
Setelah mengurusi banyak kematian akhir-akhir ini, terdapat ketenangan di keluarga Ahkam. Menurut Samuel, itu jelas bukan ketenangan yang menyenangkan. Terhitung empat Ahkam yang mati bersama seorang pelayan dapur.
Ketakutan demi ketakutan jelas akan mulai membayangi ketika mereka sadar seseorang menargetkan mereka.
Tapi siapa dan apa alasannya masih belum jelas terlihat.
Malam ini Samuel rasa ia harus bertemu Ryo. Karena ia tak bisa juga meninggalkan Ema sendirian di rumah, jelas Samuel mengajaknya.
Dengan alasan ia butuh beberapa pakaian baru di butik, Samuel meninggalkan Emilia bersama Riu mengawasinya dari kejauhan.
Dalam ruangan rahasia yang mendadak dibuat sebagai pertemuan, sejumlah anak buahnya berkumpul menunggu Samuel.
"Langsung saja pada intinya." Samuel berhenti di depan proyeksi kemungkinan pelaku pembunuhan itu. Ada sejumlah nama-nama di atasnya, dan nama yang paling mencolok adalah nama Mahesa Mahardika juga Ema. "Apa sudah ada informasi mengenai Ema? Sedikit saja kontak dengan Mahesa?"
"Tidak, Bos." Ryo menjawab. "Gadis yang Bos awasi sudah kami pastikan berulang kali. Dia bersih. Tidak juga ada catatan Mahesa Mahardika pernah mengunjungi desa. Tapi ...."
"Tapi kebetulan aku terbuang ke sana lalu bertemu Ema tidak bisa diabaikan." Samuel membasahi bibirnya dan berpikir keras. "Masalahnya, pembunuhan Seline dan dua orang terakhir dilakukan di luar ketika Ema dalam pengawasan. Ada kemungkinan bukan dia."
Jika itu dia, dia harus punya kekuatan seperti Mahesa Mahardika. Karena membuat pembunuhan semulus dan sebersih itu sampai Oto pun kesulitan mengungkapnya, Samuel cukup percaya diri Mahesa saja kesulitan.
"Bisa jadi juga ini hanya propaganda Argantana. Walaupun kemungkinannya rendah." Samuel berbalik setelah mengecek seluruh tersangka. "Cari semua motif yang memungkinan mereka melakukan pembunuh, sekecil apa pun. Termasuk Ema."
"Riokai."
Tentu saja Samuel tidak bermaksud memburunya.
Samuel bermaksud untuk membantunya.
*
Dia mengadakan rapat terang-terangan di butik pakaian sambil mengajak Emilia. Hanya ada dua kemungkinan. Dia bodoh, atau dia memancing Emilia.
__ADS_1
Bahkan mudah bagi Emilia membayangkan pembicaraan mereka di dalam sana. Menilik dari karakter Samuel yang sebenarnya sangat waspada, dia pasti tetap meletakkan kecurigaan pada Emilia.
Tapi selama dia belum terhubung pada kemungkinan anak Erwin Ahkam, tidak akan ada masalah mau dia mencurigai Emilia seperti apa.
Ada satu pengawas.
Hanya satu, dari Samuel.
Dua dari Argantana.
Sisanya adalah milik Emilia yang membaur sebagai pelanggan butik.
Tapi bicara soal Samuel, Emilia belum terpikir bagaimana cara ia menarik Samuel dan organisasi Oto-nya itu. Dia nyaris tak pernah berhubungan dengan mereka kecuali saat ini. Apa, yah?
"Apa ada sesuatu yang Nona cari?"
Emilia beranjak. "Ya, aku ingin beli beberapa pakaian."
"Seperti yang dipakai artis agensi Samuel Ahkam."
"Ah, maksud Nona, Nona Nina?"
Beli agensi Samuel.
Itu sebenarnya maksud percakapan mereka.
Emilia melihat-lihat baju ditemani pegawai toko yang sebenarnya orang suruhan Mutia, hanya terus melihat dan memilih sampai Samuel muncul bersama beberapa kantong baju yang alasannya mau dia coba.
"Ema, kamu juga melihat-lihat?"
Pria itu mengisyaratkan bodyguard-nya untuk mengambil kantong belanjaan sebelum mendekati Emilia.
__ADS_1
"Belilah beberapa. Aku akan memberimu pekerjaan berat sebagai gantinya."
Emilia benci harus mendengar kalimat itu, tapi ia mengangguk semata demi kelancaran rencana.
Keinginan Mahesa menguasai Oto harus jadi kenyataan apa pun risikonya.
*
Samuel diam-diam tersenyum ketika Ema sungguhan membeli pakaian tanpa protes. Pikir Samuel dia akan kembali bilang 'aku bukan pengemis' atau sejenisnya. Tapi itu pun itulah.
Apa yang perlu Samuel lakukan hanya memikirkan pekerjaan apa yang harus ia minta Emilia kerjakan.
"Ema, bagaimana jika—" Tunggu, jangan bertanya.
Ema selalu memberi reaksi dingin jika Samuel bertanya. Mungkin dia akan bilang 'tidak' jika Samuel bertanya 'bagaimana kalau kita makan malam'.
"Aku lapar." Langsung saja. "Ayo mampir ke restoran dulu, Ema."
Aku sudah tahu bagaimana menanganinya. Samuel tersenyum-senyum polos ketika Ema melirik tajam padanya.
Karena itu bukan pertanyaan, maka tentu saja Ema yang merupakan 'pembantu'nya tidak bisa berkata tidak.
Tapi senyum Samuel berubah masam ketika tiba di restoran, Ema hanya membuka buku catatannya, tak tertarik sedikitpun menatap meja.
Dia tak memesan. Dengan alasan, "Tidak layak pembantu makan dengan majikannya di meja yang sama."
Orang yang menatap majikannya seperti sampah memang layak?
Tapi, makin dia menolak rasanya justru makin Samuel ditarik.
Menggemaskan.
__ADS_1
*