
"Tapi aku menunggu manusia yang datang." Emilia membuka jendela, dan membuang makhluk itu setelah menarik jarumnya lepas. "Dengan begitu aku tahu siapa pengirimnya."
Tidak ada kehadiran seseorang di sekitar sini.
Hanya ....
Tok tok tok.
"Ema."
Dia merespons sinyal dari sensor di bawah tempat tidur.
Berarti bukan Samuel, kah?
Tidak. Masih ada kemungkinan, namun kecil kecuali dia tahu identitas Emilia.
Emilia membuka pintu kamarnya. Menatap tenang Samuel yang kini hanya memakai jubah tidur hitam.
"Kamu butuh sesuatu?"
Tentu saja Emilia harus bertingkah seakan tidak tahu soal sensor di bawah kasur.
Matanya mengamati. "Ya." Dan tidak menemukan apa-apa. "Aku agak kesulitan tidur. Minuman yang kamu berikan waktu itu, bisakah buatkan aku?"
"Tentu."
Emilia keluar tanpa menutup pintu kamarnya. Ia sudah mengantongi kotak kecil penawar racunnya, jadi tidak akan ada apa-apa.
"Kamu belum tidur, Ema?"
"Sulit tidur."
"Apa kamarmu kurang nyaman?"
"Tidak juga."
Emilia agak sulit melihat karena semua gelap dan ia tak memakai kacamata. Tapi telinganya jadi sensitif mendengar ritme langkah Samuel.
Manusia itu ... mudah dibaca jika tahu rumusnya.
__ADS_1
Jika ekspresi tak bisa menunjukkan, langkah kaki pun sebenarnya sudah bisa.
Ada kebingungan, kewaspadaan, pertanyaan dalam nada langkah Samuel.
Tidak ada niat buruk, setidaknya dari yang terdengar.
Argantana adalah tersangka utama.
Mengirim ular di malam pertama, bisa jadi hanya memastikan, bisa jadi juga sangat serius.
Lengan Emilia terasa kebas.
"Di mana rempahnya?"
Samuel membuka lemari di atas mereka dan mengeluarkan beberapa toples berisi rempah-rempah. "Buatlah juga untukmu kalau mau."
Lengannya baru saja disuntikkan penawar kimia, jadi Emilia tidak butuh obat alami dulu. Dibuatkan saja satu gelas untuk Samuel, teh rempah yang diberi perasan jeruk nipis dan madu.
Tapi ....
"Aku tidak tahu memakai kompor ini."
Kompor gas Emilia tak punya, apalagi kompor listrik.
"Air panas bisa kamu ambil dari sini, sebenarnya." Dia menunjuk benda serupa kulkas di dekat kulkas. "Ini namanya dispenser. Jadi ambil air panas dari sana saja."
Jadi begitu.
Dispenser yang Emilia pernah lihat model lama dan tidak semewah ini.
Meski ia diam, menyeduh minuman untuk Samuel.
"Sudah?"
".... Aku juga lapar."
Dia tahu seseorang mengincar Emilia. Dan dia bermaksud menahannya di sini untuk sementara.
"Aku harus masak apa?"
__ADS_1
Samuel menatap kompor seolah berpikir. "Kurasa aku juga harus mengajarimu beberapa masakan kota. Maafkan aku, jika kamu tersinggung. Maksudku—"
"Aku mengerti. Lalu?"
Pria itu sejenak diam. Lalu beranjak membuka kulkas bahkan tanpa menyentuh minuman yang Emilia buatkan dulu.
Sudah jelas. Dia tidak butuh itu.
"Kurasa bisa dimulai dengan yang instan dulu. Makaroni keju, bagaimana dengan itu?"
"Terserah padamu."
"Aku mengajakmu makan bersama, Ema. Jadi katakan kalau kamu tidak suka."
"Aku tidak tahu apa yang disebut makaroni."
Emilia tidak berbohong. Ia tahu keju dan tentu saja sering makan jika Mutia membuatkannya sandwich pagi hari, tapi makaroni tidak.
Bukannya sombong. Emilia seumur hidup tidak pernah makan steak, tidak tahu rasa spagetti, dan cuma pernah makan burger keju sekali.
Kalau dia mau mengajak Emilia bicara mengenai fungsi satu per satu dari anatomi tubuh manusia, atau tentang reaksi kimia otak terhadap emosi, atau komposisi racun dari yang teringan sampai yang mematikan, Emilia bisa.
Kalau dia bicara makanan, Emilia tidak bisa. Ia cuma tahu makanan yang pernah liat di desa dan pasar malam.
*
Ternyata ada orang yang tidak tahu apa itu makaroni.
Samuel sampai bingung haruskah ia terkejut atau tertawa.
Memang sih desa Ema tinggal agak—atau mungkin sangat terpencil.
Jalanan masuk ke sana penuh lubang dan tidak diaspal, berjarak sangat jauh dari jalanan raya. Kalau dinggat lagi, Ema tidak punya televisi.
Tidak punya handphone. Tidak punya apa-apa sepertinya sampai dia tanpa ragu datang bersama Samuel hanya bermodal tas usang, beberapa lembar pakaian, dan kacamata juga buku catatan tipis.
Mungkin memang ada manusia yang tidak tahu makaroni?
*
__ADS_1