
"Regu yang Anda kirim, seluruhnya habis."
Argantana tidak terkejut mendengarnya. "Informasinya?"
"Laporan terakhir mengatakan ada dua kelompok dalam tempat itu, antara kelompok Samuel Ahkam dan kelompok yang diduga milik gadis itu."
"Identitasnya?" tanya Argantana, sedikit berharap.
"Belum diketahui, Tuan. Tapi kami menemukan ini." Asisten Argantana mengeluarkan secarik kertas di atas meja.
Kertas putih itu jelas sudah diselidiki. Di atasnya terdapat tulisan tangan rapi kaligrafis, mengatakan : kamu seperti buah busuk yang berjatuhan di atas tanah untuk dimakan ulat.
Tertanda, Samuel.
Ekspresi Argantana berubah.
"Kami menemukan sidik jari di kertas ini sama dengan sidik jari yang ada di sisa barang gadis bernama Ema itu, Tuan. Kami menyimpulkan benda ini ditulis olehnya."
"Bawa dia." Argantana bergumam rendah. Tapi sesaat kemudian, tangannya menggebrak meja disusul sebuah gema teriakan marah. "SERET DIA KE DEPANKU!"
Beraninya wanita tidak berguna bermain-main.
...*...
"Kamu terluka."
Emilia tidak terlalu memedulikan itu. Hanya luka biasa lantaran ia baru saja bertengkar dengan banyak pria. Justru sangat luar biasa jika Emilia tak mendapat luka sama sekali.
"Aku memintamu menjaga dirimu, Emilia." Samuel membalut kain kasa pada lebam di pergelangan tangan Emilia. "Kamu selalu saja bertindak ceroboh."
__ADS_1
"Aku sudah bilang berhenti cerewet."
"Aku akan berhenti cerewet jika kamu pun menjaga dirimu." Samuel malah membalas. Tidak seperti biasanya.
Dia lantas beranjak dari posisi berlutut mengobati Emilia, pindah untuk duduk di atas meja depan sofa tempat Emilia duduk.
Mereka sekarang menempat di markas baru lagi. Namun, ini bukan tempat Emilia melainkan Samuel. Tadinya Emilia mau protes setelah mereka sampai, sayangnya Samuel sudah lebih dulu mengomel.
"Aku tidak suka melihatmu terluka, Emilia. Tidak bisakah kamu mengerti?"
"Tubuhku bukan milikmu."
"Aku mau menjadikannya milikku."
Emilia tercengang. Bicara apa hama ini? "Aku tidak akan—"
"Kamu ingin mati?"
"Bersamamu? Dengan senang hati."
Pepatah berkata jangan mendebat orang bodoh dan orang gila. Sembilan puluh sembilan persen pepatah memang benar.
Emilia memalingkan wajah. Enggan mendebat orang gila ini daripada ia tertular kegilaan.
"Panggil Mutia dan Darto kemari."
"Tidak bisakah kita berduaan untuk beberapa waktu? Kamu selalu saja memikirkan Ahkam dan Ahkam."
Orang gila ini masih berceloteh.
__ADS_1
"Ayolah, Emilia. Kamu bukan anak kecil. Ayo lakukan sesuatu yang lebih bersifat dewsasa dan menguntungkan kedua belah pihak, daripada memikirkan hama seperti Ahkam."
"Ya, hama. Kawananmu."
Samuel menahan lengannya agar Emilia tidak beranjak. "Tetap di sini."
Apa sih orang ini? Kemarin rasanya dia tak sampai seperti ini. Jangan bilang dia besar kepala hanya karena Emilia membolehkan Oto bergabung dengannya?
Memang dia pikir—
"Aku menyukai matamu yang jujur menghinaku di dalam sana." Samuel kembali membelai wajahnya. "Emilia-ku."
"Berhenti menyebut namaku dengan kesan semacam itu, dasar gila."
"Kamu baru menyadarinya?" Samuel malah membalas lebih menyebalkan. "Aku sudah gila sejak awal karenamu."
Orang menjijikan ini. Kenapa Senior harus menjodohkan aku dengan dia?!
"Menjauh dariku, Samuel Ahkam. Ini peringatan terakhir."
Pikir Emilia dia memang harus diracuni dulu baru paham apa arti penolakan. Tapi untungnya Samuel langsung patuh, membiarkan Emilia beranjak.
Walau dia ikut beranjak.
"Aku hanya mau memberitahumu di mana kamar terbaik."
Cih. Pria menjengkelkan.
*
__ADS_1