Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
65. Pergi Dari Hidupku


__ADS_3

Mahesa agak menyayangkan yang mati adalah Rowan. Anak itu layak dipelihara, setidaknya dibanding Rangga.


"Kedewasaanmu dan Rowan berbeda." Mahesa melipat tangan, bersandar santai menatap anak remaja itu. "Jika kamu bertanya, kenapa kamu mengalami ini? Maka jawabannya adalah karena Argantana dan Surayanata berbuat salah."


"Lalu jika—" Rangga ingin membalas, tapi terpotong oleh Mahesa begitu saja.


"Dan jawaban itu mengundang pertanyaan lain: mengapa kesalahan Surayanata dan Argantana terlimpahkan pada kalian yang tidak tahu-menahu soal apa pun?"


Mahesa mengisyaratkan orang di belakangnya pergi mengambil air. Anak itu nampak mulai tertekan oleh pikirannya sendiri.


"Jawaban dari itu, Anak Muda, manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individual," ucapnya. "Saat kamu memiliki anak dan istri, uang yang kamu cari susah payah juga milik mereka. Tapi saat kamu kesusahan dan terlilit hutang, itu masalahmu dan bukan masalah temanmu. Bahkan jika dia temanmu."


Anak itu terdiam.


"Saat Argantana membunuh orang lain, kalian sama sekali tidak tahu. Ya. Saat perusahaan milik Argantana memetik buah, kalian menikmatinya. Mengerti maksudku?"


"...."


"Argantana membunuh seseorang sejak lama. Berbagai jenis orang, dengan alasannya sendiri. Lalu salah satu dari keluarga orang itu datang mengacaukan Argantana, maka pertanyaannya, siapa yang salah dan siapa yang patut dibenarkan?"


Mahesa menerima botol air, menyodorkannya pada Rangga.


"Jika itu Rowan, maka dia tidak sibik memikirkan siapa yang salah atau siapa yang harus dibenarkan. Karena ketika seseorang disalahkan, tidak berarti sistem dunia berubah atau sesuatu akan berbeda."


Rangga termenung.

__ADS_1


"Jadi jika aku harus menasehatimu, berhenti mengurusi salah siapa, benarkan siapa. Karena ini tentang siapa yang harus berhenti. Kamu ingin berhenti mengalami siklus yang sama?"


Mata itu memandangnya dengan kemelut di benak dia dan hanya dia yang tahu separah apa itu.


"Atau ingin membalas Ema, lalu suatu saat orang yang mencintai Ema datang padamu, membunuhi keluargamu sampai tersisa seseorang lagi, dan seseorang itu mencari keluarga Ema lagi, lalu membunuhnya dan tersisa seseorang lagi, mencari kamu lagi, dan begitulah sampai kiamat terjadi."


Rangga terpaku menerima botol air minum itu.


"Melihat dunia bukan hanya dengan hatimu, Dasar Anak Kecil. Segala sesuatu tidak harus selalu kamu suka, kamu nyaman, kamu bahagia. Ada delapan miliar orang yang tidak mau terluka di dunia ini. Menurutmu hanya dirimu sendiri yang spesial?"


...*...


Emilia tak ingat kapan dirinya tak sadarkan diri, tapi ketika ia sadar, matanya tak dapat melihat apa pun. Ujung jemarinya bergerak, merasakan sesuatu seperti genggaman tangan seseorang.


"Senior?"


Mulut Emilia bungkam. Sejenak mengambil waktu untuk menguasai dirinya. Ingatan demi ingatan bermunculan di kepala Emilia.


Termasuk ingatan ketika ledakan itu terjadi, ia berlindung, namun matanya terkena serpihan dari ledakan.


"Emilia." Napas Samuel terasa berat di tangannya Dia mengecup tangan Emilia berulang kali. "Katakan sesuatu. Beritahu aku."


Emilia merasa pening dengan kegelapan ini. "Ada apa dengan mataku?"


"Kamu terluka akibat ledakan."

__ADS_1


"Aku tahu. Hanya mata kanan."


Samuel terus mencium tangannya. Ritme napas dia seakan lega. "Mata kirimu juga terkena, tapi tidak begitu parah. Untuk sekarang, istirahatkan mereka."


"Lalu mata kananku buta?"


"Emilia."


Jadi begitu. Bagian terakhir yang tidak direncakan. Karena Nine juga tidak memberitahu apa-apa, berarti dia pun tak mengetahui ada pemicu ledakan di bawah meja Argantana yang terhubung dengan bagian depan mejanya.


Kemungkinan memang dibuat sejak lama. Untuk situasi apa pun, termasuk kedatangan Emilia.


"Panggilkan Nine."


"Istirahatlah, Emilia. Bukan waktunya mengurusi itu." Samuel menggenggam tangannya erat. "Ahkam sudah hancur. Kami menyisakan Rangga, dan Mahesa sudah menyetujuinya."


Begitu saja? Semua berakhir begitu saja?


Emilia mengetatkan rahangnya saat justru merasa emosional.


"Panggil Senior."


"Emilia—"


"Jika kamu tidak mau mendengarku, Samuel Ahkam, pergi dari hidupku."

__ADS_1


...*...


__ADS_2