
Samuel menelan ludah panas pada tatapan dalam Ema. Matanya yang selalu dingin penuh misteri itu kini memandang Samuel dengan tekanan anehnya.
Sejak kecil, mungkin Samuel adalah anak yang sombong. Ia selalu menganggap segala hal mudah. Tapi ditatap oleh mata milik gadis dingin berhati batu ini ternyata lebih sulit dari segala hal yang pernah ia lalui.
"Ema." Tanpa sadar, Samuel malah sudah memegang lengan dekat sikunya, semakin mengikis jarak di antara mereka. "Ema, aku—"
Tidak. Belum waktunya.
Tapi Samuel merasa tak berdaya. Perasaannya terlalu meluap hari demi hari ia bersama Ema.
Kening Samuel berkerut, menahan sesuatu dalam dirinya meledak yang mungkin malah mengacaukan banyak hal sekarang.
"Ada sesuatu yang sangat ingin kukatakan padamu." Samuel bergumam rendah. Mengepal tangannya agar tak sampai kelepasan mendekap Ema tanpa izin. "Dan akan kutanyakan nanti. Kuharap kamu menjawabnya, saat itu."
"...."
Samuel tak bisa mengendalikan diri hingga keningnya menempel pada pelipis Ema. Ia menarik napas panjang, sekaligus merasakan aroma khas Ema yang seperti wangi cengkeh.
Aku merasa gila. Samuel mundur segera. Tersenyum seolah tak terjadi apa pun.
__ADS_1
...*...
"Samuel Ahkam kemungkinan masih perjaka."
Mahesa langsung tersenyum kecil mendengar Nine berkata demikian. Tentu saja itu bukan ramalan. Itu data yang Nine kumpulkan sejauh yang dia bisa dan tak menemukan ada satu saja waktu Samuel Ahkam meniduri seorang wanita di dalam kamar.
Mungkin kecuali kamar tidurnya. Bagian itu tidak bisa diretas karena Samuel bahkan menonaktifkan ponselnya saat masuk ke kamar pribadi.
"Menurut pengalamanku mengamati Emilia, sikap Samuel menyebalkan dan terlalu terang-terangan."
"Menurut pengalamanku mengamati wanita, sulit untuk tidak terpikat pada Samuel." Mahesa mengangkat bahu. "Tapi itu pun tergantung bagaimana Emilia menanganinya."
"Yah, misterius hanya tentang kecerdasan dan kebodohan." Karena rasanya tidak ada yang penting untuk didengar, Mahesa melepaskan headphone dari telinganya. "Lalu, mari bicarakan soal Argantana Ahkam itu."
"Kamu akan menuruti perkataan Emilia soal itu?"
"Kenapa tidak? Argantana itu cerdas. Memprovokasinya mencurigai Samuel juga tampak tidak berarti. Jadi kurasa biarkan saja dia tahu bahwa ada orang luar sedang bermain."
"Kamu dan Emilia sama saja." Sama-sama tidak tahu cara bersabar untuk hal yang mereka anggap tidak terlalu penting. "Jika terlalu cepat runtuh, peluangmu mendapatkan Oto bukannya menurun?"
__ADS_1
Mahesa menopang dagu dan tergelak melihat layar di depannya. "Bukankah karena itu perjodohan atas dasar keuntungan menjadi solusi di banyak kesempatan?"
Haruskah Nine kasihan pada Emilia karena meletakkan kepercayaan pada bajingan ini?
Tapi mungkin tidak perlu, karena Emilia bukannya menolak jika Mahesa sudah mengatakan sesuatu.
Mungkin tanpa harus Mahesa melakukan hal ini—menjodohkan Emilia dan Samuel lewat cara berbelit-belit—Emilia juga akan berkata baiklah asal Mahesa yang berkata.
"Apa yang kamu lakukan?" Nine bertanya karena tiba-tiba Mahesa menarik kibor ke depannya, dan mulai mengacak-acak mainan Nine. "Hei, benda ini mahal."
"Ya, karena aku yang membelinya."
Cih. "Sekarang kamu berganti profesi menjadi sutradara sinetron?"
"Aku memang genius yang bisa segalanya." Mahesa tersenyum puas, mengirim berbagai foto dari berbagai angel yang menampilkan sosok Samuel seolah tengah mencium Emilia.
Tujuan Mahesa jelas cuma satu.
Menciptakan masalah untuk melihat kelanjutan hubungan keduanya.
__ADS_1
...*...