
Emilia turun meski tidak tahu di mana dapur. Diam saja dan mencarinya kesana-kemari.
Pasti tidak jauh juga.
"Apa yang kamu cari?"
Emilia menoleh pada suara yang sama seperti ketika dirinya jatuh tadi pagi. "Dapur," jawabnya singkat.
"Di sana." Pemuda itu menunjuk ke arah yang Emilia datangi barusan. "Ujung lorong itu, berbelok ke kanan. Dapur di sana."
Pantas saja.
Emilia melangkah ke sana, namun terhenti oleh suara Rowan lagi.
"Siapa namamu?"
".... Ema."
"Jika tidak ada yang Paman perintahkan, setelah selesai di dapur, bawakan aku beberapa buah. Aku di halaman belakang."
"Baik."
Kenapa anak itu seperti menaruh perhatian pada Emilia? Seolah dia tahu ada sesuatu yang harus dia lihat dibelakang punggung Emilia.
Sedikit Emilia mencurigai bahwa Ahkam tahu identitasnya, tapi segera ditepis pikiran itu sebab Mahesa Mahardika tidak akan membiarkan Emilia berada di sini jika ia benar-benar dalam bahaya.
Masih dalam kondisi agak kurang enak badan, Emilia mengikuti arah yang Rowan beritahukan dan bertemu dapur.
Besar sekali dapurnya. Penuh dengan alat-alat asing bagi Emilia. Tapi Emilia pernah diminta jadi tukang cuci piring saat pernikahan anak kepala desa dulu, jadi setidaknya Emilia tahu cara menggunakan wastafel.
"Samuel menyuruhku mencuci piring." Emilia memberitahu orang-orang yang heran akan kehadirannya.
Lalu ia mulai bekerja, dan terbiasa abai pada tatapan penuh tanda tanya.
Ada perasaan waspada yang tiba-tiba meningkat mengikuti insting Emilia. Pembantu di ruangan ini sekitar lima orang.
Ada satu tatapan yang bukan cuma mengandung pertanyaan, tapi pengawasan.
__ADS_1
Siapa?
Orangnya Samuel?
Emilia bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Pura-pura tidak tahu meski tenggorokannya tercekik oleh tatapan penuh pengawasan itu.
Cukup banyak yang perlu dicuci, tapi tangan Emilia sudah terbiasa.
"Rowan menyuruhmu membawakan buah ke halaman belakang. Apa ada buah yang tidak dia makan?"
Seorang wanita menatapnya tak terlalu senang. "Tuan Muda tidak pilih-pilih makanan."
Jadi dia sama juga. Menekankan Emilia untuk memanggil Rowan Tuan Muda.
Tidak.
Tidak bisa.
Satu-satunya orang yang lebih tinggi bagi Emilia dalam hidupnya hanya Mahesa.
Emilia akan mengabaikan itu. Membuka kulkas untuk mengambil makanan, lalu keluar dengan pengawasan ketat yang tidak berakhir.
*
Ternyata dia memanah.
Emilia memutari sekitaran rumah untuk menemukan Rowan Ahkam sedang menarik busur panah, melesatkan anak panah ke papan target.
Dia tepat mengenai bagian tengahnya.
Mata Emilia diam-diam menilai.
Lengan Rowan lebih besar daripada anak remaja seusianya. Mungkin sejak berusia belasan tahun dia sudah terbiasa melatih otot.
Proporsi otot lengannya juga terlihat kuat, sementara kekuatan busur panah yang dia gunakan agak terlalu rendah.
Kenapa dia tidak menaikkan kekuatan busurnya?
__ADS_1
Emilia meletakkan buah di atas meja dekat botol air Rowan. Ingin langsung pergi karena ia lapar, tapi pemuda itu berbalik karena menyadarinya.
"Hei."
Emilia menoleh.
"Terima kasih." Dia mengedik pada buah yang Emilia bawa seolah mempertegas maksud terima kasihnya. "Dan maafkan ucapan adikku padamu. Dia tidak bermaksud buruk. Soraya hanya oosesif pada Paman Sam."
Apa sudah?
Emilia mengangguk sekilas, pergi dari sana karena tidak ada gunanya ia bicara pada Rowan.
*
Kelopak mata Emilia terpejam tenang. Napasnya berembut teratur sebelum tiba-tiba ia memukul bagian samping tempat tidur, agak sedikit terkejut menemukan ular di sana.
Jarum beracunnya tertancap, tapi ular itu menggeliat dan mematuk lengan Emilia.
Dilempar makhluk itu ke lantai, bergegas mencari kotak penawar di balik bantalnya.
Racun.
Kalau resistensi Emilia terhadap zat berbahaya tidak tinggi, ia mungkin akan mati dalam beberapa detik.
Lengannya langsung mati rasa, hingga cepat-cepat Emilia menyuntikkan penawaran, setidaknya untuk meminimalisir efeknya.
Diluar dugaan. Pikir Emilia yang datang adalah pembunuh.
Ia sudah menunggu sejak merasakan tatapan mengintai di siang tadi, tapi ternyata mereka mereka mengirim ini sebagai pembukaan.
"Mungkin aku harus berterima kasih?" Emilia turun, menginjak kepala ular yang telah mati itu.
Dia hanya hewan yang dilepas untuk mencari mangsa. Meski begitu, dia menyentuh Emilia.
Segala yang berani menyentuhnya tidak boleh pergi kecuali tergantung di neraka.
*
__ADS_1