Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
78. Menanti


__ADS_3

Sebelas bulan kemudian.


"Bukankah sudah kubilang jangan berkeliaran tanpa penjaga?" Samuel berucap marah dengan suara rendah. "Aku benar-benar akan mengikatmu di tiang tempat tidur jika tidak mendengarku, Emilia."


Emilia hanya diam. Dapat mendengar suara ribut Nine dan Dwi yang melupakan umur mereka, bermain perang-perangan di layar televisi bersama kontroler.


"You didn't even listen to me, Ema. Please."


Tak dapat melihat apa-apa, tapi Emilia mendengar Samuel mendekat. Menyentuh perut besar Emilia dibalik dress hitamnya.


"Aku mengkhawatirkan kalian." Samuel meletakkan keningnya di perut Emilia. "Kamu bisa terjatuh atau terbentur atau apa pun itu jika berjalan sendiri. Aku tidak meremehkanmu, Sweetheart, tapi ini dan itu berbeda."


Ya, dia marah karena Emilia pergi ke dapur sendirian mengambil air.


Hanya itu.


Sebenarnya Emilia tidak terlalu benci. Mungkin karena ia terbiasa. Hidup tanpa penglihatan membuat Emilia mau tak mau harus mengandalkan penglihatan orang lain.


Emilia menolak mata yang bisa digunakan menggantikan mata rusaknya. Bukan karena apa pun. Untuk alasan pribadi, Emilia merasa sesuatu lebih mudah dalam kegelapan ini.


"Jangan diam saja."


"Maaf." Emilia mengulurkan tangan ke wajah Samuel. "Aku sengaja melakukannya agar kamu marah."


Tentu saja bohong. Emilia haus dan ia berpikir mngambil airnya sendiri karena sudah hafal setiap sudut ruangan di rumah ini.

__ADS_1


"Aku akan marah dengan cara paling kejam jika itu harus." Samuel meremas kecil tangannya. "Jangan berkeliaran seperti kucing liar, oke? Dua orang itu tidak dibayar agar bermain game setiap waktu."


Emilia tahu cara paling ampuh menbujuk Samuel.


"Ayo pergi ke rumahmu. Aku sedang ingin mendengar Mama bercerita."


Jelas saja Samuel langsung mengabaikan insiden tidak penting 'dilarang ke dapur sendirian bahkan untuk minum air'.


Dia memegang tangan Emilia, menuntun jalannya sambil memegangi perut Emilia seokah itu akan tumpah.


Pria ini punya penyakit paranoia yang parah.


"Kamu merasa sakit?" tanyanya, untuk kesekian kali.


"Sam, perkiraan kelahiran tidak selalu benar."


"Maka berarti lewat tiga hari." Emilia menghela napas. "Dia tidak akan kabur ke luar angkasa, mengerti?"


"Aku hanya tidak sabar bertemu putriku. Memangnya aku salah?"


"Entahlah. Tanyakan itu padanya nanti jika dia keluar. Mungkin dia lelah mendengarmu."


Samuel mau tak mau tertawa. Membuat Emilia ikut tertawa kecil, mulai menaiki tangga teras yang berarti mereka tiba di kediaman Samuel.


Sejak kehamilannya, Emilia memang menetap di markas bersama Nine dan Dwi. Rumah Samuel terlalu berbahaya ketika Emilia tak melihat apa-apa. Mata kiri Emilia hanya sedikit cidera. Rabun parah, tapi ia putuskan membutakan keduanya dengan menutup mata.

__ADS_1


Jadi berbahaya berkeliaran di rumah yang memiliki banyak tangga seperti ini.


"Ma, Emilia merindukan Mama."


Suara langkah kaki tergesa-gesa langsung terdengar. Disusul tubuh Emilia terkubur dalam pelukan khas ibunya Samuel.


"Putriku yang cerdas, kamu masih bisa berjalan? Seperti biasa, kamu mengagumkan."


Emilia duduk penuh kehati-hatian di sofa. "Aku sudah bicara pada dokter dan bidan. Senior akan mengirim mereka hari ini."


"Itu melegakan," balas Mama senang. "Tapi memang tidak ada yang salah terus berjalan. Mama akan membantumu menstimulasi nanti."


"Anakku mungkin kesal karena seseorang terus mendesak dia keluar."


"Manisku, jangan pancing pertengkaran di depan Mama."


Emilia tersenyum kecil. "Bisakah Mama membantuku? Aku ingin belajar beberapa hal. Perasaanku sedikit kacau karena hormon."


Karena matanya tak berfungsi, Emilia meminta bantuan ibunya Mahesa untuk belajar.


Hal yang paling Emilia sukai dari kondisinya adalah, ia terlatih mengingat apa yang ia dengar. Otaknya jadi semakin terlatih mengingat sejak ia tak bisa melihat tulisan. Karena itu Emilia senang mendengar pelajaran, terutama selama kehamilan.


Ia berharap anaknya ikut mendengar itu.


Karena secara jujur, yang menanti dia bukan hanya Samuel. Tapi juga Emilia.

__ADS_1


...*...


__ADS_2