Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
63. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Gema teriakan yang berwarna.


Emilia berdiri di atas tembok pagar keluarga Ahkam, menyaksikan dari berbagai sudut nampak bayang-bayang orangnya membantai semua orang malam ini.


Sudah lama Emilia menunggu ini. Berhenti pura-pura bodoh, berhenti pura-pura tak bisa melakukan sesuatu.


"Apa yang kamu pikirkan, Emilia?"


Emilia melirik Samuel. "Rowan," jawabnya jujur. "Aku penasaran apa yang dia pikirkan melihat semua ini."


"Kamu menyukai Rowan?"


"Mungkin saja." Emilia melompat turun. Beranjak pergi tanpa menunggu Samuel yang langsung ikut melompat, menyusul langkahnya.


"Emilia, jangan katakan—"


Nyaris bersamaan dengan ucapan Samuel, hujan peluru memborbardir mereka. Emilia tak memakai kacamata, karena itu ia mendengarnya dan berlindung gesit. Tapi Samuel tetap memeluk Emilia, menutup telinganya dari ledakan mesiu senapan.


"Jangan katakan sesuatu yang membuatku menyesal tidak membunuh Rowan, Emilia."


Apa ini situasi yang tepat membahasnya? "Minggir."


"Aku cemburu—"


Samuel menggeram kesal pada siraman peluru selanjutnya. Dia bahkan tak memakai rompi anti peluru, jadi Samuel harus serius menghindar atau dia mati tertembak.


Namun kalau dilihat, pria ini sepertinya lebih jengkel pada kenyataan dia mau bicara sementara tembakan mengganggunya.


"Emilia." Suara Nine tiba-tiba terdengar. Emilia melirik robot kecil di bahunya, tak merasa harus bertanya sejak kapan itu ada.


"Situasinya?"


"Argantana tidak bergerak dari ruang kerjanya. Kurasa dia menunggumu."

__ADS_1


"Aku akan ke sana." Emilia berjalan cepat. "Di mana saja?" tanya Emilia, mengenai jebakan atau kemungkinan peluru menunggu mereka.


"Persimpangan di depanmu."


Berkat itu Emilia berhenti. Merampas sebuah vas bunga untuk dilempar di arah dirinya akan berjalan.


Benda itu pecah di udara oleh hujan peluru.


Sementara Emilia berjalan santai. Keamanan sistem di rumah ini lemah. Karena itu sejak awal hingga akhir Nine mengendalikannya.


"Selanjutnya?"


"Tidak ada. Berjalanlah sampai ke ruangan Argantana. Tapi tingkatkan kewaspadaanmu. Ada senapan kaliber besar."


"Argantana belum bergerak?"


"Belum terlihat ada pergerakan. Kutebak dia tidak berencana melakukan apa-apa. Dia menunggumu."


Samuel membuka cermin kecil di tangannya yang sengaja diambil dari spion mobil. Lewat cermin itu, dia mengintip bagian depan ruangan Argantana.


"Riu."


"Akh, sial." Samuel menggeram. "Untuk apa dia membuat hal bodoh itu jika dia menunggumu? Pria merepotkan."


"Dia sejenis dengamu jadi diam saja." Emilia mengeluarkan pistol kramik pemberian Samuel. Tadinya ia tak berniat menggunakan ini kecuali benar-benar darurat, tapi apa boleh buat ia harus menggunakannya sekarang.


Emilia tak mampu melihat jelas bidikannya. Tapi satu hal yang Emilia tahu.


Mata ini ... tidak pernah mengacaukan bidikan Emilia.


"Nine."


"Sudah selesai. Hanya tersisa beberapa orang di sisi Argantana."

__ADS_1


"Riu." Samuel langsung memberi isyarat agar bawahannya pergi.


Emilia berdiri. Bermaksud untuk pergi juga saat Samuel tiba-tiba berkata, "Aku harus pergi ke sudut lain rumah ini. Emilia, jangan terluka."


Dia .... Yah, tidak perlu juga dibahas, sih.


Emilia membiarkan Samuel pergi. Menumbangkan dua orang pria yang berniat menyeretnya.


Pintu telah terbuka oleh Riu. Emilia menendangnya terbuka lebih lebar, spontan melempar tiga buah jarum ke masing-masing pria di dalam sana, sebelum mereka sempat memberi tembakan lagi.


Kini tersisa Argantana.


Yang duduk tenang menyaksikan segalanya.


"Saya bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis yang dibawa Samuel." Argantana masih santai padahal Riu di belakangnya, siap menembakkan peluru kapan saja Emilia memberi isyarat. "Ternyata putri dari Erwin. Harusnya aku mengenali wajahmu."


Emilia mengamati sekitaran. Berjaga jika ada senjata atau apa pun itu yang disembunyikan Argantana hingga dia begitu tenang.


Ataukah dia sudah siap mati?


"Aku tidak datang untuk Erwin Nugraha." Emilia mencabut plaster di lengan kirinya, tempat jarum khusus untuk Argantana malam ini. "Aku datang untuk dua seranganmu malam itu."


"Serangan?"


Emilia mengangkat alis. "Begitu. Jadi kamu lupa? Padahal aku sengaja mengonsumsi antidot dosis rendah agar racunnya bertahan lama di tubuhku."


Pria itu masih tenang. "Jadi bukan Samuel yang membunuh ular itu?"


"Sejujurnya aku memahami kenapa." Di tangan Emilia, kini terdapat botol mini berisi cairan racun mematikan. Sambil terus berbicara, ia menunjukkan pada Argantana proses jarumnya menerima racun. "Kamu menganggapku sebatas alat, karena aku terlihat tidak berguna. Aku akan melakukan hal sama jika aku di posisimu."


"...."


"Tapi sayangnya aku berada di posisi alat yang menurutmu bisa dibuang stau dijadikan alat mengetes Samuel." Emilia membuang botol yang telah kosong. "Aku pun merasakan hal sama, Argantana. Kamu ... hanya mainan."

__ADS_1


Bersamaan dengan Emilia siap menancapkan jarum, lantai di bawah Emilia meledak.


*


__ADS_2