Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
48. Tidak Terpilih


__ADS_3

"Aku menyukaimu."


Rowan mengulas senyum kecil pada ekspresi kaget Ema atas pernyataannya.


"Aku menyukaimu sejak awal, mungkin saja." Ia mengungkapnya dengan jujur. "Kamu membuatku mengingat ibuku. Itu membuatku selalu merindukanmu."


Ingatan Rowan tentang ibunya tentu saja mengenai saat-saat terakhir wanita itu. Dia terbaring sakit, lemah tak berdaya. Rowan datang memegangi tangannya, berusaha tidak menangis meski ia juga ingin berteriak seperti Soraya.


"Putraku, dengarkan Mama." Adalah apa yang beliau katakan di antara berat napasnya. "Jangan mempercayai wanita."


Rowan tak mengerti saat itu.


"Jangan percaya pada wanita. Siapa pun itu. Jangan meletakkan hati pada mereka kecuali pada adikmu. Dengar, Rowan. Wanita itu penipu. Mereka manipulatif, egosentris, akan melakukan apa pun, apa pun caranya, agar apa yang mereka inginkan tercapai. Jangan percayai wanita. Jangan bahkan istrimu kelak. Hanya adikmu, mengerti? Hanya adikmu."


Mungkin ibunya benar. Wanita adalah makhluk penipu dan manipulatif. Tapi Mama tidak pernah sekalipun berkata bagaimana caranya agar tidak jatuh.


Dan Rowan telah jatuh.


"Ada sesuatu yang harus kamu lakukan."


Karena itu, setelah bertemu Ema, Rowan langsung mendatangi Rangga.


Sepupunya itu tampak kosong, tak bisa menyembunyikan kemelut dalam dirinya atas kematian Soraya.


"Apa?" Rangga bertanya lemah.


Membuat Rowan datang mendekatinya, menatap lurus kedua matanya. "Pergilah pada Paman."


"Hah?"


"Pergi dan sembunyikan dirimu di belakang Paman."


Rangga terheyak. Tapi dia bukan orang bodoh atau baru mengenal Rowan. "Jangan katakan itu Paman Samuel."


Tentu saja ... Rowan mengangguk. "Aku ingin kamu hidup."

__ADS_1


"Berhenti bercanda, Rowan. Aku tahu Soraya—"


"Aku sudah bilang padamu keluarga ini memuakkan." Rowan menelan ludah, berusaha untuk tetap tenang menyampaikannya. "Aku sudah bilang keluarga semacam ini pada akhirnya akan hancur."


Rangga mengerutkan kening dalam. "Bukan dia."


"Itu dia." Rowan berusaha keras bernapas teratur. "Itu Ema."


"Rowan, dia hanya gadis desa—"


"Apa kamu berpikir aku bersantai-santai saat tahu adikku mati? Aku tahu. Tidak perlu bertanya kenapa. Aku tidak ingin memberitahu siapa pun dan begitu pula kamu. Itu Ema."


"Rowan."


"Dengar." Rowan mencengkram kuat-kuat bahu Rangga. "Berjanji padaku satu hal."


"Rowan."


"Tolong, Rangga."


Sesuatu menusuk Rangga akibat nada itu, tapi ia akhirnya mengangguk. "Apa?"


...*...


Anak itu sudah tahu.


Matanya memperlihatkan itu.


Kemarahan, kesedihan, keraguan. Rowan Ahkam sudah tahu semua adalah perbuatan Emilia. Tapi sampai esok hari dia masih diam.


Seisi rumah hanya berduka atas kepergian Soraya tanpa ada satupun orang melirik Emilia.


Tentu saja, penyidik didatangkan. Meski Emilia tak tahu bahwa yang datang adalah Rashi Anuja.


"Aku sedang mendalami studi criminal minds atas suruhan Kakak." Itu yang Rashi katakan ketika giliran Emilia dimintai keterangan di ruangan tertutup. "Mereka teman-temanku. Termasuk pria di belakangku."

__ADS_1


Emilia melihat sekilas pria muda itu dan menebak usianya masih berada di sekitaran usia Samuel. "Apa yang Senior katakan?"


Rashi hanya tersenyum. Tapi pria di belakangnya bersuara. "Kamu terlihat merasa bersalah, Ema—atau Emilia?"


"Aku tidak merasa bersalah," bantahnya cepat.


"Benarkah? Bukankah kamu berpikir 'untuk apa membunuh Soraya padahal tidak seperti Idrus yang berbuat salah padamu, atau Seline yang mati jauh darimu, Soraya mati karena manipulasi Nine di tanganmu'?"


Emilia melirik Rashi. "Sudah kubilang tidak."


"Kamu merasa bersalah." Rashi menautkan tangan di bawah dagunya. "And it's totally normal, Emilia."


"Apa Senior memintamu mengatakan itu?" Emilia mendadak gelisah. "Jika sesi pertanyaan ini formalitas, maka aku akan keluar sekarang."


Dan Rashi tidak mungkin mengemban tugasnya sekarang jika membaca emosi Emilia saja dia tak bisa. Wanita muda itu membiarkan Emilia berdiri, tapi tidak membiarkan Emilia pergi.


"Kakak—maksudku, suamiku, Mahesa Mahardika, hanya menganggapmu alat dagang. Kamu mengetahui itu."


Emilia mengeraskan rahangnya. Mengepal tangan kuat-kuat saat mendengar suara kursi berderak, yang menandakan Rashi beranjak.


"Emilia, kamu mengetahui dengan pasti posisimu di matanya, tapi kamu menerimanya. Mengapa? Karena cinta? Itu hanya alasan sepuluh persen. Kamu tahu loyalitasmu tidak akan sia-sia diletakkan di tangan Mahesa."


Rashi menarik bahunya lembut. Menatap wajah Emilia yang pucat.


"Kamu tahu kenapa Mahesa harus menikahi wanita lain lagi setelah lima tahun pernikahan kami? Karena aku tidak mumpuni mengemban tugas berat sebagai istrinya. Aku tidak masalah. Tidak menolak sedikitpun. Dan aku bisa mengetahui alasan kenapa mengapa Mahesa memilih seseorang, mengapa tidak."


Sekarang Emilia jelas bisa tahu apa yang akan dia katakan.


"Kamu tidak mumpuni."


Napas Emilia memburu.


"Karena itu Mahesa tidak mengharapkan banyak hal. Apa yang Mahesa inginkan dari semua ini? Bukan apa yang kamu lakukan, tapi apa yang Samuel lihat darimu."


Dengan kata lain, apa pun yang Emilia lakukan selama ini, tidaklah memberi arti atau bobot bagi posisinya di mata Mahesa.

__ADS_1


Ia masih tak terpilih.


*


__ADS_2