Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
64. Terluka


__ADS_3

Telinga Emilia berdengung. Tapi instingnya masih memerintahkan ia untuk menghindar sebelum sebuah tembakan mengenainya.


Riu tersikut oleh Argantana. Sempat kehilangan keseimbangan namun juga cepat meringkus pria itu.


"Nona."


"Aku baik-baik saja." Emilia menutup sebelah matanya yang berdarah.


Sayangnya itiitu tidak benar. Mata kanan Emilia terluka parah akibat serpihan ledakan. Tubuhnya yang ditanami cip mengirim sinyal bahaya tingkat dua pada Mahesa dan Nine sekarang.


"Kamu bermain seperti pengecut." Emilia tertawa kecil. "Menurutmu semua selesai hanya karena aku terluka?"


Tubuh Emilia ditarik ke belakang. Samar-samar ia melihat Samuel pucat pasi.


"Emilia, kamu terluka."


Telinga Emilia semakin berdengung. Ia terlalu sakit kepala untuk menolak tangan Samuel menariknya, hanya bernapas berat ketika dia gemetaran memberi pertolongan pertama.


Seluruh dunia rasanya berputar. Emilia masih mendengar suara tembakan meski tak sekeras di awal. Ia tak tahu ada apa, ia memikirkan bagaimana dengan Argantana, ia memikirkan Rowan, memikirkan kedua orang tuanya, memikirkan Mutia dan Darto yang telah tiada.


"Emilia! Sial, darahnya keluar terlalu banyak! Emilia!"


...*...


"Emilia terluka."


Mahesa juga melihat itu lewat jam tangannya. Tanda kuning berkedip-kedip menandakan Emilia terluka parah tapi tidak membahayakan organ vitalnya.

__ADS_1


Bergegas Mahesa berlari masuk, mencapai tempat Emilia berada.


"Berikan padaku."


Orang-orang di belakang Mahesa bergegas membantu memberi pertolongan. Darah keluar dari matanya, kemungkinan serpihan besar dari ledakan mengenai itu.


Gema teriakan Emilia terdengar saat Mahesa mencabut serpihak yang terlihat di sekitaran matanya.


"Tenanglah, Emilia. Pegang tanganku. Oke? Semua baik-baik saja."


Mahesa menyelesaikan sendiri pengobatan itu. Menyerahkan Emilia pada Number yang sengaja ia bawa meski tak ikut campur pada urusan malam ini.


"Jaga dia."


Mahesa melihat sekitaran. Langsung bisa menyadari Samuel menghilang.


Tak perlu ia bertanya ke mana pria itu. Mahesa memasuki ruangan Argantana, menemukan Samuel mencabut bola mata kakaknya yang berteriak dibalik tali yang mengikat mulutnya.


Sepertinya dia tak bisa dihentikan. Mahesa putuskan membiarkan dia, mulai memerintahkan semua bawahannya untuk menyebar.


Operasi pembantaian berakhir. Sekarang operasi pengambil alihan.


"Di mana Suryanata?"


"Samuel membunuhnya."


Mahesa keluar dari ruangan Samuel menyiksa Argantana, turun ke ruang bawah tanah. Tidak mungkin ia tak tahu bahwa Rangga Ahkam, sepupu Rowan Ahkam bersembunyi di sana atas perintah Samuel.

__ADS_1


"Aku akan melindungimu."


Rangga menatapnya kosong. "Paman menjaminku."


"Tidak. Samuel menyimpanmu untuk Emilia. Dia akan membunuhmu untuk memuaskan keinginan Emilia."


Dari awal, sepertinya Samuel berencana membunuh Argantana sendiri. Karena itu dia tidak memberitahu adanya peledak manual yang terpasang di bawah meja Argantana. Dia bermaksud menjadikan Rangga sebagai bentuk permintaan maaf.


"Aku akan menjamin peranmu. Samuel tidak akan menyentuh orang yang Emilia lindungi." Mahesa menarik kursi untuknya. "Tapi dengan syarat dariku."


Rangga menipiskan bibir, menghela napas berulang kali untuk menenangkan diri dari gejolak jantungnya.


Dia tahu di atas sana terjadi pembantaian. Seluruh keluarganya tanpa terkecuali. Tentu saja anak ini sulit berpikir waras sekarang.


"Menurutmu aku tidak tahu kamu memanipulasi semuanya?" balas Rangga. "Rowan membuat banyak teori tentang Ema. Sangat banyak. Salah satunya tentangmu."


Mahesa tersenyum kecil. "Aku yang mengajari dia, lagipula."


Walau tidak seintens Emilia yang besar di bawah tangannya atau Samuel yang membangun organisasi atas bantuannya, Mahesa sering menemui Rowan sejak masih kecil.


Pada dasarnya Mahesa selalu tertarik pada anak cerdas seperti Rowan.


"Katakan yang kamu inginkan, Anak Muda."


Rangga memandang lantai dengan pikiran mengawang-ngawang. "Rowan menyuruhku tidak dendam. Tapi kenapa aku harus memaklumi semuanya?"


"Karena Rowan memahami kenapa ini terjadi."

__ADS_1


"Apa? Karena kami berbuat salah? Lalu Soraya yang tidak berbuat apa-apa juga harus mati?"


...*...


__ADS_2