Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
73. Ibu Dari Anakku


__ADS_3

Samuel menggeleng sambil telinganya terus mendengar percakapan Dwi ran Emilia dari ruangan Nine.


Iya. Samuel sudah tiba di sini, dua hari yang lalu. Ia merindukan Emilia jadi Samuel berencana mengawasinya dari dekat tanpa suara.


"Aku lelah mendengar gadisku memikirkan senior dan senior." Samuel melepaskan headphone-nya kasar. "Padahal Mahesa menyuruh dia hidup bebas. Selalu saja senior."


"Siapa yang harus dia pikirkan, menurutmu?" tanya Nine dengan nada main-main. "Orang tua yang tidak pernah dia lihat? Samuel Ahkam yang membawanya ke kediaman Ahkam, tempat dia harus bertemu pembunuh orang tuanya yang bertanggung jawab atas kesendiriannya? Atau mungkin Darto dan Mutia yang mati tanpa dia tahu dan kamu membakarnya?"


Ya, mungkin bukan Samuel. Mungkin memang Mahesa, satu-satunya yang mengajari dia cara bertahan hidup meski sendirian.


Tapi Samuel ingin Emilia menerima dirinya sendiri.


Gadis itu tidak memandang dirinya sendiri. Dia terus menyebut senior dan senior, hanya senior, karena dia tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri.


Samuel beranjak keluar, berharap napasnya lebih tenang.


Tidak. Samuel tahu rasanya tidak ingin hidup untuk diri sendiri. Ia anak haram. Satu-satunya alasan kenapa Suryanata tak membunuhnya adalah karena Mama mengancam Suryanata.


Dia mengancam akan membeberkan hal itu ke media. Karena itu Samuel hidup. Lalu ia tumbuh, besar di tangan Mahesa sampai punya organisasi, jadi mafia terkenal.


Dirinya berganti status. Dari anak haram, jadi alat perang.


Tidak mudah mencintai diri sendiri saat sekitaran rasanya tidak mencintai kita.


Aku kalah dari Rowan. Samuel menekan bibirnya satu sama lain. Emilia memikirkan Rowan karena anak itu memahami dia. Aku tidak.


"Kamu tidak menghampiri Emilia?" Dwi menghampiri sesuai perintah Emilia.


"Tidak hari ini."

__ADS_1


...*...


Emilia membawa catur barunya ke makam Rowan untuk merenung. Kepalanya dipenuhi banyak hal tentu saja.


Uang yang harus ia kumpulkan, klasifikasi anggota yang harus ia siapkan, rencana matang yang harus ia petakan, dan berbagai pencegahan dari berbagai kemungkinan buruk terjadi.


"Kamu berkata muak pada Ahkam." Emilia bermain catur seraya bergumam pada makam Rowan. "Aku mengetahui Ahkam sebaik aku mengetahui Nugraha. Dan keluarga elitis lainnya. Jika ada satu alasan muak pada mereka, itu adalah idealisme."


Tentu saja tak ada yang menjawab.


"Menurutmu ada sesuatu yang baik jika aku membangun organisasi semacam itu? Aku akan menargetkan para elitis itu. Jika ditanya apa agar orang miskin bisa sedikit kaya, maka tidak. Aku hanya muak melihat mereka berkuasa."


"...."


"Kamu membenci kesendirian, Rowan? Aku membencinya. Keheningan. Tapi aku benci keributan. Aku tidak menyukai satu dari keduanya."


Suara ombak dan angin kencang mengaburkan pendengaran Emilia. Satu-satunya hal yang ia andalian sejak matanya digelapkan.


"Dwi?" Itu bukan Dwi. Emilia mencabut plaster di tangannya, mengeluarkan jarum beracun. "Aku akan membunuhmu jika mendekat."


"Maka lakukan."


Emilia tersentak. Jarum di tangannya jatuh saat sepasang lengan melingkari tubuhnya, disusul aroma yang ia tahu milik siapa.


"Lepas."


Samuel malah menenggelamkan wajah di bahunya. "Aku merindukan boneka cantikku."


"Hah?"

__ADS_1


"Kamu bonekaku. Boneka mainan." Samuel terkekeh. Mengecup punggung tangan Emilia dan berlama-lama di sana. "Aku datang karena kamu memanggilku. Atau Nine berbohong?"


Emilia menghela napas. Tapi segera menggeleng.


Ditarik tangannya dari Samuel, berencana memegang caturnya lagi jika Samuel tak menangkap tangannya.


"Aku harus menjelaskan rencanaku, jadi lepas."


"Hm? Katakan saja seperti ini. Aku akan mendengar tanpa simulasi."


Emilia berdecak. Walau pada akhirnya ia bicara. Tentang inti dari keinginannya, kerja sama bersama organisasi Samuel, tanpa campur tangan Mahesa sama sekali.


"Aku akan menurutmu dengan satu syarat."


"Senior menyuruh kita—"


"Seniornu sudah tidak ada di antara kita, Emilia. Bisakah sekali saja kamu tidak menyebutkan dia?"


"Kamu menghina Senior?"


"Tidak." Samuel meletakkan keningnya pada sisi wajah Emilia. "Aku berterima kasih karena dia memberiku kamu."


Emilia tidak menyukai bagaimana perutnya mendadak mulas. Atau mungkin jantungnya yang luruh? Tidak. Mungkin mataku yang berdenyut.


"Baiklah, apa?"


"Jadi ibu dari anakku."


...*...

__ADS_1


__ADS_2