Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
30. Tidak Murahan


__ADS_3

Samuel menatap kedekatan Ema dan Rowan dari kejauhan.


Sejujurnya ia sudah tahu bahwa Rowan menaruh perhatian aneh pada Ema. Mungkin, sama seperti Samuel, dia pun terpikat oleh kesan misterius gadis itu. Tapi yang membuat Samuel diam adalah sikap Ema.


Dia tak seramah itu denganku.


Mungkin tidak seharusnya Samuel membanding-bandingkan sesuatu seperti itu. Walau demikian, rasanya menyebalkan melihat Ema bersikap lebih baik pada Rowan daripada Samuel sendiri.


Tapi Samuel jadi tahu satu hal. Nampaknya Ema menyukai bunga.


Jadi esok hari ketika Samuel bertemu Ema, dengan sengaja ia memberikan sebuket bunga segar.


"Ada banyak hadiah dari penggemarku." Tidak sepenuhnya bohong. "Kulihat kemarin kamu menghabiskan waktu dengan Rowan di taman bunga, jadi kamu mungkin akan menyukainya."


Ema menatap bunga di tangan Samuel dengan sorot mata menilai. Bukan Samuel tidak tahu bahwa Ema punya kebiasaan mengamati sebelum bertindak.


Memamg terlalu tajam untuk ukuran gadis desa yang seharusnya polos.


"Berikan itu pada orang lain. Aku tidak butuh." Ema berlalu, pergi meninggalkan Samuel begitu saja.


*


Samuel Ahkam itu pria menyebalkan.


Padahal seharusnya sekarang dia ditekan oleh agensinya agar muncul ke publik. Bahkan Emilia juga sudah memberi isyarat agar sesuatu masalah dibuat agar mau tak mau Samuel disorot, memaksanya untuk keluar meninggalkan Ahkam agar Emilia bisa bebas bergerak.

__ADS_1


Aku membeli agensinya hanya untuk itu. Tapi pria itu punya wajah mulus bersih.


Apa hubungannya? Ya, dia tidur nyenyak setiap malam yang berarti dia tidak peduli.


"Argantana mulai bersikap tenang belakangan." Emilia menopang dagu saat memikirkan situasi keluarga Ahkam. "Jika terlalu cepat dibunuh aku malah akan cepat keluar dari ini. Si Brengsek itu belum menunjukkan celah."


Oto.


Selain waktu mereka di butik hari itu, Samuel sedikitpun tidak menyentuh organisasinya lagi. Samuel juga anak didikan Mahesa, jadi tidak heran kalau dia menciptakan sebuah kelompok yang cukup mandiri bergerak tanpa pimpinan mereka.


"Celah." Emilia bergumam kosong memandangi taman bunga yang terlihat dari kamarnya.


Mau tak mau ia ingat Samuel mendadak memberinya bunga.


Haruskah ia sebut itu celah?


*


Samuel hanya fokus memindahkan tanaman mawar ke pot kecil yang berencana ia berikan pada Ema.


Iya, Samuel ogah menyerah. Ema memang seperti itu, pikir Samuel, jadi untuk apa ia terlalu membawa ke hati sikapnya?


Tidak mungkin juga Samuel kalah dari keponakannya yang baru berusia belasan tahun.


"Sam, dengarkan aku sebentar saja! Jika tidak ingin kariermu berakhir, setidaknya angkat telfon atasanmu!"

__ADS_1


"Beritahu saja Maura kalau aku patah tulang."


"KAMU PIKIR MAKAN DI RESTORAN DENGAN PEMBANTUMU BISA JADI PENYEBAN PATAH TULANG?!"


Samuel mengangkat bahu cuek. Ternyata mereka tahu bahwa kemarin ia dan Ema keluar. Meski begitu Samuel tidak terlalu peduli.


Menyanyi bukan hobinya. Jadi penyanyi juga bukan impiannya. Samuel hanya menerima tawaran Maura—orang yang katanya atasan Samuel—lalu mengikuti arus.


Belakangan ia jadi malas pergi dan Samuel bukan tipe yang suka memaksakan diri.


Ia akan keluar kalau Ema terlihat butuh keluar. Tapi setelah kejadian di Lombok hari itu, Samuel rasa di luar dan di dalam rumah sama saja.


Ema akan tetap bosan.


"Kamu jelas sudah gila menaruh ketertarikan pada gadis kampung itu."


"Hmmm, mungkin saja."


"Sekarang kamu menjawabku?"


"Aku menyukai Ema atau tidak, itu urusanku, Nina." Samuel beranjak meninggalkannya. "Dan apa alasanku tertarik padanya jugalah urusanku."


Nina yang mendapat kalimat itu hanya mengeraskan rahangnya kesal. Selalu saja sama. Apa yang menarik dari gadis desa menjengkelkan itu?


Jangan bilang dia menghabiskan malam dengannya jadi terpikat? Nina berpikir demikian, tapi langsung menepis pikiran itu karena tersadar.

__ADS_1


Samuel tidak semurahan itu untuk dirayu, ia rasa.


*


__ADS_2