
Murahan.
Emilia jarang berinteraksi dengan pria jadi ia tak paham tapi bukankah Samuel Ahkam ini terlalu murahan? Bunganya ditolak, sekarang dia memberi pot bunga.
"Ambilah, Ema." Dia memberikannya seolah-olah itu wajar memberikan pot bunga pada pembantunya. "Letakkan di jendelamu."
Menolaknya akan merepotkan. Tapi menerimanya juga menjengkelkan. Apa lagi-lagi harus ia terima lalu ia buang?
"Ema." Samuel menyentuh kulit punggung tangannya saat Emilia menerima benda itu. "Tolong jangan membuangnya."
Cih. Jadi dia tahu.
"Aku sudah bilang berikan saja pada orang lain." Emilia terpaksa harus memegangnya karena Samuel mendesak. Tapi ia tak akan pasrah begitu saja. "Sebenarnya apa maumu?"
Samuel mengerjap, lalu tersenyum dengan kesan dia tahu wajahnya sangat tampan. "Aku hanya ingin membuatmu nyaman."
Kenapa Senior bisa kesulitan menghadapi makhluk murahan ini? Itu yang Emilia pikirkan, sekilas. Yah, tentu saja aku bisa tahu ada kepalsuan dari sikapnya.
Samuel Ahkam adalah penipu. Dia bisa sangat alami tersenyum dan memikat, padahal dalam hatinya sungguh tidak peduli bahkan kalau dunia hancur.
Apa kumanfaatkan saja?
__ADS_1
"Baiklah." Emilia melunakkan sikap. "Terima kasih."
Padahal hanya terima kasih, tapi dia langsung tersenyum lebar.
"Katakan sesuatu jika kamu membutuhkannya, Ema. Aku akan berusaha."
Yang seharusnya berusaha adalah pembantu. Emilia berbalik, mengabaikan Samuel karena meski ia 'berusaha' rasanya masih memuakkan jika harus bersikap terlalu baik.
...*...
Emilia mendengkus sebal ketika mengetahui dua hari lagi akan ada perayaan ulang tahun untuk Soraya. Artinya Emilia terpaksa harus bekerja ekstra menyiapkan segalanya untuk orang menjengkelkan yang selalu minta diperhatikan.
Mau tak mau Emilia harus menahan sabar. Mulai ikut menyiapkan apa yang diperlukan untuk anak perempuan Argantana itu.
"Matamu rusak atau otakmu yang sedang mati?! Sudah kubilang bersihkan lantainya dulu sebelum mengerjakan hal lain!"
Mataku memang rusak, Emilia bergumam dalam hati saat kembali menyapu ulang lantai. Kacamatanya di atas jadi ia tak bisa tahu lantainya bersih atau tidak. Apalagi jika hanya kotoran kecil dan debu, mustahil bagi Emilia melihat.
"Ema, kamu melewatkan bagian ini lagi!"
Dari kejauhan, Soraya tersenyum puas.
__ADS_1
Dia yang meminta pelayan agar membully habis-habisan gadis itu, tidak perlu peduli alasannya apa, yang jelas dia harus kesusahan sebagai bayaran dimanjakan oleh Samuel.
Akhir-akhir ini juga Soraya melihat bukan hanya Samuel, bahkan gadis itu mulai menggoda Rowan.
Orang desa tidak tahu diri.
"Apa yang kamu lakukan?"
Soraya menoleh, lalu menyahut bangga, "Menyiksa pelayan Paman."
Rangga melihat gadis itu dari kejauhan, mau tak mau menghela napas lelah.
Kecemburuan Soraya karena Samuel memerhatikan satu hal memang menakutkan. Entah Soraya sadar atau tidak sadar, tapi Rangga dan Rowan memang tahu Samuel itu tidak peduli pada siapa pun, termasuk Soraya.
Mungkin, meski tidak sadar, dia merasakan itu samar-samar dan langsung memberontak ketika Samuel memperlihatkan kepedulian pada orang baru.
Dia akan bereaksi apa kalau tahu Samuel dan Rowan sama-sama sedang melihat Ema sekarang?
"Soraya, jangan mengganggu orang lain tanpa alasan jelas. Lagipula bukan berarti gadis itu kekasih Paman Sam sekarang."
Tapi Soraya membuang muka. "Dia bertingkah sombong hanya karena Paman sedikit bersikap baik. Aku sudah berbaik hati memberinya keringanan dengan ini."
__ADS_1
"Jika Paman marah, kurasa kamu yang akan menyesal."
*