
"Kamu adalah raja, dalam hidupmu dan hidup orang lain." Suara Mahesa terdengar di kepalanya. "Kamu harus memiliki kesabaran yang jauh di atas orang lain, Emil. Namun kamu juga harus memiliki ego dan harga diri di atas orang lain. Jangan, pernah, sekalipun, untuk alasan apa pun, membiarkan dirimu terhina. Saat itu terjadi dan kamu diam saja, kamu menurunkan pangkatmu menjadi rakyat biasa."
Emilia merasa napasnya memburu.
Ia tak tahu harus bersabar atau tidak, tapi sesuatu terusik di hatinya.
Insting yang mengatakan ia ditarik dari tahtanya sendiri.
"Aku bicara padamu, Gadis Bodoh." Bahunya ditarik dan wajahnya tiba-tiba menerima tamparan keras. "Kamu berbalik begitu saja padahal aku bertanya padamu?"
Emilia tertegun.
"Ada apa dengan wajahmu? Hah? Kamu marah aku menamparmu? Tidak tahu diri." Tamparan kedua mendarat di wajahnya. Dan itu keras sampai Emilia terpelanting. "Orang sepertimu harus diberitahu bagaimana menghormati tuanmu. Dasar bodoh! Jal*ng! Kamu pikir aku—"
"Paman Idrus!"
Sebelum kaki itu mendarat di wajahnya—atau mungkin sebelum Emilia mencekik dia—sebuah tangan menarik tubuh Emilia.
Sosok Rowan Ahkam menggeram marah pada pamannya.
"Ada apa denganmu?! Aku tidak peduli apa lagi masalahmu tapi berhenti memukuli seseorang sebagai pelampiasan!"
"Jangan ikut campur. Aku hanya memberi dia pelajaran sedikit."
"Paman Samuel yang membawa gadis ini. Jika dia tahu perbuatan Paman, apa menurut Paman dia akan diam saja?"
Wajah pria itu agak keruh. Ada perasaan kesal dan gentar di wajahnya hingga dia mundur, menggerutu sambil menyumpahi Emilia seolah-olah itu kesalahan Emilia jika pagi-pagi begini dia sudah kesal dan marah.
"Hei." Rowan membantunya berdiri pelan-pelan. "Wajahmu terluka. Ikut aku."
Emilia tidak bergeming.
"Ema? Ikut aku. Obati wajahmu."
__ADS_1
Fokus Emilia bukan pada putra Argantana ini.
Ia sedang meresapi sesuatu dalam dirinya.
Aku adalah raja.
Emilia menatap tangannya yang kasar dan penuh bekas goresan menjijikan akibat kerja keras.
Aku adalah raja yang diturunkan paksa dari tahtanya. Aku membiarkan mereka.
"Ema? Kamu mendengarku?"
Emilia mengepal dan melemaskan tangannya berulang kali.
Tidak lemah.
Kekuatannya masih ada.
Kenapa tadi ia bisa dihina padahal kekuatannya masih di sana?
Emilia tersenyum teduh. Tersenyum pada putra Argantana yang terpaku melihatnya.
"Aku baik-baik saja."
Lalu seolah tak terjadi apa-apa, Emilia berlalu, pergi mencari mobil Samuel untuk dicuci.
*
Sudah kuduga, dia aneh.
Rowan memiringkan wajah tak paham mengapa gadis yang dibawa Samuel itu malah tersenyum setelah terpaku.
Pikir Rowan, dia trauma dipukul.
__ADS_1
Bagaimanapun dia hanya gadis, apalagi dari desa, jadi mungkin tidak akan paham mengapa dia dipukuli dengan alasan pengajaran.
Seolah tidak ada yang terjadi barusan, gadis itu pergi bertanya pada pelayan di mana mobil Paman Samuel dan bagaimana cara mencucinya.
Pelayan lebih tegang padahal cuma melihat sementara yang mengalami malah diam saja.
Tapi karena dia terlihat tidak peduli, Rowan juga tidak bisa memaksa.
Ia masuk dan membatalkan niatnya untuk lari pagi. Naik ke lantai di mana Samuel berada.
Pagi begini biasanya Samuel sudah bangun. Mengurung diri di kamar untuk melakukan entah apa yang dia lakukan.
Rowan mengetuk pintu kamar pamannya.
Hanya butuh waktu beberapa detik itu terbuka.
"Ada apa?"
"Aku tidak bermaksud mengajari Paman." Rowan hanya berucap tenang. "Tapi kurasa Paman harus lebih mengawasi gadis itu. Dia tidak terbiasa jadi pelayan dan dia malah bertemu Paman Idrus."
Paman Rowan yang satu itu memang gila. Semua orang juga tahu.
Maka tak heran Samuel sampai tersentak.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, terkesan khawatir.
"Kurasa sikap diamnya membuat Paman Idrus tersinggung, jadi dia dipukuli. Wajahnya terluka, tapi dia pergi mencuci mobil."
"Dasar gila." Samuel langsung mengumpat, tentu saja untuk Paman Idrus. "Aku mengerti. Terima kasih."
Samuel beranjak seketika. Mengunci kamarnya sebelum dia berlari turun.
Sikapnya agak aneh. Seakan dia begitu peduli pada gadis asing itu.
__ADS_1
Namun Rowan berbalik, untuk sekarang memutuskan tidak peduli.
*