
"Mereka datang."
Emilia langsung mengeluarkan persediaan jarum beracunnya. Dari luar sana mulai terdengar suara tembakan beruntun, dan Samuel memantau pergerakan dari layar yang terhubung dengan CCTV lorong tempat ini.
"Aku akan mengurus mereka. Duduklah, Emilia."
"Ini urusanku." Emilia mengikat rambutnya tinggi-tinggi. "Duduk dan diam saja."
"Tapi, Emilia, kamu tidak perlu—"
Sebuah jarum terlempar nyaris mengenai wajah Samuel. "Selanjutnya tidak akan meleset. Diam dan duduk."
Tak peduli apa pun yang dia katakan, Emilia mempersiapkan dirinya. Ia berdiri diam beberapa waktu, mengecek jam di dekat meja komputer sisa di atas meja Nine.
Mereka terlihat cukup baik. Emilia hanya spontan menilai pergerakan penyerangnya. Kemungkinan Ahkam mengerahkan tim khusus.
Sesuai dugaan, hanya butuh waktu lima menit, pintu ruangan mereka didobrak paksa.
"Baiklah." Emilia melempar kacamatanya. "Ayo selesaikan sebelum aku bosan."
Bersamaan dengan itu, sejumlah jarum beracunnya melayang. Emilia menangkis serangan pria pertama yang menyerangnya, berputar menendang pria lain sekaligus mematahkan lengan pria pertama.
Mereka tidak menggunakan senjata di pinggang mereka. Sebab Argantana mau Emilia dan Samuel diseret hidup-hidup ke kakinya.
Mata Emilia tak dapat melihat jelas, tapi dengan begitu telinganya tajam mendengar pergerakan di sekitar. Ia menangkap tangan pria yang coba mencekiknya, menancapkan jarum beracun untuk menghindari pertarungan sia-sia.
Satu per satu dari mereka tumbang. Namun tiba-tiba tubuh Emilia ditarik, bersamaan dengan peluru melesat, mengenai besi meja Nine.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud ikut campur." Samuel mengecup bibirnya. "Hanya sekarang sisakan untukku."
Suara teriakan terdengar. Emilia melirik ke bawah, menemukan satu tangan Samuel memegangi pistol aneh yang Emilia kenal salah satu senjata buatan Mahesa.
Itu terbuat dari kramik dan tidak memakai mesiu.
"Aku tidak suka memakai pistol, terus terang. Benda ini membuatku terlihat seperti pengecut." Samuel terkekeh. Meletakkan pistol itu di tangan Emilia. "Pelurunya adalah jarum. Gunakan jarummu di sini, Emilia."
"...."
"Tapi tolong jangan arahkan padaku."
Samuel benar-benar orang terbodoh yang pernah Emilia lihat. Dia memberikan pistol lalu minta jangan dibunuh. Meski Emilia memang tidak berniat melakukannya.
Ia duduk. Membiarkan Samuel bertarung dengan tangan kosong.
Emilia memejam. "Satu orang."
Perkataan Samuel terbukti ketika suara tembakan lebih keras terdengar. Telinga Emilia semakin tajam dengan matanya terpejam, jadi ia bisa langsung mengenali suara itu.
Gila. Itu bukan suara pistol lagi. Itu senjata mesin kaliber besar.
Tapi ketika suara mengerikan itu masih terdengar, nampaknya Samuel memulai tariannya. Emilia dapat mendengar suara sayatan, jerit rasa sakit dan tempo langkah tak beraturan.
Posisi duduk Emilia masih tenang. Tak bergerak meski ia merasakan pergerakan di belakangnya.
Karena hanya butuh dua tarikan napas, bau darah menyegat di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu sangat dingin, Emilia." Samuel berbisik di bibirnya. "Aku sedang menari untukmu tapi kamu menutup mata. Bagaimana jika seseorang melukaimu? Aku bisa membunuh Mahesa jika itu terjadi."
"Berhenti bicara omong kosong dan selesaikan urusanmu."
"Sudah selesai."
Emilia membuka mata. Menemukan lima belas pria tergeletak di lantai, terbagi dengan luka sayatan dan mati karena racun Emilia.
"Hanya mereka?" Ia beranjak, sementara Samuel datang menyeret pria yang tidak menerima luka apa pun. "Dia?"
"Hadiah dariku." Samuel menyengir. "Kamu ingin mencincangnya?"
"Berhenti berbuat bodoh." Emilia akan menyampaikan pesan lewat pria ini. "Sepertinya bagian luar juga selesai."
"Tidak, masih ada." Samuel menjentikkan jarinya. Memunculkan Ryo yang memang diminta untuk diam mengamati dari dekat. "Bawa pria ini."
"Tidak perlu. Tinggalkan saja." Emilia menyisipkan sepucuk surat ke kantong pria itu. "Ayo pergi."
Samuel langsung melemparnya. Menyusul langkah Emilia sambil melepaskan sarung tangannya yang berlumur darah.
"Emilia, kamu lelah?"
"Berhenti cerewet, Samuel."
Tapi Samuel malah tersenyum mendengar Emilia menyebut namanya.
*
__ADS_1