dan suster itu? "tanya nya.


" Biar saya yang mengurusnya, sebaiknya anda segera pergi, "jawabnya.


Aku pun pergi, dari ruangan itu, dengan pemikiran yang berkecamuk, aku masih belum paham, dan mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. sesampainya diparkiran aku melihat mobil Reyhan sudah menunggu ku, aku pun berlari untuk cepat sampai kemobil itu.


" Maaf aku lama, "ujarku setelah sampai didalam mobil .


" Lain kali, kau harus lebih cepat, nanti mama dan papa bisa ketinggalan pesawat mereka, "ucap Reyhan begitu jessi selesai memasang sabyk pengaman nya.


" Sudah lah rey, sebaiknya sekarang kamu fokus saja mengendarai mobilnya, "ucap rena, yang tidak ingin anak dan menantunya itu kembali bertengkar.



" Jam berapa pesawat akan lepas landas rey? tanya alfian.

__ADS_1



"Sekitar setengah jam lagi pa, " jawab nya.



"Pa, mengapa kita tidak mengunakan pesawat pribadi papa saja? " tanya rena



"Terlalu beresiko, musuh akan tau jika kalian pergi, aku sengaja menyembunyikan kepergian kalian, biar mereka tau bahwa kalian memang melakukan pekerjaan disana, bukan melakukan pengobatan untuk al, " ucap Reyhan.



Setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan, sekarang mereka sudah sampai di bandara, Reyhan tidak turun, dan pria itu juga melarang jessi turun mengantar orangtuanya,setelah memastikan bahwa kedua orang tuanya beserta al sudah aman, Reyhan kembali melakukan mobilnya.



"Mengapa kamu melarangku untuk mengantar mereka, " ujar jessi setelah mobil sudah sedikit jauh dari bandara.



Pria itu hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh jessi, membuat wanita itu kesal, "Apakah kamu sekarang sudah tidak dapat berbicara? " ucapnya lagi.




"Diamlah, jangan banyak bertanya, " bisiknya keterangan jessi membuat tubuh nya meremang seketika, karena dapat merasakan hembusan nafas dari pria itu.



"Sekarang lebih baik, teruslah diam seperti ini, sekali-sekali menurutlah, " ucapnya.



Pria itu kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, "Untuk sementara kita akan kembali kerumah kita, sepertinya rumah mama dan papa tidak aman, " ucapnya yang tidak dijawab oleh jessi, pria itu melihat wanita itu menutup menutup mulutnya mengunakan tangannya, terlihat lucu, wanita itu hanya mengangukan kepalanya menjawab kalimat yang dilontarkannya.


...****************...


Raka kelimpungan mencari elin, perempuan itu sudah tidak terlihat, dia binggung harus mencari kemana lagi, tapi pria itu juga tidak berputus asa, Raka sangat yakin istrinya itu tidak jauh dari komplek rumahnya ,saat sampai ditaman komplek dia memgendarkan pandangannya ke seluruh taman, padanganya terjatuh pada seorang wanita yang duduk di kursi taman bawah pohon besar, jika dilihat dari belakang, postur tubuh wanita itu mirip dengan istrinya.


__ADS_1


"Sayang, mengapa kamu berada disini? " ucap Reyhan menepuk bahu wanita itu.



Wanita itu yang mengetahui siapa yang menepuk nya hanya diam saja, tidak melihatnya ataupun meresponnya.



Karena tidak mendapatkan respon, Raka pun duduk disamping istrinya itu, "Mengapa kamu tidak menjawabku? apakah kamu marah padaku? " ucap nya.



"Sebaiknya kamu ceraikan saja aku, " satu kata yang keluar dari mulut elin, membuat pria itu seketika emosi, sendari tadi ketika mencari istrinya itu, dia sudah menyusun kata-kata untuk membujuknya, agar mereka tidak bertengkar, tapi mendengar perkataan yang dilontarkan wanita itu membuatnya tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.



"Apa maksudmu? apakah kau mengangap pernikahan itu permainan saja, seenaknya saja mengatakan kata itu, tanpa memikirkan perasaan ku, " ucap Raka mencoba untuk tidak meluapkan amarahnya.



"Seharusnya memang kita tidak menikah, kau tidak pantas untuk ku, apa yang dikatakan oleh oma mu benar, " jawab elin tanpa melihat Raka, pandangannya menatap lurus kedepan.



"Apa yang kau katakan ha? aku tidak perduli apa yang dikatakan orang tenteng kita, yang aku tahu aku sangat mencintaimu, " ucap Raka memegang kedua dagu elin, sehingga perempuan itu melihatnya.



"Apa yang kukatakan benar bukan, aku penyebab keluargamu bertengkar, " teriaknya, bersamaan dengan air matanya yang menetes.



Melihat istrinya itu menangis, Raka pun kemudian membawa wanita itu kedalam pelukanya, "Kita akan melewati ini bersama-sama, aku tidak peduli tentang apapun," ucap Raka mengelus rambut elin.



"Tapi bagaimana dengan keluargam, aku tidak ingin karena aku, papa Adrian akan kehilangan kekuasaannya untuk rumah sakit yang selama ini sudah dikelola olehnya, "ucap elin.



" Sayang dengar, papa tidak akan mempermasalahkan hal itu, oma hanya sedang dipengaruhi oleh tante adel, aku yakin oma akan menerima mu, kau tahu oma sebenarnya adalah orang yang mempunyai hati baik, tapi dia sangat mudah dipengaruhi oleh anaknya itu, aku tidak tahu apa yang sudah dikatakan olehnya pada oma, "ucap Raka.


__ADS_1


" Tapi, "Belum selesai iq mengucapkan kalimatmya, Raka sudah meletakan jari telunjuknya dibibir elin istrinya itu, " aku tidak ingin mendengar kalimat apapun, apalagi saat kamu menyebutkan kata pisah, aku sangat tidak menyukainya, aku membenci hal itu, jadi jangan pernah katakan itu lagi, "ucap Raka, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh elin, Raka bisa merasakannya karena wanita itu berada didalam pelukanya.


Bersambung.......


__ADS_2