
Samuel menahan senyum pada bagaimana Emilia berusaha keras bersabar. Mungkin dia sangat jengkel, Samuel tahu, tapi pada dasarnya Emilia sudah berkata iya.
Iya pada kerja sama mereka artinya iya pada permintaan Samuel. Setidaknya bagi Samuel.
Dia masuk ke kamar tidurnya yang sebenarnya adalah kamar tidur Samuel di markas ini. Dibiarkan saja Emilia beristirahat sampai esok hari, lalu ia datang membawa makanan.
"Asistenku adalah Mutia. Kenapa harus kamu yang menggangguku?" kata Emilia langsung.
"Karena aku mau." Samuel membungkuk. Mengecup bibir Emilia sekilas dan gadis itu tak peduli.
Tak merasa harus pundung karena hal itu, Samuel mendorong meja kecil di atas paha Emilia. Lalu ia duduk di belakangnya, meraih rambut panjang Emilia.
"Makanlah sementara aku mengepang rambutmu."
Emilia berdecak jengkel. Tapi tetap meraih sendok dan makan.
Hanya hening yang mewarnai mereka. Samuel fokus menyisir perlahan rambut Emilia, kemudian membagi-baginya untuk dikepang.
"Apa yang harus dilakukan hari ini, Emilia?"
"Paling utama adalah menjauh dariku."
Samuel pura-pura tidak dengar. "Bagaimana dengan bunga? Kamu ingin menanam bunga? Aku menyuruh Riu membuat taman bunga di bagian Timur markas. Ada banyak jenis bunga di sana."
Gadis itu menoleh, lengkap dengan mata dinginnya. "Apa penolakanku terdengar lucu bagimu?"
"Lalu aku harus apa, Emilia?" Samuel mengusap jejak kecil makanan di sudut bibirnya. "Aku sedang menarik perhatianmu. Seperti anjing kecil yang menjulurkan lidahnya agar diperhatikan."
__ADS_1
"Kamu menyebut dirimu sendiri anjing."
"Itu adalah hewan peliharaan yang menjadi saingan kucing. Atau kamu lebih menyukai kucing?" Samuel menciup kecil telinganya. "Aku bisa jadi apa pun."
Saat dia menatap Samuel dengan penuh keyakinan Samuel tidak waras, itu justru jadi alasan ia tertawa.
Bercanda bukan bagian dari sifat Samuel. Tapi kalau menggoda Emilia harus lewat cara ini, ia punya seribu satu kata untuk dilontarkan.
Agar matanya memandang Samuel, dan pikirannya teralihkan dari si Senior Brengsek itu.
"Finish." Samuel merapikan dua kepangannya ke masing-masing bahu Emilia. "Hmmm, look at this. Pretty girl with a pretty hair."
"Just shut the f*ck up."
Samuel tersentak. Meski sejurus kemudian ia tersenyum. "Aku terlalu naif saat itu."
"Harusnya aku tahu mana mungkin gadis desa bisa menatap orang lain semudah itu. Ternyata memang bukan gadis desa biasa."
Aksen Inggrisnya fasih. Kentara dia terbiasa. Mengingat bagaimana Emilia dulu hanya diam menjadi bahan gosip warga desa, pergi mencuci di pinggir sungai dan apa pun itu, Samuel jadi merasa aneh.
"Emilia, setelah ini berakhir, ayo pergi ke luar negeri."
"Pergilah sendiri."
"Aku serius." Samuel menggeser duduknya agar lebih mudah menatap wajah Emilia. "Ayo pergi ke tempat kamu bisa bersantai. Untuk apa kembali ke desa itu lagi?"
Emilia meliriknya, lalu menatap lurus pada makanan di mangkuk yang Samuel berikan.
__ADS_1
Mungkin Samuel tidak tahu bagaimana rasanya. Atau dia tidak peduli.
Desa itu adalah tempat Emilia lahir. Ia besar di sana. Sangat-sangat lama di sana. Tidak semudah itu ia bisa melupakan tempatnya, pergi ke negeri lain seperti kata dia.
"Hentikan omong kosongmu." Emilia menyisihkan makanan itu. "Panggil Darto dan Mutia."
"Emilia—"
"Aku akan membunuhmu jika kembali menciumku kecuali kamu menuruti perkataanku."
Samuel langsung beranjak. "Kamu harus membalasnya."
"Samuel."
Emilia berusaha keras tidak melempar jarum beracun sungguhan. Untungnya Samuel cukup mengerti untuk memanggil orang yang Emilia butuhkan.
Tapi ....
"Aku memanggil Mutia dan Darto. Bukan anak buahmu."
Ekspresi Samuel nampak tidak baik. Dan Emilia tidak bodoh untuk mengenali itu.
Ada kabar buruk.
"Ada apa? Mana Mutia dan Darto?"
Ryo menundukkan kepala. "Mereka tewas, Nona Muda."
__ADS_1
...*...