
"Aku tahu alasanmu mengirim Emilia bukan sekadar karena dendam. Apa lagi niatmu?"
Mahesa mengisyaratkan perawat keluar. Melihat dia tenang, itu sudah cukup menjadi isyarat bahwa Emilia memang baik-baik saja.
Orang yang paling rugi jika Emilia mati adalah Mahesa.
"Kamu mengingat hal-hal terakhir yang kuajari sebelum aku memberimu wewenang Oto?"
"Entahlah."
Orang brengsek ini mengajari Samuel banyak hal. Sangat banyak hal. Samuel ingat, tapi karena banyak, ia tak bisa menyebutkannya secara spesifik.
"Aku berkata bahwa berhenti jadi manusia di depan orang lain, tapi hatimu tahu bahwa kamu manusia."
Mahesa menopang dagu. Tersenyum kecil menatapnya yang duduk di seberang, sisi lain Emilia.
"Kalian berdua sama. Sama-sama berhenti menjadi manusia, pada orang lain juga pada diri sendiri."
Samuel memgatup mulut.
"Manusia tidak selalu digerakkan oleh hitungan untung dan rugi, Sam. Manusia adalah makhluk emosional yang bisa bergerak melawan keuntungan, merugikan diri sendiri karena perasaannya."
".... Lalu?"
"Aku mendapatkan Ahkam, juga Nugraha, dan mungkin Oto di tanganku dengan strategi ini." Mahesa mengusap pipi Emilia. "Tapi apa yang benar-benar harus didapatkan adalah kesadaran anak ini."
...*...
Senior selalu melakukanya secara curang.
Kalau dipikir-pikir, Mahesa memang selalu berkata bahwa menentukan sesuatu di awal adalah langkah pasti menuju akhir. Makanya sejak awal dia tak pernah mau memindahkan Emilia dari posisi 'hanya alat' menjadi 'rekan'.
Kelopak mata Emilia perlahan terbuka. Merasakan dampak racun di tubuhnya, namun ia tahu tidak separah itu.
__ADS_1
"Ema!"
Meski Samuel mendekatinya lebih dulu, Emilia menatap mata Mahesa. Mata itu masih sama. Masih melihat Emilia sebagai sesuatu yang ... tidak akan dia letakkan di sampingnya.
"Ema, bagaimana kondisimu? Ada sesuatu yang sakit?"
Emilia berusaha bangun. Mengacak rambutnya samar sebelum ia menoleh pada Samuel. "Berikan Oto padaku."
Tak peduli bagaimana Mahesa memanfaatkannya. Tak peduli bagaimana Mahesa menolaknya. Keinginan Mahesa adalah keharusan bagi Emilia.
Bukan hanya soal cinta. Ini adalah hutang yang harus dibayar.
"Aku akan memberi kalian waktu." Mahesa beranjak. "Emilia, jangan memaksakan diri."
Pintu tertutup, menyisakan keheningan meski hanya sesaat.
"Ema."
Emilia sempat diam ketika Samuel memegang tangannya.
"Aku tidak butuh rasa simpati atau kasihanmu." Emilia menarik tangannya. Sempat melirik cincin pemberian Rowan dan bertanya-tanya bagaimana kondisi Ahkam sekarang. "Aku akan membeli Oto darimu. Kamu jelas sudah mendengar siapa aku dari Senior. Berikan Oto pada Senior atau nasibmu sama seperti Ahkam."
*
Samuel terdiam sesaat sebelum tersenyum.
Dalam kondisi apa pun, gadisnya memang akan selalu sama, kan?
"Ema." Samuel meraih wajah gadis itu. Menatap lamat-lamat matanya yang selalu ingin Samuel tatap dari dekat sejak awal. "Tidak, haruskah kupanggil Emilia? Emilia. Nama yang manis."
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong. Berikan Oto atau—"
"Oto adalah bagian dari diriku." Samuel menyelipkan jemarinya di rambut Emilia. Menghidu aroma keringat yang membaur dengan wangi cengkeh di sana.
__ADS_1
"...."
"Emilia, kamu tahu kenapa Samuel tidak merebut Oto secara paksa meskipun dia bisa?" Samuel tersenyum. "Karena dia tahu Oto hanya bekerja di bawah komandoku. Hanya aku."
"Maka aku akan membelinya."
"Tentu." Dengan senang hati Samuel menjualnya. "Tapi aku tidak ingin uang, Nugraha atau apa pun."
"Lalu?"
Samuel meletakkan ibu jarinya di sudut bibir Emilia. "Dirimu."
"...."
"Aku akan memberikan Oto pada Mahesa sesuai keinginanmu. Tentu saja, aku juga ikut bersama itu. Asal kamu memberi dirimu padaku."
Jantung Samuel rasanya bertalu-talu. Ia tak gugup. Tapi ia gemetar karena antusias dan rasa senang.
"Aku sangat ingin memberitahumu, Emilia." Bisikannya seirama dengan deru napas Samuel yang mulai berat. "Aku sangat ingin berkata aku menginginkanmu. Aku menginginkanmu. Sangat. Sangat menginginkanmu. Bisakah kamu mengerti?"
Itu rasa yang belum pernah ada di hati Samuel untuk siapa pum.
Perasaan yang membuatnya ingin memenjarakan Emilia hanya unruk dirinya sendiri.
Tapi terkadang Samuel tak dapat mengatakannya. Sebab entah kenapa, Samuel yakin Emilia akan hilang darinya.
Dia akan menghilang jika Samuel tak menunggu dia memunculkan dirinya sendiri.
"Oto adalah diriku." Samuel mendesak tubuhnya. "Dan satu-satunya yang aku cari hanya kamu, Emilia."
"...."
"Bawa Oto ke mana pun kamu ingin. Arahkan ke mana pun yang kamu rasa baik. Cukup berikan dirimu padaku. Hidup bersamaku. Hanya itu."
__ADS_1
*