Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
49. Peduli Setan


__ADS_3

Nine menopang dagu seraya tersenyum kecil mendengar perkataan Rashi.


Mereka sama-sama sudah tahu Emilia memahaminya. Tapi gadis kecil itu mencoba tidak memperlihatkan, mencoba melakukan sesuatu semata agar Mahesa memperhatikannya.


Bukan soal cinta, melainkan soal keinginannya sendiri.


"Dia masih punya hati." Nine menjatuhkan lehernya pada sandaran kursi. "Rasa bersalahnya terlihat, maka dia akan terlihat tidak berguna bagi Mahesa. Emilia-ku yang malang."


Di layar itu, Rashi masih bicara pada Emilia.


"Aku tahu Ahkam telah berbuat salah padamu. Aku pun sudah mengerti bahwa mereka akan ditiadakan nanti. Tapi, Emilia, jangan lakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan, hanya untuk Seniormu. Lakukan itu karena alasanmu sendiri."


Jadi karena itu Rashi mengajukan permintaan agar dia yang menangani kasus ini. Sepertinya dia ingin membebaskan Emilia dari belenggu kepercayaan berlebihannya pada Mahesa.


Bukan karena tidak boleh, namun karena itu tidak berguna.


Mahesa sudah memutuskan siapa Emilia sejak awal.


...*...


"Sam." Nina menarik tangan Samuel agar menoleh padanya. "Apa tidak sedikitpun kamu curiga gadis itu pembunuh?"


Pikiran Samuel lebih tertuju pada Ema di dalam ruangan, tengah diintrogasi oleh penyidik.


Meski Samuel tahu bahwa Rashi Anuja adalah wanita baik yang—intinya dia tidak berbahaya, tapi Samuel tahu Rashi adalah wanita yang tajam.


Dia dididik oleh Mahesa sejak berusia sebelas atau dua belas tahun. Matanya terlatih untuk melihat emosi di otot wajah manusia.


Bahkan Samuel kesulitan jika berhadapan dengannya.


"Sam!"

__ADS_1


"Aku tidak tahu." Samuel terpaksa menoleh pada Nina. "Aku tidak tahu, Nina. Bagaimana aku tahu? Dan berhenti peduli pada siapa yang mati. Aku tidak terluka dan itu cukup."


"Tapi bagaimana kalau—"


"Aku tidak terluka." Samuel menekan kalimatnya. "Aku, tidak, terluka. Jadi siapa pun yang mati, peduli setan."


Samuel beranjak. Menunggu di depan pintu ruang interogasi sebelum menghela napas lega ketika akhirnya Ema muncul.


"Kamu baik-baik saja?" Samuel perlu memastikannya. "Ema, ada sesuatu yang Rashi tanyakan?"


Gadis itu hanya berlalu, meninggalkan Samuel begitu saja.


Jelas ada sesuatu. Tapi sebelum Samuel mengejarnya, ia memutuskan untuk masuk.


"Apa yang terjadi?"


Rashi tersenyum kecil. "Tidak masalah. Dia hanya merasa tertekan karena situasi. Biarkan dia sebentar."


Meski rasanya bukan cuma itu, Samuel memutuskan terima. Menarik kursi di depan Rashi sebagai orang selanjutnya yang ditanyai.


"Itu pertanyaanmu?"


Rashi mengangkat bahu. "Apa menurutmu aku datang karena mencurigaimu?"


Jelas bukan.


Samuel menghela napas sebelum menghilangkan seluruh sandiwara di wajahnya. Ia sedang berhadapan dengan wanita yang membuat seorang Mahesa Mahardika menikahinya meski dia tidak berguna.


"Aku merasa Mahesa sedang meremehkanku." Itu adalah provokasi.


Tapi Rashi tak memakan provokasinya. "Kamu tahu ini bukan soal meremehkan atau tidak."

__ADS_1


"Orang yang menjadi suamimu adalah bajingan, Cantik. Dia senang berpikir bahwa dia menguasai segalanya."


Rashi tertawa kecil. "Kamu mencoba membuat semuanya berputar." Lantas, dia beranjak. "Akan kuberitahu pada suamiku bahwa Samuel mencurigai Ema."


"Kamu akan memberitahuku itu benar atau salah?"


"Akan kujawab jika kamu menjawab ini. Apa yang suamiku inginkan?"


Samuel diam.


Itulah yang sulit.


Ia mencurigai Ema, tapi ia tak tahu kenapa Ema melakukannya. Ia merasa Mahesa Mahardika tidak akan sebodoh itu mengirim seorang pembunuh, membunuhi orang satu per satu lalu jika ketahuan maka biar saja.


Apa yang dia inginkan, Samuel belum bisa membacanya. Oto tidak akan lepas dengan strategi ini. Lalu kenapa?


"Oto adalah organisasi kecil namun berpengaruh besar. Orang-orang mengakui kalian meskipun mereka tidak tahu siapa kalian." Rashi melipat tangan seraya bersandar pada mejanya. "Jadi Samuel, bisakah kami membeli organisasimu?"


Ah, Rashi adalah lawan yang buruk. Dia tidak munafik, tidak licik, tidak jahat. Karena itu Samuel bingung harus membacanya seperti apa.


"Jika kukatakan akan kulepas dengan seluruh kekayaan Mahesa sekarang, kalian akan membayarnya?"


Tapi dia tertawa renyah. "Tentu saja tidak. Nominalnya tidak masuk akal. Akan kulepas dengan ... hmmm, lima puluh miliar dengan kamu bersamanya."


Samuel mendengkus. Harga yang sangat fantastis untuk sebuah tentara bayaran berjumlah sedikit.


Sejak awal ini hanya permainan kata. Karena Rashi tahu Samuel akan menjawab, "Oto milikku. Beritahu pada Mahesa. Aku akan membantunya, tapi tidak berada di bawa kendalinya. Itu caraku berterima kasih."


"Baiklah."


"Lalu bagaimana jika aku yang membeli informasi darimu? Akan kuberi lima miliar untuk dua kata jelas. Apakah Ema atau bukan?"

__ADS_1


Rashi sekali lagi tersenyum. "Kamu tahu aku tidak memperdagangkan sesuatu yang tidak pasti. Temui suamiku jika ingin."


...*...


__ADS_2