
"Ema!"
Emilia tidak berbalik atau berhenti. Ia mengarahkan selang ke ban mobil Samuel, menggosok-gosok dengan tangannya sendiri agar lumpur di sana menghilang.
Sepertinya itu karena jalanan berlubang di desa. Ada beberapa genangan air yang dia lewati hingga lumpurnya mengeras di ban.
"Hei! Ema!"
Sebelum tangan itu menyentuh bahunya, Emilia sudah berbalik. Menahannya dengan sedikit keras.
Itu spontan saja. Bukan karena trauma, tapi karena Emilia harus menjaga diri.
Instingnya menyuruh Emilia membunuh siapa yang menyentuh bahunya sekarang.
"Maaf." Samuel berjongkok. "Wajahmu terluka. Ayo obati itu dulu."
"Aku lapar." Emilia melepaskan tangan Samuel dan kembali bekerja.
"Ema, aku tidak melarangmu makan. Ayo obati itu, makan lalu—"
"Aku sudah bilang padamu tiga kali. Aku bukan pengemis." Emilia menyipit untuk lebih jelas melihat apakah sudah bersih. "Akan kuselesaikan lalu makan. Pergilah."
Bukannya pergi, Samuel malah diam di sana.
Emilia ahli dalam mengabaikan seseorang. Jadi ia beranjak, bergeser untuk mencuci ban setelahnya.
"Kamu akan melakukan apa pun yang kuminta sebagai syarat upahmu?"
"Ya."
"Setelah ini, jangan menyentuh mobilku lagi. Cukup diam di kamar kecuali aku menyuruhmu keluar."
"Ya."
Saat matanya menatap aliran air dari selang, Emilia hanya memikirkan satu hal.
Kesabaran ... adalah hal penting sebelum pembalasan.
__ADS_1
*
Dalam kamarnya sendirian, Emilia duduk memandangi kekosongan lantai.
Samuel menyuruhnya di kamar saja setelah Emilia mengambil makanan. Dia bilang nanti Emilia akan dipanggil jika Samuel ada perlu, jadi tidak usah keluar mencari pekerjaan.
Emilia tidak peduli.
Matanya hanya fokus menatap sesuatu yang telah ia susun dalam kepala.
Tujuannya datang ke tempat ini hanya untuk mencari celah Samuel Ahkam. Bagaimana caranya agar dia mau patuh pada Senior Mahesa.
Emilia tidak boleh menyia-nyiakan waktu, tenaga dan pikiran mengenai hal lain.
Hanya fokus pada Samuel.
Karena itu Emilia terlelap tenang. Memimpikan masa kecilnya saat Mahesa datang berkunjung dan mengajari Emilia bermain catur.
"Antara menjadi baik atau jahat, mana yang lebih kamu sukai, Emil?"
Dan Mahesa balas tertawa renyah. "Apa alasanmu, Gadis Kecil?"
"Karena baik bisa jadi lemah."
Menjadi baik artinya berbelas kasih.
Menjadi baik, artinya menyayangi.
Menjadi baik artinya peduli.
Bukan begitu.
Bukan begitu cara bermain di atas papan catur Emilia.
Jangan berekspresi. Jangan menunjukkan emosi. Jangan marah. Jangan bersedih. Jangan merasa terluka atau merasa tersiksa.
Karena kelemahan adalah musuh terbesar dari hidup seorang pemenang.
__ADS_1
Emilia membuka mata dengan tenang setelah selesai mempersiapkan diri.
Menatap bayangan hitam di depannya yang tersentak terkejut.
Sebelum dia bisa bereaksi, Emilia melempar jarum beracun ke wajahnya. Namun karena gelap dan Emilia tidak melihat jelas, jarum itu tidak menancap.
Hanya membuat dia oleng, mundur untuk menghindari.
Hal yang memang Emilia inginkan.
Reaksi dia melambat karena jarum tadi. Memberi Emilia waktu cukup untuk menendangnya keras. Memutar tangan pria itu dan merebut senjata di tangannya.
"Aku menunggumu dari kemarin." Emilia menodongkan senjata ke wajah pria bertopeng itu. "Kuberi dua pilihan. Katakan siapa yang menyuruhmu dan aku bebaskan. Atau mati setelah jarimu kuputus."
Dia memberontak. Tidak mau bersuara hingga Emilia menekan punggungnya.
"Mataku rabun parah. Jadi maafkan aku jika tidak bisa melihat jelas."
Tangan Emilia bergerak ke mulutnya ketika dia mau berteriak. Emilia tidak melihat jelas barusan. Jadi ia 'tak sengaja' menekan terlalu keras sampai terdengar suara tulang patah.
"Bicara."
"Tuan Arga," bisik pria itu menggigit. "Tuan Arga yang—"
Emilia memasukkan tangannya ke mulut pria itu, menarik keras lehernya ke belakang.
Tangan Emilia berlumuran air liur saat keluar dari mulutnya.
"Mataku rabun," ucap Emilia sekali lagi, "jadi aku tidak tahu kalau ada jarum di tanganku. Sebaiknya jangan ditelan."
"...."
"Dan lain kali jangan percaya jika seseorang berkata akan membiarkanmu hidup setelah menyerangnya. Itu kebohongan yang sangat nyata. Percaya padaku."
Emilia beranjak. Melewati tubuh yang sudah tidak bergerak itu untuk masuk ke kamar mandi.
*
__ADS_1