
Jika ada satu hal yang Rowan rasa hanya bisa dilakukan Ema, maka itu adalah menyembunyikan segala hal dibalik wajah. Dia terlalu tenang. Agak terlalu tenang dan tidak peduli seakan tak ada emosi dalam dirinya.
Orang seperti ini berbahaya, terlepas dari Ema itu pelaku atau hanya kebetulan dia terseret padahal tidak tahu-menahu.
"Orang-orang akan mulai mengganggumu lebih dari ini." Rowan sengaja mengatakannya untuk memancing emosi Ema. "Mereka akan mulai membencimu tanpa alasan. Berdiri di samping Paman adalah kesalahan, itu yang ada di pikiran mereka yang tidak bisa melakukannya."
"Aku tidak peduli." Ema sedikitpun tidak terpengaruh. "Jika mereka mau mengambil Samuel, ambil saja. Aku tidak butuh."
...*...
"Aku yakin itu dia."
Soraya terus bergumam kesal meski Nina kini duduk di seberangnya, menelepon berbagai pihak yang dia bisa untuk menghilangkan berita mengerikan di media.
"Aku yakin Ema atau siapa pun dia itu melakukannya! Aku tidak percaya seseorang hidup tanpa ponsel! Dia menyembunyikannya!"
"Tenanglah, Soraya. Untuk sekarang, mari perhatikan gosip menyebalkan itu dulu," balas Nina.
Nina juga luar biasa kesal. Terlepas dari apakah Samuel mencium Ema atau apa pun itu, jelas memang kemarin dia mengajak pembantunya sendiri keluar saat dia terus menolak tawaran kerja.
Dan bagian paling-paling menyebalkan adalah, Samuel Ahkam sedikitpun tidak peduli pada bagaimana dunia berputar.
Dia masih santai-santai di kamarnya, entah melakukan apa, karena intinya dia yakin dia hidup bahkan kalau dunia kiamat!
"Halo?" Nina langsung menjawab cepat ketika panggilan masuk datang dari mata-mata yang ia sewa khusus menyelidiki Ema.
"Halo, Babydoll."
__ADS_1
"Hah?"
Di ujung lain sana, Nine menggoyang-goyangkan kaki dengan tangan tersibukkan oleh kontroler playstation. "Aku ingin sedikit memberimu kuliah singkat."
Suara-suara dari layar televisi terdengar memenuhi ruangan rahasianya.
"Pertama, tempatkanlah sesuatu benar-benar pada tempatnya. Jika ingin memancing sesuatu sebesar bulan di langit, maka orang tolol berharap tali dapat menarik bulan jatuh ke bumi."
Nina terhenyak. Jelas langsung menyadari ini bukan mata-mata yang telah ia bayar. "Who the f*ck you are?!" [Siapa kamu?!]
"Well, they call me Higanbana. But it doesn't really matter because I just want you to know that : two, Ema was my precious girlfriend. You touch her, you die. Including her background." [Yah, mereka memanggilku Higanbana. Tapi itu tidak penting karena aku hanya ingin bilang bahwa: dua, Ema adalah kekasihku. Sentuh dia, kamu mati. Termasuk latar belakangnya.]
Nina langsung berdiri. "Aku tahu itu dia! Siapa kamu?! Kamu pikir akan lepas begitu saja setelah melakukan ini?!"
Tapi di seberang sana, Nine sudah memutuskan sambungan telepon, terkekeh atas keusilannya.
...*...
"Sam! Samuel! Samuel, buka pintumu!"
Samuel selalu punya alasan tidak membuka pintu kamar meski sebenarnya ia cuma duduk diam. Itu karena kepalanya baru benar-benar beroperasi sempurna saat sendirian dan tenang. Jadi ia tak mau membuka pintu kamar sampai nyaris dua menit Nina menggedor-gedor pintu tanpa henti.
"Aku sudah bilang jangan—"
"Ema bukan orang desa!" Nina langsung mendorong ponselnya pada Samuel. "Lihat dan lacak sendiri. Aku menyuruh mata-mata menyelidiki dia tapi baru saja seseorang meneleponku dan berkata dia kekasih Ema."
"...."
__ADS_1
"Kamu tidak percaya? Soraya, beritahu Sam."
"Itu benar, Paman." Soraya mengerutkan wajah sangat dalam. "Semuanya perbuatan Ema! Semuanya salah dia! Kekasihnya yang melakukan itu!"
Samuel menghela napas. "Baiklah. Akan kuselidiki."
"Hah?!" Nina malah bereaksi semakin keras. "Hanya itu?! Hanya itu saja?!"
"Lalu aku harus apa?"
"Pertama tarik gadis penipu itu keluar dan ikat dia kuat-kuat atau buang dia ke laut! Menurutmu apa yang dia lakukan sendirian di kamarnya saat kamu pun mengurung diri di kamarmu, Sam?! Demi Tuhan, berhenti memandang sesuatu tidak penting dan buka matamu sebentar!"
Sejujurnya Samuel tidak suka mendengar seseorang bicara dengan nada tinggi.
Tapi kali ini nampaknya Nina dan Soraya serius. Mereka terus berteriak sampai seluruh orang rumah berkumpul, hanya untuk mendengar cerita bahwa Ema pelaku di balik foto-foto tersebar itu.
Samuel hanya diam. Bukan tak mau bicara. Mereka yang terlalu banyak bicara sampai Samuel tidak mau membuka mulut lagi.
"Ema! Ema, keluar sekarang juga! Ema!"
Di samping Samuel, Rangga dan Rowan berdiri. "Paman tidak menghentikannya?"
"Apa yang harus dihentikan?"
Memangnya Ema dalam bahaya?
...*...
__ADS_1